f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ayah

Ayah dan Nasehat Terbaiknya

Pernahkah kalian bertanya kepada anak kecil mengenai cita-citanya. Jika pernah, pasti kalian akan menemukan jawaban yang beragam. Ada yang ingin jadi dokter, ada yang ingin jadi tentara, ada juga yang ingin jadi presiden. Dan tak sedikit juga ada yang ingin jadi superhero. Seperti batman, spiderman, superman. Bahkan mereka tidak bisa diam, meloncat ke sana kemari menirukan semua gaya mereka masing-masing.

Tetapi ada anak kecil. Setiap kali ditanya tentang cita-citanya ingin jadi apa. Dia selalu menjawab. Ingin jadi Pak Guru Sam. Lalu kedua kalinya untuk memastikan apakah benar itu cita-citanya ataukah berganti jawabannya. Ingin jadi apa? Jawabannya pun masih sama, ingin jadi Pak Guru Sam. Bahkan anak ini akan sangat marah ketika disuruh agar jadi dokter atau tentara saja. Padahal anak ini tidak tahu siapa itu Pak Guru Sam. Anak ini mungkin hanya tahu karena orang-orang di sekitarnya menyebut namanya.

Pak Guru Sam ini adalah seseorang lulusan pesantren dan menjadi guru di tahun 80-90 di sebuah madrasah. Dan si anak ini baru tahu siapa Pak Guru Sam itu sebenarnya ketika berada di kelas tiga madrasah. Ternyata sosok yang ia cita-citakan itu adalah bapaknya sendiri. Yang mana selama ini berada satu rumah dan yang merawatnya serta menggendongnya sejak kecil. 

***

Sejak saat tahu itulah, anak ini selalu memperhatikan bagaimana ayahnya melakukan kegiatan dan aktivitas sehari-hari. Mulai dari bagaimana berinteraksi dengan orang-orang sekitar. Bagaimana cara menyampaikan sesuatu pendapat, ide, dan membuat keputusan-keputusan.

Sekarang anak ini sudah tumbuh dewasa dan menjadikan ayahnya, yang dulu dia sebut ketika ada yang bertanya tentang cita-citanya, menjadi teman diskusi dan bertanya mengenai hal apapun yang belum ia ketahui. Di sela-sela ngobrol itulah ayahnya sering memberikan nasihat-nasihat agar kehidupan yang kita jalani, tidak hanya sekedar bahagia di dunia, akan tetapi juga harus bahagia juga di akhiratnya.

Baca Juga  Tugasmu Beranak? Gunakan Metode Moscow!

Sambil duduk rileks dan mengenang masa lalunya sang ayah mulai bercerita, “Nak, ketika Ayah ini berusia belasan tahun, Ayahmu ini sering diajak kakekmu ke hutan yang tempatnya jauh dari pemukiman penduduk, untuk mencari ramban (makanan kambing).

Karena dulu belum ada sepeda motor seperti sekarang, bahkan sepeda onthel pun masih jarang dan hanya orang-orang tertentu saja yang memilikinya. Ayah dan kakekmu berjalan kaki, kurang lebih beberapa kilo meter atau mungkin puluhan kilo untuk pergi dan pulangnya agar sampai dan mendapatkan ramban (makanan kambing).

***

Akan tetapi Nak, perjalanan untuk mendapatkan ramban (makanan kambing) tidaklah mudah. Ayah dan kakekmu harus melewati jalan bebatuan yang terjal penuh turunan. Belum lagi banyaknya duri-duri tajam di sepanjang perjalanan serta banyaknya binatang-binatang buas di tengah hutan.

Sesampainya di tempat tujuan, Ayah dan kakekmu mulai mengambil ramban (makanan kambing) sebanyak-banyaknya untuk dibawa pulang. Setelah dapat, kami ikat ramban tersebut kemudian dipikul untuk dibawa pulang. Di tengah perjalanan pulang, Ayah mulai sedikit keberatan dengan beban berat tersebut dan kedua punggungnya mulai sakit. Akan tetapi Ayah menahan beban dan rasa sakit tersebut dengan tidak sering-sering berhenti, agar cepat sampai di rumah dan kambingnya bisa segera makan.

Begitu sampai kandang kambingnya, Ayah langsung meneteskan air mata, Nak. Menangis dan tersenyum bahagia karena melihat kambingnya begitu semangat dan lahap memakannya.

Nah, begitulah Nak kehidupan. Kadang kita hidup di dunia ini banyak sekali ujian yang harus kita hadapi. Harus menahan lelahnya untuk menuntut ilmu, harus tetap beribadah meski badan ini terasa capek sekalipun. Harus tetap mengeluarkan zakat dan sebisa mungkin bersedekah kepada orang yang berada di bawah kita. Meskipun kadang kita ini merasa kurang. Dengan begitu nak, kalau kita sudah pulang (meninggal) Insya Allah kita akan bangga, bahagia, serta tersenyum, dengan semua hasil jerih payah yang sudah kita lakukan selama hidup di dunia.”\

Baca Juga  Bimbang dalam Hidup? Ya Nggak Lah
***

Anak ini pun fokus mencerna semua nasihat ayahnya. Setelah mendengarkan dengan seksama, anak ini memberanikan diri untuk meminta izin kepada Ayahnya bahwa besok selama 2 (dua) hari akan pergi ke luar kota bersama teman-temannya.

Dikira ayahnya akan memarahinya, akan tetapi justru ayahnya pun tidak melarangnya dan berkata kepada anaknya, “Nak, Ayah tidak akan melarang kemana pun kamu pergi, berapa lama kamu akan pergi. Asal kamu beritahu dulu kalau mau berpergian, agar orang rumah tidak mencarimu. Serta kasih kabar ketika sudah sampai tujuan, supaya orang rumah tidak cemas terhadapmu. Dan yang paling penting Nak, di manapun kamu berada jangan pernah tinggalkan sholat.

Mumpung kita masih memperoleh kesehatan, waktu dan yang utama kesempatan untuk melakukan sholat. Karena kalau waktunya sudah habis, akan susah kita mendapatkan kesempatan itu. Bahkan tidak sedikit orang yang sudah meninggal mengatakan ingin kembali ke dunia untuk memperbaiki semuanya.”

***

Dibacakannyalah potongan ayat yang membahas perkara tersebut oleh ayahnya kepada anaknya. 

فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

fa aṣṣaddaqa wa akum minaṣ-ṣāliḥīn

“Bahkan orang-orang ini Nak, memohon dengan cara apapun. Akan tetapi tidak akan pernah bisa mengembalikan kesempatan itu. Maka itulah pentingnya sholat.” 

Anaknya hanya manggut-manggut menyetujui perkataan dari sang ayah. Seseorang yang dicita-citakan pada saat kecil itu. Dan dari nasehat ayahnya tersebut, anak ini mencoba agar selalu mengingat nasehat sang ayah, di mana pun dan kapanpun. Si anak ini pun merasa, bahwa cita-cita yang selama ini dia cita-citakan tidak salah sedikitpun. 

Bagikan
Post a Comment