f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
scrolling

Scrolling, Tentang Ketergantungan dan Peran Teladan Orang Tua

Faktanya, banyak sekali orang yang bergantung dengan ponsel. Seperti saat makan harus scroll Instagram atau Tiktok, waktu kosong dipakai untuk doom scroll. Bahkan, teman sekelas saya ada yang bermain game online battle royale ketika waktunya berdoa. Lebih parahnya lagi, saat mereka kalah, mereka berteriak dengan kata-kata kotor. Saya tidak nyalahin mereka, tapi memang fyp dan kebiasaan mereka scroll media sosial, tanpa sadar mempengaruhi asupan dan isi kepala mereka. Tak perlu heran kalau akhirnya brainrot adalah hal yang umum terjadi pada remaja saat ini.

Lupa waktu adalah salah satu dampak ketergantunan gawai. Sering kali saat saya mau mandi atau makan pasti selalu lupa karena terlanjur larut scroll, sampai akhirnya dimarahin Mama. Bahkan kemarahan Mama menjadi semacam alarm yang saya, gunakan sebagai patokan untuk mandi atau makan. Saat saya pulang sekolah, saya sering enggak langsung ganti baju maupun makan siang, tapi langsung doom scroll hingga mungkin ada 1 jam bahkan lebih. Dan ya, kalau tidak diingatkan untuk ganti baju pasti saya akan tetap berlama-lama doom scroll.

Dua paragraph di atas adalah tulisan anak saya yang saat ini duduk di kelas 7. Ya, dia sedang berada di masa remaja. Dia mengalami dan melihat sendiri betapa ketergantungan anak-anak seusianya terhadap gawai telah menjadi sesuatu yang perlu dia perhatikan.

Saya membaca tulisan itu sebagai seorang ibu, tetapi juga sebagai orang tua yang tiba-tiba merasa sedang bercermin. Persoalan gawai pada anak ternyata bukan hanya tentang anak yang terlalu sering memegang ponsel. Ada sesuatu yang lebih besar yang perlu kita perhatikan, yaitu kebiasaan keluarga.

Dalam tulisannya terebut, anak saya bertutur bahwa ketika ia terlalu lama scrolling, kemarahan saya sering menjadi semacam alarm untuk mengingatkannya mandi atau makan. Kalimat sederhana itu membuat saya berpikir. Betapa seringnya orang tua merasa sudah menjalankan tugas karena mengingatkan, menegur, bahkan memarahi anak. Jangan-jangan ya, kita ini sedang sibuk menjadi “alarm” karena belum benar-benar membantu anak membangun kendali atas dirinya sendiri.

Baca Juga  Benarkah Anak Manja Jadi Beban Orang Tua?

Kita berkata, “Sudah, HP-nya. Ayo, belajar!”. Padahal saat mengatakan hal tersebut, anak melihat kita masih sibuk menatap layar. Kita meminta anak tidak bermain ponsel saat makan, tetapi kita sendiri masih setia meletakkan gawai di sebelah piring sambil tangan sesekali membuka notifikasi. Kita meminta anak tidak terlalu lama berada di media sosial, sementara saat memiliki waktu luang, pilihan pertama kita adalah membuka media sosial. Nah, dua fakta terakhir, sepertinya saya banget deh itu (tepok jidat).

Di sinilah parenting terasa seperti perjalanan bercermin. Kadang yang perlu diperbaiki bukan hanya perilaku anak, tetapi juga kebiasaan kita sebagai orang tua.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa gawai adalah sesuatu yang buruk. Dunia anak sekarang memang berbeda. Bahkan tugas sekolah pun banyak yang dibagikan dan dikerjakan melalui gawai. Teknologi membuat banyak hal menjadi lebih praktis dan membantu anak belajar. Masalahnya bukan terletak pada benda bernama gawai, tetapi pada bagaimana kita menggunakannya dan seberapa besar ruang dan peran yang kita berikan kepada benda tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Anak-anak sekarang hidup dalam zaman yang penuh rangsangan, penuh dengan kesenangan dan kemudahan instan. Berbagai video pendek, notifikasi, game online, aplikasi dan berbagai konten tersedia hanya dengan satu sentuhan. Ketika sesuatu begitu mudah tersedia, tentu terasa sangat berat jika kemudian tiba-tiba kita menghentikannya. Akan diperlukan latihan dan pembiasaan yang tidak mudah dalam proses tersebut.

Dan proses tersebut tidak akan terjadi begitu saja hanya dengan kita mengatakan, “Jangan” dan “Tidak”. Anak membutuhkan contoh. Mereka membutuhkan orang dewasa yang menunjukkan bahwa bosan tidak selalu harus segera diisi dengan layar. Bahwa menunggu tidak selalu harus ditemani scrolling. Bahwa waktu makan bisa digunakan untuk berbicara. Dan bahwa sore hari bisa diisi dengan berjalan, bermain, membaca, menggambar, membantu pekerjaan rumah, atau sekadar duduk menikmati udara tanpa harus selalu mencari sesuatu dari layar.

Baca Juga  Mengapa Ibu Didahulukan Sebanyak Tiga Kali?

Bukankah anak belajar banyak hal bukan dari nasihat panjang, tetapi dari apa yang mereka lihat berulang-ulang? Karena itu, mungkin sudah waktunya kita berhenti melihat persoalan gawai sebagai semata-mata masalah ynag terjadi karena era, karena generasi anak sekarang memang generasi gadget.

Mari kita bertanya kepada diri sendiri. Berapa kali dalam sehari kita mengambil ponsel hanya karena merasa bosan? Apakah karena benar-benar sedang membutuhkan informasi, atau hanya sedang mencari sesuatu untuk mengisi kekosongan? Apakah kita benar-benar hadir saat anak bercerita atau hanya membuka telinga tapi mata tetap berselancar di layar?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak nyaman bagi kita para orang tua. Tetapi parenting memang tidak selalu tentang mencari kesalahan anak, kan? Kadang parenting adalah keberanian orang tua untuk mengatakan, “Mungkin ada kebiasaan saya yang juga perlu dibenahi.”

Perubahan kecil di rumah bisa dimulai dengan ponsel yang diletakkan saat sebuah percakapan sedang kita hadirkan. Mungkin juga bisa kita mulai dengan sebuah sore yang kita lalui dengan jogging atau berenang bersama anak. Atau mungkin sebuah momen ngopi sambil berbincang sebelum beranjak tidur malam. Banyak hal sederhana yang sebenarnya bisa kita hadirkan sebagai contoh bagi anak bahwa hidup ternyata bisa jauh lebih luas, lebih beragam dan lebih menyenangkan daripada layar di tangan kita.

Tulisan ini adalah sebuah renungan yang sangat klise, tapi entah mengapa saya sendiri marasa sangat tertampar saat menuliskannya.

Bagikan
Post a Comment