Rumah untuk Siwi
“Ada banyak derap langkah kaki di belakang, sebentar teramat jelas, lalu lamat-lamat, tapi kemudian kesunyian menyergap. Dengan takut-takut saya menengok, karena paham seharusnya saya merasa aman. Mas Sapto mengekor saya kurang dari sepuluh meter sedari tadi. Tapi, ternyata ….” Jantungku berdegup menanti kelanjutannya. “Mas Sapto hilang … tak ada siapa di belakang saya. Kosong. Sepi. … Read more
