f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ibu

Menjadi Ibu dalam Sebuah Rumah bagi Sesama

Setiap akhir tahun, kita biasa melihat atau membuat kilas balik dalam bentuk kalaideskop. Namun, tampaknya tahun 2021 ini nuansa kalaideskop kita cukup muram. Peristiwa bencana alam, kekerasan terutama pada anak dan perempuan, kasus pelecehan seksual dan sebagainya marak terjadi. Hal itu membuat kita merasa tidak berada di rumah. Padahal, kita menghabiskan banyak waktu untuk berdiam di dalam rumah sejak pandemi terjadi.

Rumah tidak lagi dimaknai sebagai bagunan tempat kita tinggal. Rumah menjelma menjadi tempat mendapatkan kenyamanan, cinta, kelembutan. Dan juga menjadi tempat kembali saat merasa rapuh. Konsep rumah tak mungkin terlepas dari konsep keluarga. Di masa sekolah, di masa lalu, kita mendapat pemahaman bahwa keluarga terdiri dari ibu, ayah, dan anak-anak.

Dalam pemahaman budaya, ibu memegang peranan penting dalam keluarga dan rumah itu sendiri. Sosok ibu merepresentasikan tempat untuk kembali, menemukan berbagai kenyamanan yang diinginkan.  Ibu juga dianalogikan sebagai benteng yang bisa melindungi keluarganya. Hal ini dilekatkan dengan konsep peran ibu untuk merawat dan memelihara kehidupan. Namun, kita harus mengakui kita sedang tidak baik-baik saja. Kekerasan, perpisahan, dan berbagai hal yang saling terkait menjadi lingkaran setan yang mengerikan.

***

Saat ini, kita perlu bersiap menerima kenyataan banyaknya anak-anak yang menjadi yatim, piatu, atau yatim piatu. Hal itu tidak lagi sekadar karena kematian akibat pandemi, tetapi juga dampak lanjutan dari perpisahan/perceraian. Kondisi pandemi mengharuskan kita mengerjakan banyak hal di rumah. Dengan demikian, tanpa sadar pandemi menyadarkan kita pada kekuatan dan sekaligus kerapuhan ikatan kekeluargaan yang ada.

Dengan selalu berada dan berinteraksi dengan anggota keluarga di rumah, berbagai permasalahan muncul. Persoalan yang semula bisa dialihkan dengan bekerja atau pergi dari rumah menjadi pemicu pertengkaran atau bahkan perilaku menyimpang lain. Perpisahan menjadi salah satu jalan yang ditempuh. Hal ini tentu saja disebabkan beragam alasan salah satunya adalah menciptakan ruang aman yang lain.

Baca Juga  Peran Musyawarah dalam Rumah Tangga

Fenomena yatim dan piatu ini tentu saja berdampak banyaknya orang tua tunggal. Dengan menjadi orang tua tunggal, peran dalam keluarga yang semula ditanggung bersama pasangan berubah menjadi  tanggung jawab satu pihak saja.

Data penelitian Kurnia Dwi Cahyani pada tahun 2016 menunjukkan bahwa orang tua tunggal laki-laki memiliki kecenderungan mengalami masalah pada aspek mengasuh dan mendidik anak. Sementara itu, orang tua tunggal perempuan cenderung mengalami masalah dalam bidang ekonomi. Meski demikian, hasil penelitian yang sama menunjukkan bahwa baik orang tua tunggal laki-laki atau perempuan memiliki masalah yang sama. Masalah tersebut adalah keterpurukan di masa awal menjadi orang tua tunggal. Mereka juga menghadapi persoalan terkait  penerimaan sosial yang kurang baik.

Sementara itu, perpisahan atau kematian bisa saja menyebabkan seorang anak kehilang ibu dan ayahnya sekaligus. Dalam kondisi demikian, ia bertumbuh dalam asuhan kerabat atau orang lain. Kondisi semacam ini memiliki dampak lanjutan. Pola pengasuhan anak kemudian memberi andil pada pembentukan karakter anak. Sementara pada saat yang sama, orang tua berusaha memulihkan kondisi ekonomi pasca pandemi. Bukan tidak mungkin perhatian dan kasih sayang tidak anak terima sebagaimana semestinya.

***

Berbagai sikap agresif dan persoalan kesehatan mental lain bisa jadi adalah pekerjaan rumah yang sudah terlihat dari sekarang. Bukan tidak mungkin beberapa tahun ke depan, kita terus menemukan lebih banyak kasus kekerasan. Tentu saya tidak bermaksud menyuntikkan pesimisme. Namun, tidak ada salahnya kita mulai mempersiapkan diri menyambut gelombang permasalahan sosial di masa mendatang. Hal itu bisa saja menjadi persoalan yang semakin kompleks karena terkait dengan persoalan ekonomi, politik, dan lainnya. Dan tentu saja persoalan-persoalan itu pun masih merupakan dampak lanjutan dari pandemi.

Baca Juga  Menjaga Kesehatan Mental Saat Pandemi Covid-19

Itu sebabnya, selepas pandemi, kita tidak hanya bertarung dengan mengembalikan kondisi ekonomi saja. Kita tidak lantas menjadi bebas dan bergerak semaunya begitu saja. Seolah membayar semua yang hilang selama pandemi terjadi. Ada hal yang mula-mula perlu kita persiapan. Dan tentu saja ini adalah kerja sosial, bersama-sama. Di semua lini tanpa kecuali.  Kita tidak lagi memikul tanggung jawab untuk menyediakan segala hal yang terbaik untuk generasi mendatang. Namun, kita perlu lebih dulu melatih diri menciptakan ruang aman bagi mereka.

Kita tidak bisa menuding pihak satu atau pihak lain menjadi penanggungjawab. Kita boleh saja berangan mendisiplinkan anak sendiri. Tapi tentu saja, kita lebih dulu mendispilinkan diri sendiri. Kita bersamalah penanggung jawabnya.

Saat ini kita sudah dituntut pro-aktif menciptakan rumah, sebuah tempat untuk kembali. Tak hanya itu, kita bersama-sama mewujudkan situasi aman yang seutuhnya.  Kita tidak dalam tahap mempersiapkan tapi mewujudkannya. Bersama-sama memikul tanggung jawab seperti ibu untuk memberikan rasa aman dan benteng perlindungan di mana pun anak-anak berada.

Bagikan
Post a Comment