Berteman dengan Remaja Generasi Z
Setiap kali mengajar anak-anak kelas 9 saya selalu melemparkan cerita atau gurauan yang memancing mereka untuk akhirnya bercerita dan berkeluh kesah. Seperti sore ini, ketika seorang siswa mengatakan bahwa ada tugas untuk membuat paragraf tanggapan tentang kesehatan mental remaja, tiba-tiba siswa lain, Ririn, sebut saja begitu, nyeletuk bahwa dia pernah kena buly di sekolah.
Teman-temannya memanggilnya dengan nama ayahnya. Ketika dia menceritakan hal tersebut kepada ibunya, alih-alih mendapatkan pembelaan, ibunya justru mengatakan bahwa dirinya terlalu lebay menanggapi gurauan dari teman-temannya di sekolah.
Maksut hati ingin bercerita,berkeluh kesah, menumpahkan rasa kesal, tapi mendapatkan respon yang tidak asyik dari ibunya. Akhirnya Ririn memilih diam dan tidak pernah lagi bercerita banyak kepada ibunya. Dia memilih untuk memendam sendiri rasa kesalnya daripada malah mendapatkan tambahan kata yang membuat hatinya semakin jengkel.
Kita, para orang tua seringkali tidak menyadari bahwa anak-anak, terutama remaja sangat penting untuk ditemani. Tampilan yang sering terlihat di depan kita adalah mereka yang sepertinya ringan saja menjalani hidup, dan tak pernah ada beban yang ngribeti pikiran mereka.
Pada saat anak-anak ingin didengarkan ceritanya, yang terjadi malah sebaliknya. Merekalah yang justru harus mendengarkan curahan hatia orang tuanya (lebih seringnya curahan hati dari emaknya sih ya…)
Pernah gak sih bu, ketika anak pulang sekolah dan tiba-tiba nggelosor dan berkata, “ Capek banget. Mana tugas proyek belum selesai. Masih harus kerja kelompok”.
Kita yang mendengarnya bukan menenangkan malah menambah beban dengan berkata, “Gitu aja capek. Mama lho, bangun sebelum subuh, masak, beres-beres rumah, nganter sekolah, belanja, jemput sekolah, belum lagi nanti nganter les,…….”.
Biasanya keluhan kita malah bisa lebih panjang dari daftar belanjaan bulanan. Dan itu pun masih disambung dengan omelan dan daftar perintah juga lho. Hahaha.
Padahal mungkin anak kita hanya butuh tempat untuk didengarkan ceritanya tanpa ada niatan untuk mengeluh. Anak-anak sangat memahami bahwa mereka memiliki tanggung jawab dan kewajiban-kewajiban sebagai anak dan siswa sekolah. Tetapi mereka juga tetap sosok individu yang memiliki rasa lelah, penat dan ingin bercerita, just like anyone else .
Di sisi lain, sebenarnya mungkin orang tua juga tidak secara sengaja menanggapi curhatan dadakan dari anaknya tersebut dengan sikap dan perkataan yang kurang enak. Semua terjadi secara spontan, begitu saja.
Tetapi kemudian, ketika kedua belah pihak sama-sama berada pada kondisi ‘rawan’, yang terjadi kemudian adalah benturan. Anak merasa orang tua tidak peduli padanya, begitu pun orang tua berpikir bahwa anaknya tidak memahami kerepotan orang tua.
Masing-masing kemudian menjaga jarak. Mungkin berniat menghindari konflik, tetapi yang kemudian berkembang adalah kesenjangan komunikasi. Saling tertutup dan memilih berbicara seperlunya saat bertemu. Diceritain juga gak bakalan nyambung.
Mencari Tempat Bercerita di Luar Rumah
Merasa tidak mendapatkan tempat bercerita di rumah, kemudian anak mencari tempat atau sosok yang bisa mendengarkan mereka. Ada yang kemudian lebih nyaman curhat kepada teman, kakak, guru, pacar, bahkan mungkin malah ke media sosial. Nah lho….
Anak-anak generasi Z tumbuh dalam sebuah situasi dan kondisi yang memaksa mereka untuk secara instan harus memahami banyak hal. Dituntut harus bisa membaca dengan cepat dan harus dengan cepat pula memahami bacaan dengan tepat.
Jangan lupa, contoh dan apa kita yang disajikan kepada mereka di era ini adalah segala yang tiba-tiba ‘sukses’ dalam sekejap. Jadi ketika kita menyodorkan fakta bahwa keseharian kita itu berproses jungkir balik, koprol, salto bahkan kejungkel juga, itu adalah hal yang tidak sulit untuk mereka bisa paham.
Bukankah orang tua sendiri yang tidak merelakan anak-anak kesulitan? Bukankan orang tua sendiri yang sebisa mungkin tidak memperlihatkan kerepotan-kerepotan yang dialaminya?
Pernah ada orang tua salah satu anak les yang bercerita betapa paniknya dia ketika suatu hari mengantar anaknya sekolah, dan ada salah satu atribut sekolah yang diperlukan untuk kegiatan tambahan di hari itu ketinggalan. Padahal dia harus juga segera ke kantor.
Demi anak tetap bisa mengikuti kegiatan tambahan tersebut tanpa cela, si ibu ini secara ajaib berubah wujud menjadi Valentino Rosi, ngebut balik kanan kembali ke rumah untuk mengambilkan benda yang tertinggal tadi. Setelah itu kembali lagi ke sekolah anaknya, kemudian sesegera mungkin menuju kantornya.
Maksud hati agar anaknya tetap baik-baik saja, bisa mengikuti semua kegiatan di sekolah tanpa cela. Tetapi tanpa disadari, apa yang dilakukannya tidak akan membuat anaknya merasakan akibat suatu keteledoran.
Si anak akan merasa bahwa, tidak apa-apa ada yang terlupa, toh nanti ada mama yang mengambilkan lagi ke rumah. Apalagi jika setelah kejadian, tak ada penjelasan apa pun dari si ibu betapa montang–mantingnya dia gara-gara keteledoran anaknya.
Penting sekali adanya komunikasi dua arah, anak berbicara dan orang tua mendengarkan, begitu pula sebaliknya. Agar sama-sama memahami kerepotan serta kebutuhan dari masing-masing person yang ada di rumah. Agar kemudian anak-anak tidak ‘males’ lagi untuk berbicara kepada orang rumah (terutama ibu)
Masih cerita dari siswa les, “Aku juga kadang ribut sama mamah bu, tapi habis itu biasanya pas malam sebelum tidur, mama atau papa akan mengajak kita kumpul di kamar, cerita-cerita tadi kenapa kok ribut-ribut, terus maaf-maafan deh”.
Sepertinya hal itu bisa menjadi salah satu rekomendasi bedtime activities ya mom?
Ibu rumah tangga dan pemilik Bimbel Pintar
