f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
politik

Project Based Learning: Solusi Belajar Efektif dari Rumah

Oleh : Nirwana

Beberapa waktu yang lalu Forum Alumni AIMEP (Australian Indonesia Muslim Exchange Program) menginisiasi sebuah diskusi online dengan tema Project based learning sebagai solusi belajar ala rumahan selama pandemi. Sebagai moderator, saya tertarik untuk menuliskan ini karna mungkin tidak banyak yang bisa menyaksikan langsung digital live series tersebut, meskipun siaran langsungnya masih bisa di akses di youtube channel Forum Alumni AIMEP

Selain sebagai bagian dari semarak hardiknas, tema ini juga didasari oleh realitas pembelajaran jarak jauh selama pandemi yang berjalan tidak efektif, dan justru banyak menjadi beban bagi anak dan orang tua.

Hal yang menjadi soal adalah kondisi dimana orang tua juga dituntut untuk hadir dalam mendampingi anak-anak mereka untuk menuntaskan berbagai tugas Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Padahal, tidak semua orang tua siap dan mempunyai kompetensi yang cukup baik dalam mendampingi anak-anak mereka selama menuntaskan PJJ, maupun kompetensi pedagogik dan akademiknya. Ditambah lagi, beberapa orang tua yang masih harus sibuk bekerja meski mereka secara fisik berada di rumah, sebagai konsesunsi dari pelaksanaan Work from Home (WfH).

Yanuardi Syukur, ketua Forum Alumni AIMEP memberikan pengantar awal  pada diskusi ini dengan ulasan yang menarik bahwa sejatinya dalam Al Qur’an telah disampaikan, pembelajaran yang terbaik adalah pembelajaran yang berasal dari rumah, sebagaimana kisah Luqman dalam alquran yang mengajarkan  tauhid kepada anaknya.

Lebih lanjut, Pak Yan menyampaikan bahwa ada 3 potensi utama yang harus dimaksimalkan dalam memberikan pendidikan kepada anak. Pertama, yakni potensi akal atau intelektual agar mereka bisa membaca fakta sosial disekitar mereka. Kedua, potensi emosional atau hati agar anak tumbuh dengan sikap  jujur dan memiliki rasa empati. Ketiga adalah potensi jasad agar bisa memaksimalkan proses pembelajaran pada anak,  orang tua harus mampu mengidentifikasi kecenderuangan anak dalam belajar agar mampu memberikan metode terbaik dalam mendampingi anak belajar dari rumah. Sehingga apabila ketiga hal ini menjadi perhatian orang tua maka proses belajar dari rumah tentu akan menjadi hal yang  bermakna dan menyenangkan.

Baca Juga  Merdeka Belajar: Jangan Berhenti Belajar Meski Masa Pandemi

Faktanya,  kebijakan stay at home selama pandemi menjadi semacam culture shock  bagi sebagian besar masyarakat kita, dari sisi psikologi tidak sedikit di antara mereka yang mengalami stress karena dibatasi untuk berinterakasi dengan orang lain, tidak boleh kemanapun dan pembatasan lainnya,  dari sisi sistem  pendidikan yang jalankan selama pandemi yakni proses pembelajaran jarak jauh.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melakukan survey mengenai pembelajaran jarak jauh dengan melibatkan 1700 responden, dan hasilnya 76,7%  anak – anak yang belajar dari rumah mengatakan bahwa mereka merasa tidak  bahagia,  dan hanya  23,3 % yang cukup bahagia mengerjakan tugas di rumah, hal lain yang menjadi pertanyaan survey adalah kesulitan apa yang mereka hadapi selama belajar dari rumah, dan hasilnya adalah   77,8 % mengakui bahwa  kesulitan yang mereka hadapi yakni banyaknya  tugas yang menumpuk dan selebihnya merasakan bahwa mereka tidak memiliki cukup waktu untuk mengerjakan tugas – tugas dari guru selama di rumah.

Selain fakta di atas, setidaknya ada tiga point penting yang dijabarkan oleh Hidayatul Mabrur  (Alumni AIMEP 2019), sebagai narasumber utama dalam diskusi ini yang pertama adalah konsep teoritis dari Project Based Learning. Sejatinya  konsep PBL cukup familiar dengan masyarakat karena model ini adalah salah satu model pembelajaran yang disarankan untuk diterapkan dalam kurikulum 2013 yang hari ini dipakai oleh hampir seluruh level satuan pendidikan di Indonesia.

