f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Perempuan palestina

Perempuan Palestina Melawan Okupasi Israel

Okupasi Israel di tanah Palestina telah memicu perlawanan yang gigih dari seluruh lapisan masyarakat Palestina. Dalam konteks ini, perlawanan tersebut tidak terbatas hanya pada partisipasi kaum laki-laki, melainkan juga melibatkan peran aktif perempuan. Tindakan diskriminatif tentara Israel berdampak pada hak-hak perempuan di Palestina.

Mulai dari hilangnya hak-hak mendasar, termasuk hak atas kesehatan, pendidikan, pekerjaan yang layak, dan standar hidup yang memadai. Pembatasan pergerakan menyulitkan akses perempuan Palestina ke pelayanan kesehatan yang penting, terutama bagi ibu hamil. Hal ini meningkatkan risiko komplikasi kehamilan yang dapat membahayakan ibu dan bayi yang belum lahir.

Sementara itu, pembatasan pergerakan juga mempengaruhi perempuan Palestina dalam mencari pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi dan kemampuan mereka. Keterbatasan mobilitas oleh tentara Israel dapat menciptakan ketidaksetaraan ekonomi laki-laki dan perempuan melalui intimidasi dan pelecehan seksual.

Dalam perspektif Islam, perempuan dan laki-laki memiliki kedudukan yang setara. Perlu upaya untuk mengatasi diskriminasi pada perempuan Palestina dan mendukung hak-hak mereka dalam perjuangan melawan Zionis Israel.

Dari Gaza hingga Tepi Barat: Inspirasi Perempuan Palestina

Tanggal 2 November 1917, Arthur Balfour mengeluarkan deklarasi Balfour kepada Baron Walter Rothschild, seorang tokoh Yahudi. Pernyataan tersebut menyatakan bahwa pemerintah Inggris mendukung pembentukan tanah air nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina. 

Perempuan Palestina menanggapi dengan melakukan kampanye dan demonstrasi menentang Deklarasi Balfour. Perempuan Palestina tergabung dalam gerakan seperti Palestine Arab Women’s Congress dan Union of Palestinian Women Committee. Sementara beberapa perempuan Palestina bergerak secara independen. Contoh perempuan yang terlibat dalam perlawanan langsung di medan konflik meliputi Ahed Tamimi, Leila Khaled, Razan Al Najar, dan lainnya.

Leila Khaled, seorang perempuan Palestina terkenal karena perannya dalam pembajakan pesawat terbang milik Israel pada tahun 1969 dan 1970 sebagai bagian dari gerakan PFLP (Front Populer untuk Pembebasan Palestina). Leila Khaled berdemonstrasi dengan menekankan perdamaian untuk meraih kemerdekaan.

Baca Juga  Menjadi Bapak Rumah Tangga yang Asyik

Selain Leila Khaled, seorang perempuan Palestina bernama Ahed Tamimi telah dengan berani melindungi keluarganya dari penyergapan oleh tentara Israel dengan cara menampar seorang tentara Israel yang bersenjata di depan rumahnya.

Akibat Deklarasi Balfour dan okupasi militer Israel yang berkepanjangan, perempuan Palestina bersama laki-laki berperan aktif dalam inisiatif sosial dan politik melalui dialog, diplomasi, dan kesepakatan internasional untuk mengatasi dampak okupasi Zionis Israel. Perempuan Palestina mendirikan organisasi-organisasi wanita, pusat kesehatan, dan lembaga pendidikan untuk memberdayakan komunitas mereka dan mempertahankan budaya serta identitas Palestina.

Al Qur’an dan Perang dalam Konteks Perlindungan dan Kedamaian

Dalam Islam, berperang hanya diizinkan dalam keadaan terdesak dengan tujuan menciptakan keamanan dan kedamaian, sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an Surat Al-Hajj ayat 39.

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَٰتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا۟ ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ

Artinya: “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu”.

Dalam ayat ini menekankan pentingnya perang sebagai tindakan terakhir untuk melindungi diri, keluarga, dan umat, dan bukan sebagai tujuan akhir. Ini adalah prinsip dasar dalam agama Islam yang mendorong perdamaian dan hanya mengizinkan perang sebagai upaya terakhir untuk menjaga keadilan dan keamanan. Selain itu, Al-Qur’an juga mengizinkan perang sebagai bentuk pertahanan terakhir terhadap penindasan agama. 

Allah Subhanahu Wa ta’ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah (2:190):

وَقَٰتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ٱلَّذِينَ يُقَٰتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُعْتَدِينَ

Artinya : “Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, tetapi jangan melewati batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”.  

Dalam ayat ini, perintah berperang ketika ada penindasan terhadap agama, dengan catatan perang harus dilakukan dengan mematuhi batas-batas yang ditetapkan oleh-Nya, dan tidak boleh melewati batas-batas etika dan kemanusiaan.

Baca Juga  K.H Ahmad Dahlan dan Kaum Perempuan

Perempuan Palestina yang terlibat dalam perlawanan tanpa kekerasan merupakan perwujudan ajaran Al-Qur’an dari jihad nafs (perjuangan batin) atau anfus, karena mereka mengorbankan harta dan tenaga untuk mendukung kehidupan masyarakat Palestina dalam krisis perang melawan tentara Israel. Kehadiran perempuan dalam perlawanan ini menegaskan kesetaraan perempuan dan laki-laki dalam Islam.     

       

Bagikan
Post a Comment