Arti Pandemi; Harta Karun yang Nyaris Terbuang
Jauh sebelum pandemi, saya sudah suka menulis. Tulisan pertama saya di majalah Sabili tahun 1999. Kala itu, saya malah dapat info tulisan saya dimuat, dari seorang kawan di Bandung. Dia sengaja menelpon (interlokal dari Bandung, saya kos di Jakarta), untuk mengabarkan bahwa karya saya dimuat. Tentunya hal tersebut membuat saya girang bukan main, karena itu tayangan perdana untuk tulisan saya.
Selepas itu, hingga tahun 2005, saya aktif menulis untuk surat kabar nasional seperti PELITA, Harian Terbit dan majalah apa saya lupa namanya, (sepertinya sudah almarhum).
Selanjutnya, saya sibuk mengajar dan hampir tidak pernah menulis kecuali di blog saya sendiri yang kini sudah non aktif juga, saking lamanya tidak pernah disentuh.
Tahun 2010, saya menulis buku “Latihan dan Soal English Grammar” diterbitkan oleh Tangga Pustaka. Ini bermula pada suatu siang, saya mendapat telpon dari seseorang. Awalnya saya pikir, orang ini akan les Bahasa Inggris. Akhirnya ketahuan, ia dari penerbit dan menawarkan saya menulis buku grammar Bahasa Inggris. Seperti ketiban durian runtuh, saya segera mengiyakan tawaran tersebut.
***
Tahun 2012, buku keroyokan “Dear Mama 3” terbit. Buku ini digawangi oleh nulisbukudotcom, berupa tantangan menulis surat untuk wanita yang sudah melahirkan kita. Alhamdulillah, naskah saya terpilih di dalamnya dan uniknya, saya baru tahu tulisan saya dimuat pada tahun 2021 ketika saya iseng mengetik nama saya di gugel, dan keluarlah informasi terkait ini. Mungkin, tidak ada penulis yang secuek saya hingga tidak tahu tulisannya terpilih atau tidak.
Memang, tahun 2012 adalah masa-masa terhebat bagi saya, karena pada tahun itu anak saya lahir. Buah hati tercinta yang kami tunggu-tunggu kehadirannya selama 7 tahun lebih. Setelah hampir semua ikhtiar kami lakukan. Akhirnya, Allah Yang Maha Pengasih, mengijinkan anak perempuan itu lahir ke dunia ini menyapa kami.
Sejak 1996, saya mulai mengajar Bahasa Inggris, padahal saya saat itu belum kuliah dan hanya modal bonek saja. Seorang teman mempercayakan anaknya pada saya yang saat itu kesulitan ‘mengunyah’ pelajaran Bahasa Inggris ini. Dengan alasan kasihan, saya juga tidak jago-jago amat Bahasa ini, saya mengiyakan. Jadilah secara teratur, si anak tersebut belajar dengan saya.
Kiprah saya menjadi guru, menenggelamkan saya pada kesibukan-kesibukan mengajar yang tidak ada habisnya. Kegiatan ini melupakan hobi menulis saya. Saya hanya menulis sesekali, itupun hanya untuk hal tertentu saja. Selebihnya, saya lebih banyak berenang di samudera pendidikan ketimbang menepi sejenak untuk ‘mengeja’ kata.
***
Pandemi dua tahun yang menerpa kita semua memberi arti tersendiri bagi saya. Betapa tidak, babak kehidupan ini tidak saja meluluhlantakkan perekonomian tapi juga menggedor keras rasa empati dan simpati juga ranah menjaga kesehatan bagi saya. Layaknya sebuah drakor yang memiliki beberapa episode; episode isoman hingga working from home, saya rasakan juga. Saya merasa menjadi pemeran utama dalam drakor besutan saya sendiri.
Skenario Allah tidak ada yang kebetulan. Begitupula yang terjadi dengan saya. Tahun 2020-an akhir, teman SMP saya mengirim sebuah chat di Whatsapp. Intinya, dia mengajak saya untuk menulis bareng untuk sebuah buku Ensiklopedia Muslim untuk anak. Tawaran ini menggiurkan. Menggoda saya yang suka menulis. Pasti ini jalanNya. Sejak lulus SMP, saya hanya ketemu dia sekali saat reuni – inipun tak sempat ngobrol banyak dan setelahnya tidak pernah ketemu lagi.
Jadilah saya menulis lagi. Saat itu saya merupakan penulis akhir dan hanya memiliki waktu dua minggu. Singkat cerita, buku nubar – nulis bareng itu akhirnya terbit April 2021. Saya merasa renjana.
***
Sejak mendapat tawaran menulis, saya merasa ‘ngeh dengan hobi saya. Saya merasa seperti pelan-pelan memasuki ruang bawah tanah diri saya yang berisi harta karun. Tambang emas itu terkunci sekian lama dan saya hampir benar-benar melupakannya. Kalau dalam bentuk drama, mungkin scenenya bisa seperti ini; saya lupa saya punya kunci kekayaan terpendam lalu hampir saja saya membuang kunci itu ke laut. Ngeri membayangkan jika itu benar-benar terjadi.
Setelah buku nubar itu terbit, saya mulai aktif mencari lowongan penulis atau yang terkait dengan profesi ini. Sementara menunggu panggilan, saya tetap aktif mengajar seperti biasa, via online. Sejak Covid 19, murid-murid saya mengalihkan kelas tatap muka menjadi kelas online. Mereka yang rata-rata pekerja baik lokal maupun expatriate (karena saya mengajar Bahasa Indonesia untuk orang asing juga) diharuskan WFH oleh kantornya. Jadilah saya sebagai tutornya terkena imbasnya juga.
Desember 2021, sebuah media berita online menelpon saya. Saya girang sekali. Pasalnya, saya diterima sebagai freelancer dan dibolehkan menulis jenis artikel yang saya sukai. Tak hanya di media tersebut, media lainnya bernafaskan Islam juga saya jelajahi. Tak hanya media local, saya juga mengembara ke media luar negeri berbasis English, menerbangkan karya-karya saya. Terhitung sejak 12 Desember 2021, sudah 51 tulisan saya yang termuat di media.
Jumlah ini tidak termasuk yang belum tayang, yang masih draft, yang belum selesai alias setengah jalan. Masya Allah, bukankah ini prestasi, bukankah ini produktif? Bukankah ini nikmatNya yang saya lupakan? Astagfirullah.
Menulis: Hobi yang Hampir Terhapus
Saya termenung. Kemana saja saya selama ini? Menulis hampir saja terhapus dari kamus hidup saya. Padahal, dengan menulis saya bisa menelurkan ide-ide, mengungkapkan opini, meluapkan perasaan hingga mengkritik terhadap satu kejadian untuk menjadi bahan renungan bagi diri saya pribadi dan juga masyarakat.
Saya tercenung. Selama ini saya selalu ‘protes’ agar IA memberi saya rejeki yang berlimpah. Saya kepo apa yang harus saya perbuat untuk kebaikan. Setengah rela menerima keadaan. Saya nyaris menyalahkan wabah. Sibuk mencari-cari harta karun padahal kuncinya melekat pada saya. Akhirnya, saya terpenjara pada ruang materi.
Padahal, DIA dalam surat Ar Rahman mengulangnya hingga 31 kali :
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Usai menulis, 28 Maret 2022, pukul 8.54 WIB, di Depok, saya meleleh.
Founder Excellent in House Training, penyedia guru bahasa Inggris untuk karyawan kantor.
Instagram @ratu_masrana
