Eric Fromm: Hasrat Ingin Dicinta yang Membelenggu Kita
Sebuah buku berjudul Seni Mencinta karya Eric Fromm membuat saya tertarik. Kita kadang berpikir bahwa mencinta adalah sesuatu yang mudah. Padahal sebaliknya, Eric Fromm mampu menyajikan sudut pandang yang tak kita sadari. Banyak orang melakukan sesuatu agar dicinta. Misal, orang berusaha tampil rapi dan bersih agar orang menyukainya. Sebaliknya jika kita berpenampilan tak rapi, beberapa orang tak suka.
Pada dasarnya, segala hal yang kita lakukan bertujuan agar kita dapat dicintai. Melakukan sesuatu agar kita menjadi orang yang dicinta itu hal yang mudah. Kita tinggal berbuat apa yang pada umumnya menjadi kesukaanya. Tersenyum meski kita tak ingin, bersikap ramah meski dikasari orang, memaafkan meski berkali-kali disakiti. Mudah sekali bagi kita untuk berpura-pura baik-baik saja. Tapi sulit sekali kita untuk jujur pada diri sendiri.
Misalkan ketika kita kecewa, lalu doktrin yang ada mengharuskan kita tak boleh kecewa. Lalu kita mengatakan bahwa kita baik-baik saja. Kita memaksa diri baik-baik saja meski sebenarnya hati terus menolak itu. Lalu kita masih sibuk dengan segala hal yang terus membuat kita kecewa sambil berkata semua akan baik-baik saja.
***
Semua orang ingin menjadi baik, setidaknya terlihat baik. Akibatnya semua saling menuntut untuk menjadi baik. Padahal tak ada di dunia ini yang berjalan baik-baik saja. Kecewa, marah, dan sakit hati adalah hal yang wajar. Lantas ketika kita disakiti, apakah kita tetap harus mengatakan baik-baik saja? Bersikap biasa saja kepada orang yang berkali-kali menyakiti kita? Untuk apa? Agar orang tetap menyukai kita? Karena doktrin agama dan norma sosial mengharuskan begitu?
Jika doktrin agama dan norma sosial mengatakan begitu, apakah kita tetap harus melakukannya meski kita tersakiti? Jika semua orang menyukai kita karena kita selalu baik, apakah kita bahagia? Apakah bisa kita bahagia dengan terus memaksa, menekan, dan meyakinkan bahwa diri kita baik-baik saja?
Kita memaksa diri kita untuk menolong seseorang karena norma dan agama mengatakan demikian. Faktanya kita sendiri terkadang tak sanggup untuk menolong, apakah kita harus menolong? Misal teman kita meminta tolong untuk diantar, padahal kita tak sanggup mengantar.
Atas nama persahabatan dan tak ingin naantinya dibenci, kita paksa diri kita untuk mengantar. Apakah itu baik? Tidak. Hal itu adalah kezaliman. Yaitu kezaliman pada diri sendiri. Melakukan semua hal untuk orang lain lalu mengorbankan diri sendiri adalah suatu kezaliman. Orang yang pertama harus kita cintai, perhatikan, hargai, dan jaga kesehatannya adalah diri kita sendiri.
Kita terlalu sibuk menyenangkan orang lain agar orang lain menyukai kita dan encintai kita. Tapi kita lupa mencintai diri kita sendiri. Tak ada kewajiban kita untuk menyenangkan orang lain. Melakukan pencitraan demi mendapat pengakuan orang lain. Jadi apapun yang dilakukan jika membuat kita tak nyaman, ya jangan lakukan. Sebaliknya lakukan apa pun yang akan membuat kita bahagia.
Karena itu bentuk dari bagaimana kita mencintai diri kita sendiri. Ketika kita mencintai dan menghargai diri sendiri kita akan bahagia. Secara tidak langusng kita juga kan membahagiakan orang lain. Orang yang bahagia akan menyebarkan cinta kasih tanpa pamrih.
***
Jika kita sudah sehat dan bahagia maka kita bisa menebarkan kebaikan pada orang lain. Kita tak bisa seperti Nabi yang selalu baik kepada orang yang menyakiti beliau. Kenapa? Karena Nabi memiliki tingkat spiritualitas yang berbeda dengan kita. Kita bisa mencapai bersikap demikian jika spiritualitas kita sudah tinggi.
Lantas bagaimana caranya? Ya tentu dengan mencintai diri kita sendiri. Karena dengan menghargai dan mencintai diri kita, kita akan bahagia. Jika kita bahagia kita akan menebarkan kebahagiaan itu dengan kebaikan-kebaikan. Kita juga bisa mencintai orang lain tanpa mengharap balasan. Dengan kata lain, kita hanya mencinta tanpa perlu dicinta.
Sebagaimana cinta Tuhan pada makhlukNya, cinta Nabi pada umatnya. Cinta Tuhan pada makhlukNya adalah cinta yang tak mengharap balasan. Apa pun Tuhan berikan untuk makhlukNya, namun Tuhan tak berharap apa pun dari makhlukNya. Dengan kasih sayangNya, Ia penuhi segala kebutuhan makhlukNya. Namun, ia tak pernah meminta makhlukNya untuk bersyukur kepadaNya, bahkan Ia juga tak marah jika makhlukNya menyimpang.
Selama ini, jika motif kita berbuat sesuatu itu karena ingin dicinta, maka lebih baik kita tinggalkan. Lebih baik kita fokus pada diri sendiri. Tak perlu peduli apa pendapat orang lain, atau pun doktrin agama dan norma sosial. Karena tak ada seorang pun yang boleh merusak kebahagiaan kita.
Mau itu dianggap baik atau tidak, selama itu membuat kita nyaman maka kita boleh melakukannya. Namun yang saya maksud disini adalah hal yang pada umumnya dianggap tak baik. Seperti tidak tersenyum, kecewa, marah terhadap orang lain. Tidak menyapa, tidak sok akrab, dsb. Selama tidak merugikan orang lain maka itu baik-baik saja.

Seorang mompreneur, founder and teacher tahsinonlinebenome.
