f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ibu

Upaya Merayakan Hari Ibu, Meski Ia Sudah Tiada

Saya termasuk orang yang sering acuh dengan peringatan hari-hari tertentu. Seringkali saya baru tahu kalau hari yang sedang saya lakoni bertepatan dengan peristiwa tertentu dari linimasa atau instastory yang beredar. Namun ketika peringatan hari ibu kemarin, tidak tahu kenapa, jauh sebelum tanggal tersebut, saya mengingatnya dengan jelas, bahkan sampai terngiang-ngiang.

Tebakan saya, mungkin karena hari ibu kemarin merupakan hari ibu pertama bagi saya tanpa beliau. Atau mungkin saja peringatan hari ibu memang peristiwa sentimentil bagi seorang anak yang tidak lagi memiliki ibu.

Kehilangan tentu saja tidak pernah menyenangkan. Bayangan akan kehilangan menjelma kenangan yang selalu muncul secara tiba-tiba tanpa permisi, baik melalui mimpi, aktivitas, tempat, atau apapun. Momentum peringatan hari ibu adalah salah satunya. Iya, peringatan ini merupakan saat di mana anak-anak yang tidak lagi memiliki seorang ibu seperti saya ini sangat mustahil untuk baik-baik saja.

Dulu, ketika ibuk saya masih ada, kami merayakan peringatan hari ibu di dalam grup WhatsApp keluarga. Banyak kata selamat dan doa-doa yang ada. Keluarga kami memang kebetulan tidak berada di satu tempat, jadi perayaan virtual menjadi solusi logis kala itu.

Setelah ibuk tiada, saya yakin keluarga saya tetap mengucapkannya. Tapi tentu dengan keheningan dan doa agar mendapat ketenangan di alam sana.

***

Hari ibu memang selalu layak dirayakan. Sialnya, ketika ibuk sudah tiada, saya tetap ingin merayakan hari ibu. Harusnya memang tak ada syarat untuk merayakan hari ibu. Harusnya siapa saja boleh untuk merayakannya, tapi ketika sudah tak memiliki ibu, lantas bagaimana cara merayakannya?

Saya benar-benar kebingungan. Alhasil, beberapa teman saya beri pertanyaan tentang bagaimana merayakan hari ibu tanpanya. Hampir semua memberi jawaban untuk mendoakan saja.

Baca Juga  Ibu Penjual Pepaya, Ujian bagi Jiwa Sosial Kita

Jawaban tersebut sangat saya hargai. Namun, tentu saja saya tak ingin peringatan hari ibu hanya penuh dengan doa-doa saja. Ini bukan bermaksud menyinggung kesakralan doa, tapi kalau sekadar doa, tiap hari juga sudah saya lakukan.

Bukankah perayaan selalu diisi dengan hal-hal yang tidak biasa dilakukan tiap hari? Bukankah selalu ada kegiatan yang hanya terjadi ketika perayaan saja? Menjadi pembeda dari hari biasa adalah cara merayakan dengan baik.

Walhasil, kemarin untuk menemukan cara terbaik merayakan hari ibu, aku mencoba untuk mengenang kisah, kasih, dan cinta darinya. Segenap peristiwa mulai kugali dan telusuri. Aku mencoba menikmati sisa-sisa kerinduan atas berbagai macam peristiwa.

***

“Bukankah mengenang membuat kita malah sedih dan akhirnya menangis?”

Iya, memang seperti itu, lantas memang kenapa kalau menangis?

Ketika ibuk tiada, saya sering menerima kalimat-kalimat serupa, seperti, “Sabar. Jangan menangis. Tidak usah sedih. Didoakan saja”. Saya tidak tahu kenapa orang-orang segan untuk menangis, sehingga ketika ada orang yang kehilangan, mereka seakan dilarang untuk meluapkan kesedihannya lewat tangisan.

Sejak kecil, kita memang tidak mendapat pilihan untuk bersedih. Satu-satunya hal yang boleh ketika kehilangan adalah berdoa. Padahal, perasaan sedih itu wajar. Emosi kesedihan tidak bisa hilang. Ia hanya bisa terlampiaskan dalam bentuk tangisan. Menahan emosi kesedihan hanya akan menjadikannya kemarahan, dendam, dan kebencian.

Membenci diri sendiri, memperlakukan orang lain dengan tidak baik, menutup diri. Semua adalah konsekuensi logis ketika emosi sedih itu tidak terlampiaskan secara wajar. Menangislah saja, tuhan tidak pernah marah ketika hambanya menangis.

***

Setelah mengenang kisah, kasih, dan cinta seorang ibu (tentu sambil menangis), aku mulai menemukan hal-hal yang bisa kulakukan untuk merayakan hari ibu. Ya, akhirnya aku memutuskan untuk membeli bunga dan membagikannya kepada orang lain.

Baca Juga  Kebahagian Ibu di Masa Pembelajaran Daring

Sederhana sekali, tapi bukan tanpa alasan. Saya masih ingat permintaan ibuk saya di suatu pusat perbelanjaan. “Dib, fotoin aku di sebelah sini (sambil menunjuk gambar bunga-bunga), nanti fotonya kirim ke aku”.

Ibuk saya memang menyukai bunga-bunga. Ia juga sering meminta difoto dengan latar belakang bunga-bunga. Semoga saja tempatnya yang sekarang penuh dengan bunga-bunga yang warna-warni, indah, dan nyaman untuk ditinggali.

Berbekal kenangan tersebut, pada peringatan hari ibu kemarin, saya membeli bunga dengan jumlah yang lumayan banyak, kemudian saya bagikan kepada ibu-ibu secara acak. Tentu, sambil mengucapkan selamat hari ibu.

Selain bermodal kenangan, saya memang jarang sekali memberi sesuatu pada orang lain secara acak, apalagi memberikan bunga. Yah, perayaan memang sewajarnya terisi dengan hal-hal yang jarang.

Mungkin tidak semua orang yang ditinggalkan oleh ibunya merasa relevan dengan cara ini. Tidak apa-apa, saya memang berniat merayakannya untuk diri sendiri. Meski demikian, jika ada yang ingin merayakan dengan cara-cara yang lain, tentu saja sangat boleh.

Oh, iya, memberikan hadiah kecil pada ibu-ibu kemarin bagi saya sedikit mengobati rasa rindu akan hadirnya ibu. Bagi kalian yang merindukan beliau, tak ada salahnya kamu coba. Tak harus ada momen hari ibu. Hari apa saja bebas kok. Karena kehilangan bukan alasan untuk berhenti merayakan kasih sayang.

Bagikan
Post a Comment