Peran Perempuan dalam Kemanusiaan dan Toleransi
Tahun 2019 total penduduk di bumi sebanyak 7,79 miliar orang. Jumlah penduduk laki-laki sebanyak 50,42%, sedang jumlah penduduk perempuan sebanyak 49,58%. Artinya jumlah perempuan hampir seimbang dengan jumlah laki-laki di bumi ini. Namun kendati demikian, kebanyakan perempuan masih mengalami berbagai diskriminasi.
Diskriminasi ini membuat setiap perempuan mengalami keterbatasan dalam mengambil peran dalam ranah publik. Hal itu dikarenakan masih adanya pandangan-pandangan miring tentang perempuan dari masa lalu. Hilangnya diskriminasi adalah keniscayaan, karena kehidupan yang berkeadilan bagi perempuan dan laki-laki dapat tercapai jika hilanyanya diskriminasi itu.
Diskriminasi mungkin tidak akan pernah terjadi jika setiap individu memiliki rasa kemanusiaan dan toleransi, namun dalam kenyataannya dalam memelihara toleransi tidak mudah. Perempuan dalam hal ini mengambil peran ganda, di mana perempuan sebagai objek dari diskriminasi dan perempuan sebagai subjek dalam menumbuhkan rasa kemanusiaan dan toleransi. Bagaimana tidak, perempuan adalah makhluk yang istimewa. Darinya lahir seorang manusia dan perempuan memainkan perannya sebagai pengasuh dan seorang ibu. Perempuan sebagai pencipta perdamaian alamiah sepanjang sejarah peradaban kehidupan manusia.
Psikologis Perempuan dalam Memelihara Toleransi
Perempuan sebagai korban diksriminasi memiliki sifat dasar dalam mengambil perannya dalam berbagai peran apapun. Misalnya perempuan sebagai seorang ibu, menurut ahli psikologi ada empat komponen pokok emosi keibuan sejati, yaitu sifat cenderung mendahulukan kepentingan orang lain, kelembutan, kasih sayang, dan aktivitas (Kartono, 1981). Tak hanya itu, perempuan memiliki sifat yang open, artinya perempuan memiliki sifat perhatian, memelihara dan melindungi. Sifat memelihara dari proses itu kemudian terasah dan memberikan makna mendalam tentang nilai-nilai kemanusiaan.
Peran lain seorang perempuan adalah sebagai makhluk sosial. Di masa sekarang telah terjadi transformasi sosial masyarakat, di mana peran perempuan tidak hanya dalam ranah domestik. Namun kehadirannya kini telah diakui sebagai pihak yang mempunyai sumber daya pembangunan. Perempuan saat ini adalah mitra laki-laki untuk saling mengisi dalam pembangunan di masyarakat. Dalam kehidupan pernikahan, perempuan saat ini memandang bahwa pernikahan adalah suatu sarana untuk saling menyesuaikan diri dan memperkaya diri.
Perempuan saat ini berupaya untuk memenuhi kewajibannya sabagai ibu rumah tangga, namun tidak juga mengorbankan karirnya. Dari kondisi seperti itu perempuan melatih toleransi dengan pendekatan psikologis mengangkat isu kekeluargaan. Mayoritas perempuan korban diskriminasi mendorong perempuan untuk lebih kuat menciptakan perdamaian dan membangun perdamaian yang transformative.
Peran Perempuan dalam Membangun Perdamaian dari Akar Rumput
Islam memiliki arti keselamatan dan kedamaian. Ini berarti agama Islam dalam kehadirannya berupaya untuk membangun perdamaian dan keselamatan. Perdamaian dalam Islam terbagi dalam empat dimensi, yaitu 1) damai dalam konteks relasi manusia dengan Tuhan, 2) damai dengan diri sendiri, 3) damai dalam kehidupan, dalam hal ini setiap individu berhak hidup dalam masyarakat yang bebas diskriminasi dan peperangan, dan 4) damai dengan alam semesta (Swara Rahima, 2011).
Membangun perdamaian tidak bertujuan hanya ingin menghilangkan kekerasan, namun juga menghilangkan potensi yang dapat menimbulkan konflik di masa yang akan datang. Oleh karena itu, membangun perdamaian menuntut perubahan nilai-nilai kemasyarakatan secara keseluruhan dan tegaknya martabat manusia. Untuk mencapai itu perlu menumbuhkan sikap saling menghargai, menerima perbedaan, dan mendorong suatu perubahan dalam kebaikan dalam berbagai aspek kehidupan.
Menurut Husein Muhammad, perempuan dalam banyak peristiwa atau konflik sosial, perempuan memiliki banyak peran seperti membantu penyaluran bahan pangan, obat-obatan dan kebutuhan pokok lainnya kepada masyarakat yang membutuhkan. Tidak jarang perempuan ikut dalam medan perang untuk melindungi keluarga. Dan yang paling membuat takjub adalah perempuan juga aktif dalam melakukan advokasi bagi upaya perdamaian.
***
Gerakan perempuan sukses membangun koalisi lintas kelompok saat konflik terjadi. Satu contoh yang terjadi di Liberia, para perempuan yang berkoalisi dari permepuan muslim dan Kristen melakukan mogok kerja sebagai cara untuk memaksa Charles Taylor untuk mengehentikan kekerasan. Ada juga perempuan muslim dan yahudi bekerja sama atas nama kemanusiaaan selama beberapa periode melintasi garis batas Israel dan Palestina.
