Jihad Menangkal Kebiasaan Soliter
Memasuki usia dua tahun, anak saya mulai aktif-aktinya. Dia makin tertarik dengan dunia luar. Begitu melihat anak-anak sekitar sedang bermain dia merengek ingin ikut. Setiap main di rumah tetangga dia tak mau pulang. Pokoknya, anak saya tak bisa melihat pintu gerbang terbuka sedikit, pasti langsung keluar.
Tapi semua berubah ketika pandemi melanda, anak saya tak saya ijinkan keluar untuk bermain. Apalagi jika ada berita di lingkungan rumah kami bahwa si anu sakit, si itu meninggal, atau yang sana positif. Jelas ada kekhawatiran seandainya anak saya melakukan interaksi dengan orang.
Awalnya sangat sulit membiasakannya agar betah di rumah. Satu dua bulan berlalu, kami masih berjuang. Setelah lebih dari sembilan bulan kami nampaknya berhasil: dia tak lagi merengek minta keluar untuk bermain dengan anak lain. Segala mainan, tayangan TV, taman untuk bermain, hingga ikan peliharaan dan kucing yang sering main ke rumah sudah cukup menghibur dan membuatnya betah. Dia bahkan tak lagi mengajak bermain bola di lapangan, padahal dulu itu adalah ritualnya tiap pagi.
Tapi dari sini kegelisahan saya pun muncul. Saya sedih di usia emasnya dia harus terkungkung di rumah. Padahal dia harusnya mulai mengenal kehidupan sosial komunal, memahami keberadaan orang lain dan harusnya lebih asik bermain dengan teman-temannya. Saya merasa ini bisa menjadi sebuah kerugian bagi tumbuh kembangnya.
Kita pun tahu ada banyak orang tua lain mengalami hal serupa, ada ribuan anak lain yang terpaksa memapankan diri hidup di rumah saja. Dan, kita tahu akibatnya banyak anak kian berkarib dengan gawai sebagai solusi jahat kebosanan selama lock down mandiri di rumah.
***
Para orang tua belajar bahwa tanda anak yang sehat adalah gerak. Bayi dalam kandungan aktif menendang-nendang, kemudian meronta dan menangis ketika lahir ke dunia. Anak yang lincah bermain kesana kemari adalah anak yang baik pertumbuhan motorik dan psikologisnya.
Dalam pertumbuhannya mereka harus mengeksplorasi dunia yang seharusnya serba baru dan menarik bagi mereka. Anak-anak itu pun makin antusias ketika melakukannya bersama orang lain atau sebayanya. Bermain bersama kawan-kawan membuat mereka gembira melebihi aktivitas di rumah bersama orang tua yang lama-lama membuat mereka bosan. Menurut para ahli, hal ini baik sebab melatih anak bersosialisasi, berkomunikasi, berekspresi, berbagi, percaya diri, serta meningkatkan kecerdasan emosi.
Tapi selama pandemi mereka kehilangan masa-masa ini. Anak-anak dengan usia
emas untuk belajar dunia luar justru makin betah-betah saja di rumah. Di masa pandemi ketika mengurangi interaksi antar manusia menjadi sebuah kebiasaan yang dimaklumi bahkan dianjurkan, kita harus waspada anak-anak pun akan lebih nyaman hidup soliter.
***
Jauh sebelum pandemi, sebenarnya kita sudah menghadapi masalah seperti ini. Orang tua yang sibuk mencari nafkah, lingkungan perkotaan yang kurang guyub, efek dari hiburan televisi yang melenakan, dan kemudian ada ancaman dari gawai yang menyebabkan berkurangnya aktivitas fisik anak.
Pemerintah bahkan pernah menginisiasi pelarangan penggunakan gawai oleh anak. Salah satu dalilnya ya karena penggunaan gawai menyebabkan anak hidup soliter. Namun peraturan seperti ini bak mission impossible, sulit mencegah anak tak menggunakan gawai saat kita sebagai orang tua pun kecanduan. Dulu para orang tua repot menyuruh anak-anaknya yang terlalu asik bermain di luar untuk pulang ke rumah, sekarang kita berjuang mendorong anak mau bermain di luar.
Satu-satunya yang dapat kita gantungkan adalah sekolah sebab ia adalah ekosistem di mana anak dapat berinteraksi secara intens dengan orang lain. Lingkungan tetangga menjadi pilihan kedua. Kita mengajak anak berinteraksi dengan kerabat, tetangga dan anak-anak lain. Tapi, kini semua itu menjadi lebih sulit dilakukan selama pandemi.
“Ya lagi-lagi semua tergantung upaya dan kreatifitas orang tua agar anak mereka asik belajar di rumah dan tumbuh kembangnya optimal”. Demikian kurang lebih solusi yang sering kita dengar. Tapi sungguh naif, kita harus akui tak semua orang tua punya kemewahan waktu, energi atau kemampuan untuk melakukan itu.
Sebagian orang tua bahkan terpaksa menggantikan kehadiran mereka dengan kucuran fasilitas, hiburan, dan mainan tiada henti demi membuat anak mereka senang dan bahagia. Akhirnya, galib kita saksikan tontonan youtube dan TV lebih menarik bagi anak-anak daripada bermain bola dan berhujan-hujan ria. Gawai dan game lebih mengasikkan daripada berlari-larian dengan kawan. Mereka diasuh dan dibesarkan oleh dunia maya.
Anak-anak itu memang tetap akan tumbuh besar. Tapi bisa jadi mereka melewatkan banyak hal dalam hidupnya. Kalau boleh menganalogikan, sebaik apapun kita merawat seekor burung, meski ia tumbuh besar, sehat dan cantik, tentu berbeda dengan burung yang bermain di dahan-dahan pohon dan terbang di alam bebas.
Bekerja di Direktorat Jenderal Kebudayaan. Minat pada kajian sosial budaya.
