Yang Kita Pungut dari Membaca
Sebagai jemaah Facebookiyah, saya gemar berselancar di beberapa postingan akun Facebook. Mulai dari postingan yang tampak nyeleneh, provokatif sampai dengan postingan akun Facebook yang saya anggap menggigit.
Istilah menggigit ini secara sengaja saya tujukan untuk menyebut postingan akun Facebook yang berdaging, menampilkan kualitas sekaligus mengandung gizi. Meskipun begitu, tetap saja hanya segelintir akun yang benar-benar mengandung nilai gizi sebagai jamuan sehat.
Tak terkecuali pada malam Senin, 08 November 2021, saya merasa bahagia karena mendapat jamuan yang sehat dari postingan akun Facebook Gus Nadirsyah Husein–yang beliau sendiri lebih suka menyebutkan namanya dengan akronim GNH–sementara selanjutnya saya menyebut beliau dengan Gus Nadirsyah. Gus Nadirsyah membuka tulisannya dengan dua pertanyaan kunci; “Saat kita membaca sebuah tulisan, apa yang kita cari dari bacaan itu? Sekadar hiburan? Atau hendak mendapatkan info baru?”
***
Idealitas tulisan tentu selalu di mulai dengan kegelisahan yang menumpuk dalam diri seorang penulisnya. Baik itu kegelisahan yang berangkat dari permasalahan personal, hingga kemudian berusaha mencari bentuk padanan dalam diri khalayak lain dengan titik tekan yang sama, terbentuklah persoalan kelompok. Untuk mempermudah, sebutkan saja kasus itu dengan persoalan induktif. Atau mungkin sebaliknya, kasus deduktif. Kegelisahan yang berangkat dari persoalan yang di idap khalayak umum lantas berusaha di terjemahkan menjadi permasalahan personal.
Dalam konteks tegas di mana letak kesadaran kita–sebagai konsumen tulisan– saat membaca itulah dua pertanyaan kunci yang di layangkan Gus Nadirsyah membuka jalan pada anak tangga pembahasan selanjutnya. Di mungkinkan pula, Gus Nadirsyah hendak mengajak pembaca untuk menyelami sedalam apa motif yang ada di dalam diri tatkala kita berorientasi pada aktivitas membaca.
Pendek kata, hemat saya, dua pertanyaan tersebut sedang menggiring ketertarikan, fokus dan kesadaran pembaca untuk meninjau kembali setiap motif dan tujuan yang ada di dalam diri atas aktivitas membaca. Apakah benar-benar telah memberikan kontribusi terhadap diri atau justru sekadar untuk alakadarnya, jenaka.
Memulai tulisan dengan melontarkan pertanyaan sendiri adalah satu bentuk keterbukaan interaktif. Mengapa demikian? Sebab pertanyaan di permulaan itu yang berwujud sebagai undangan penyeragaman cara berpikir antara ide yang hendak di sampaikan oleh penulis dengan pembaca yang di mungkinkan telah memiliki persepsi tersendiri terhadap topik.
Pengajuan pertanyaan itu pula yang mendudukkan kedua belah pihak berdiri pada garis yang sama meskipun berbeda peran. Penulis sebagai pihak penjelas gagasan, sementara pembaca berusaha memahami sejauh mana gagasan itu di sodorkan. Walaupun di lain sisi; reduksi makna, pemahaman dan kemampuan mencerna yang berbeda-beda tidak bisa di hindarkan.
Selain mengajukan pertanyaan, sebenarnya masih banyak lagi cara kita membuat awalan tulisan yang menarik dan menggiurkan (red; memacing rasa penasaran). Misalnya saja, kita membuka satu pembahasan tertentu dengan menampilkan kutipan, hasil analisis data, menyebutkan opini, bentuk kalimat ekspresionistik dan lain sebagainya.
***
Kembali ke pembahasan, uniknya pengajuan pertanyaan dalam tulisan itu secara dingin dan dini langsung di ikuti dengan bocoran jawaban yang harus di raih oleh pembaca. Lah kok bisa? Bukankah sudah menjadi hal umum yang berlaku, setiap jawaban itu selalu di jadikan sebagai konklusi dalam suatu tulisan yang membahas topik tertentu? Namun untuk kali ini Gus Nadirsyah membuat hal itu tampil berbeda.