Dari semua Peran yang telah perempuan mainkan kita dapati bahwa perempuan sebagai aktor perdamaian. Perempuan dengan sangat berani melakukan sesuatu yang mampu memutus rantai kebencian. Lebih sensitf dalam melihat potensi perpecahan dan mampu mengambil peran dalam membangun perdamaian dalam segi aspek kehidupan.
Perempuan adalah Mitra dalam Memelihara Perdamaian dan Toleransi
Dari sekian kenyataan di atas, dapat kita pahami bahwa perempuan memiliki peran yang penting dalam membangun perdamaian dan toleransi. Terbukti bahwa dengan kapasitas dan kualitas yang perempuan miliki mampu berkontribusi secara nyata terhadapa perdamaian. Sudah selayaknya para perempuan tidak lagi sebagai makhluk subordinat, permepuan dan laki-laki sepatutnya sama-sama mendapat kesempatan untuk ikut dalam proses perdamaian dan toleransi.
Secara legal, upaya dalam mendesak proses perdamaian lebih banyak melibatkan perempuan semakit terbuka lewat kebijakan pada level global yang letah dikeluarkan oleh PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa). Kebijakan itu adalah Resolusi Dewan Keamanan PP No. 1325 tanggal 31 Oktober 2000 tentang Perempuan, Perdamaian, dan Keamanan. Isi dari bebijakan itu adalah mengakui perempuan memiliki peran penting dalam proses pembangunan perdamaian dan pencegahan konflik.
Selain kekuatan secara fisik, ada banyak bentuk kekuatan lain yang ada dalam diri perempuan untuk mendorong perdamaian. Tentunya setiap masa dinamikanya berbeda-beda, oleh karenanya konstruk peran para perempuan dalam hubungan sosial juga berbeda. Saat ini perempuan sudah relatif memiliki akses dan kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam berbagai bidang kehidupan, namun tidak semua perempuan dapat membaca peluang itu dengan baik. Sehingga wajar jika kita masih menemukan diskriminasi yang terjadi pada perempuan.
Perlu kita ingat, bahwa perempuan adalah pencipta perdamaian secara alamiahsepanjang sejarah peradaban manusia. Sudah selayaknya kita akui kehadirannya dalam memelihara perdamaian dan toleransi. Meskipun perlu usaha yang lebih keras agar wacana dan teori yang telah ada dapat terwujud untuk proses perdamaian yang lebih ramah terhadap perempuan dan terhapuskannya diskriminasi pada kaum perempuan.
Kader Nasyiatul Aisyiyah Kota Malang

Ridya
Omg. Saya bacanya sangat terharu. Yap, Perempuan harus bisa keluar dari diskriminasi apapun. 🥲🥰
Noor
Berharap semakin banyak perempuan yg sadar akan peran pentingnya..
Noor
Berharap semakin banyak perempuan yg sadar akan peran pentingnya..
Zuny Fatma
Mantap sekali tulisannya, harus diakui bahwa perempuan memang pencipta perdamaian, minimal pencipta perdamaian dalam keluarganya 😍
Ika
Setuju!! perempuan seharusnya diciptakan membawa perdamaian tetapi sedikit miris jika tau ada perempuan yg justru tdk membawa kedamaian, bahkan untuk lingkup kecil yaitu keluarga. Astaghfirullahaladzim
ika ujiana
Sipp, bagus. Lanjutkan menulisnya ya kak !!
Zakiya
Tulisan yang menginspirasi Para perempuan untuk tidak mengetahui bahwa peran mereka sungguh sangat penting.
Dyah Avica
MasyaAllah tulisannya berdaging bangettt. Semangattt ya nulisnya lagi tulisannya bagus dan menginspirasi 😊
Lida
Semoga ada banyak perempuan yang membaca tulisan ini, yang kemudian meyadarkan kita semua (perempuan) bahwa memang perempuan merupakan makhluk pencipta perdamaian. Oleh sebab itulah Allah memuliakan perempuan.
Kalau kita melihat sejarah, bukankah sejak zaman Rasulullah dulu perempuan sudah setara dengan laki-laki. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya salah satu perempuan yang bernama Nusaibah binti Ka’ab di zaman Nabi yang mengorbankan jiwa dan raganya untuk berjihad di jalan Allah dengan tanpa mengacukan tugasnya sebagai seorang istri dan seorang ibu bagi anak-anaknya,di mana ia ikut andil dalam jihad fathu makkah, perang uhud dan lain sebagainya.
Nadiyah Hirfiyana Rosita
#banggabernasyiah congrats Sindi, thanks for inspire us!
Fendi
Penulisnya mencoba untuk menyelami makna perempuan yang sebenarnya, yang mungkin selama ini dilihat sebelah mata oleh laki-laki, ataupun perempuan yang belum sadar akan posisi serta peran dalam kehidupan sosialnya. Penulis berhasil membuktikan sumbangsi perempuan yang sangat besar dalam kehidupan berbangsa dengan beranika ragam suku dan agama. Keren abezzz
Anny
Top dah, tulisannya sis 😍
Rizkha
Good deh tulisannya sis terharu ak terimakasih ya
Rizkha
Good deh tulisannya sis terharu ak terimakasih ya sangat menyentuh hati