PBL merupakan kegiatan interaksi antara stimulus dan respons, yang merupakan hubungan antara dua arah belajar dan lingkungan. Di mana lingkungan memberi masukan kepada  anak  berupa  bantuan  dan  masalah,  sedangkan  sistem  saraf  otak berfungsi menafsirkan bantuan itu secara efektif sehingga yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai dan dianalisis, serta dicari pemecahannya dengan baik.

Baca Juga  Revolusi Teknologi Digital dan Dampak Terhadap Perekonomian (Part 1)

Menurut Stalker ada 3 bentuk PBL yang bisa digunakan oleh orang tua dan guru yakni pola struktur (guru menentukan bahan dan topik, siswa mengikuti apa yang sudah didesain oleh guru), pola tidak terstruktur (siswa berinisiatif mencari problem sendiri, menganalisis dan memecahan sendiri guru hanya mendampingi), pola ketiga adalah semi struktur yakni gabungan dari kedua pola sebelumnya.

Model pembelajaran PBL di nilai paling efektif karena  outputnya dapat menggabungkan 3 capaian pembelajaran yakni kognitif, afektif dan psikomotorik, bukan hanya menstimulus anak untuk berfikir kreatif, tapi juga mengajarkan mereka untuk bersosialisasi dengan teman dalam mengkomunikasikan projeknya, serta mengasah  psikomotorik untuk mempertanggungjawabkan projek yang mereka buat. Dari tipenya PBL ini terbagi menjadi 2 yakni yang berbasis project dan berbasis kinerja atau aktivitas. Sehingga pelaksanaannya bisa disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan ketika akan di terapkan di rumah.

Kedua, implementasi PBL jika dilakukan di rumah, oleh narasumber disampaikan bahwa, hal pertama yang harus dilakukan oleh orang tua untuk mengefektifkan pembelajaran di rumah adalah memperbaiki mindset atau paradigma orang tua mengenai tahapan perkembangan dan pertumbuhan anak, agar pada saat menerapkan PBL di rumah dapat berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.

Tentu dalam menerapkan PBL di rumah berbeda halnya dengan penerapan disekolah yang dituntut untuk melakukan evaluasi untuk melihat project. Umumnya bentuk PBL yang diterapkan di rumah adalah bentuk yang tidak terstruktur sedangkan tipenya berdasarkan kondisi bisa berbasis kinerja maupun produk. penerapan PBL di rumah selama pandemi bisa dilakukan dari kegiatan sehari – hari misalnya pada saat memasak, ibu bisa mengajak anak untuk membantu dengan mengerjakan hal – hal kecil seperti memotong sayuran sesuai petunjuk yang diperlihatkan sebelumnya atau  merapikan  mainan dengan baik. 

Baca Juga  Dua Butir Berlian dan Lethina

Poin ketiga yang disampaikan adalah memastikan tahapan  pembelajaran dan aktivitas sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak sebagai hal terpenting yang harus dilakukan dalam penerapan PBL di rumah.  Adapun tahapannya, pertama adalah  adalah perencanaan (menentukan apa yang harus dilakukan serta melakukan pembagian tugas yang tepat kepada anak dan anggota keluarga lain yang ingin berpartisipasi), komunikasi ( menyampaikan bagaimana pembagian tugas dengan Bahasa yang mudah dipahami), implementasi (melaksanakan projek sesuai perencanaan ), refleksi dan apresiasi(mengambil nilai dari proses pembelajaran dan memberikan apresiasi kepada proses yang telah dilalui oleh anak).

Melihat konsep dan implementasi model pembelajaran ini, sesungguhnya para orang tua mungkin sudah sering menerapkan di rumah baik dalam bentuk struktur maupun tidak terstruktur namun bisa jadi tidak dilakukan dengan tahapan yang benar dan sempurna, dari materi ini kita bisa memperbaiki proses pendampingan anak belajar di rumah agar bisa menjadi efektif . anak bisa mendapatkan pelajaran dan merasa senang dan disisi lain orang tua tidak merasa terbebani dan dapat  mengajarkan anak banyak hal tanpa harus dipaksakan. [m]

*Nirwana: Alumni AIMEP 2019, aktivis perempuan muda Sulawesi Selatan

Project Based Learning: Solusi Belajar Efektif dari Rumah : Ulasan Diskusi Online seri ke 6 Forum Alumni AIMEP

Bagikan
Post a Comment