Gus Nadirsyah menyebutkan ada tiga hal yang harus kita cari dari suatu tulisan, yakni jiwa, imajinasi dan energi yang di tuangkan oleh penulis ke dalam tulisannya. Bukankah demikian? Jika benar, logikanya seperti apa?
Pada dasarnya, setiap torehan kata, untaian kalimat dan rangkaian paragraf yang terhempas dari jemari penulis tidak lain adalah racikan dan perasan bahasa dua unsur penting di dalam diri manusia; otak dan jiwa. Di satu sisi, tulisan itu pada mulanya berasal dari pancaran ide yang di proses secara sistematis dengan mengandalkan fungsi otak sehingga menghasilkan tatanan kata yang logis, membentuk struktur dan standardisasi yang berlaku dalam bahasa.
Sementara di sisi lain, dalam proses panjang transformasi ide menuju tulisan itu juga turut melibatkan pertimbangan aspek emosional dan psikologis penulisnya. Utamanya tatkala kita kebelet menungkan tulisan yang menyentuh pengalaman sensibilitas panca indera. Seperti halnya kita hendak menceritakan rutinitas sehari-hari, kisah hidup atau mungkin mengulas topik krusial yang sifatnya sensitif. Alhasil, kita dituntut untuk berhati-hati–melibatkan nurani dan jiwa–dalam menulis supaya tidak sampai menyakiti siapapun yang berperan sebagai pembaca.
Setiap kalimat yang kita buat sudah seharusnya bertumpu pada kepekaan rasa. Bagaimanapun, faktanya, genre tulisan yang banyak digandrungi adalah yang memberi ruang komunikasi interaktif antara jiwa penulis dan pembaca. Karya novel misalnya. Terus, bagaimana dengan karya non fiksi, apakah bisa kita menemukan jiwa penulisnya dalam karya? Tentu bisa. Sebab, penulis yang baik dan cakap akan menuangkan jiwa pemilik kata kepada setiap pembacanya.
Tampaknya kita harus memahaminya secara mendasar, bahwa dalam konteks ini, jiwa dalam pandangan Gus Nadirsyah artinya tidak hanya maksud, tujuan dan latar belakang yang hendak disampaikan penulis, melainkan kondisi terdalam yang mengguncang diri seorang penulis. Atas dasar itu pula, beliau menyebutkan tulisan sebagai bagian jiwa dari penulis yang dipasrahkan nasibnya kepada pembaca.
***
Analoginya seperti kita membeli buku. Tatkala kita membeli buku tidak serta-merta kita hanya membeli bentuk fisiknya; kertas dan ceceran tinta yang tertata. Melainkan, sebenarnya kita juga sedang transaksi sudut pandang. Sedang bertukar pikiran. Sedang membuka ruang atas jiwa yang penulis berikan. Sedangkan upaya kita memahami isi buku secara keseluruhan adalah jalan kita menyelami jiwa yang penulis sisipkan.
Bukan hanya harus menemukan jiwa penulisnya, sudah selaiknya pembaca juga meraih imajinasi yang penulis sodorkan. Artinya tulisan yang apik akan mengajak pembacanya untuk melalang buana dalam berimajinasi. Tidak hanya sebatas mengarungi gagasan penulisnya, melainkan menyusuri setiap tepian akar masalah yang menjadi pijakan penulis sehingga secara sadar ataupun tidak mendorong imajinasi pembaca untuk berkembang. Di saat imajinasi penulis dan imajinasi pembaca bertemu itulah menurut Gus Nadirsyah misi dari terciptanya karya tulis itu tercapai.
Terlebih lagi, tulisan yang dahsyat itu akan senantiasa menciptakan imajinasi yang bervariatif tatkala kita membacanya berulang-ulang. Membaca tulisan berulang-ulang justru akan memancing kreativitas dan memunculkan ide yang beranak pinak. Bukan sebaliknya, membuat pembacanya merasa; bosan, pusing dan ngantuk.
Masalahnya, apa ada tulisan yang demikian? Oh, tentu saja ada. Misalnya, ambil saja contoh yang pernah saya alami sendiri. Pernah satu ketika saya membaca novel maha karya Eka Kurniawan dengan judul Cantik Itu Luka. Membaca buku itu berulang kali saya hampir dibuat melongo, sebab setiap kali membacanya selalu membangkitkan imajinasi yang berbeda-beda, baik itu dari sudut pandang ataupun pola keterhubungan antara maksud tulisan dengan ruang lingkup pembacaan konteks melalui pendekatan keilmuan yang kompleks. Dan pada kenyataannya, pembacaan atas buku tersebut telah menggerakkan saya untuk mereview buku itu.
***
Selanjutnya saya sepakat dengan pernyataan epik Gus Nadirsyah, bahwa imajinasi itu tetap abadi meskipun penulisnya telah tiada. Keabadian imajinasi itu pula yang menjadi alasan mengapa penulis tetap dikenang dan selalu hidup di benak pembacanya meskipun itu telah ribuan tahun dan melintasi zaman adanya. Sementara mereka yang tampak tidak sependapat dengan gagasan dan tidak senang dengan kelahiran tulisan tersebut hanya akan menelan ludah kekecewaan.
Bagaimana tidak coba? Mungkin masing-masing kita pernah mendengar mengenai kemasyhuran suatu karya yang tetap eksis hingga kini, sebutkan saja kitab Ihya Ulumuddin contohnya. Dan pastinya masih banyak lagi buku lain yang imajinasinya tetap abadi hingga menstimulus lahirnya deretan karya terbaru.
Sementara yang terakhir, pembaca juga harus mampu meresapi energi yang ditebar oleh penulisnya. Tidak terhitung jari, betapa banyak penggemar berat karya tulis hanya terjerat oleh gaya kalimat yang kuat. Formulasi gaya kalimat yang kuat tidak jarang hanya sekadar menjadikan pembaca sebagai penikmat tanpa menuai hakikat. Membaca tulisan karena terpesona gaya penataan kata hanya memposisikan diri pembaca sebagai pengeja kata tanpa jeda.
Padahal, seorang pembaca sejati harus mengetahui bahwa kapasitas dan intensitas penerimaan terhadap energi yang ditebarkan penulis ke dalam tulisan juga turut menentukan sejauh mana makna tulisan yang dapat direngkuh pembaca. Lantas bagaimana ciri tatkala kita benar-benar telah mampu meresapi energi dari suatu tulisan? Gus Nadirsyah menyebutkan tiga ciri utama; “merasakan ada yang menari-nari di kepala, ada yang membuat bergetar di hati dan seperti ada kilatan listrik di aliran darah.”
Ditemukan jiwa, imajinasi dan terserapnya energi yang ditebarkan penulis dari tulisan yang kita baca pada akhirnya akan mengejawantahkan diri sebagai tradisi merawat akal sehat, meningkatkan kreativitas dan menjernihkan kesadaran diri pribadi untuk menajamkan potensi hingga melahirkan karya.
***
Di lain pihak, saya juga meyakini bahwa proses memungut jiwa, imajinasi dan energi yang di tuangkan penulis dalam tulisan juga banyak di pengaruhi faktor internal dan eksternal, tidak terkecuali teknik membaca apa yang di gunakan oleh pembaca. Apakah itu menggunakan teknik skimming, scanning, selecting atau mungkin skipping.
Sampai di sini, rasanya saya benar-benar ingin menguliti dan menghakimi diri sendiri: selama ini, kira-kira apa saja yang telah kita pungut dari aktivitas membaca? Sudahkah apa yang kita baca mengantarkan kita pada hakikat purna sebagai manusia? Atau mungkin semua proses membaca itu hanya menyisakan remah yang hanya memuai begitu saja.
Tulungagung, 6 November 2021
Editor: Iefone Shiflana Habiba
Penulis adalah lulusan Pascasarjana IAIN Tulungagung. Beberapa coretan penanya sering nangkring di kompasiana.com, qureta.id, tokohpopuler.com, kaskus.id dan artikula.id. Untuk lebih dekat, silakan sapa penulis di akun Fb, Ig dan Twitter dengan nama Dewar Alhafiz.

Moch diva Arya putra hanjaya
Yg kita pungut dari membaca
Mengajak pembaca / untuk menyelami sedalam apa motif yg ada di dalam diri tatkala kita berorentasi pada aktivitas. Membaca untuk meninjau kembali setiap motif dan tujuan yg ada didalam atas aktifitas membaca.Pembaca harus mampu meresapi energi yg diterbarkan oleh penulisan .