Perempuan Berkemajuan dan Dukungan Keluarga
Usai salat subuh seorang perempuan muda tampak bergegas menuju taksi yang telah menunggunya di depan rumah beberapa saat. Ada urusan penting sehubungan dengan pekerjaannya yang mengharuskan dia pergi ke luar negeri selama tujuh hari. Bukan untuk sekadar jalan-jalan, tetapi demi tugas, menghadiri undangan, untuk mengembangkan dan berbagi ilmu yang telah ia miliki selama ini sebagai tabungan amal jariyah.
Muncul keharuan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata biasa mengingat dua bocah yang terpaksa ia tinggalkan. Apalagi yang terkecil masih menyusu ASI. Sesaat sebelum berangkat menuju bandara dia pun menyusui putranya lebih dahulu yang tiba-tiba terjaga. Berulang kali ia cek keperluan anak dan suami sekadar ingin memastikan keadaan rumah tetap kondusif saat ditinggalkan. Tidak lupa stok ASI yang cukup aman untuk si kecil selama sepekan.
Sebagai perempuan muda yang tengah berada di puncak karir, tidak mudah baginya pergi semaunya demi pekerjaan tanpa memperhatikan keluarga. Mengatur waktu antara karir dan keluarga bukan masalah sepele. Salah atau lengah sedikit, karir atau keluarga yang menjadi korban. Tentu hal seperti ini tak ingin terjadi.
Selagi ada kesempatan ia maksimalkan waktu untuk mengisinya dengan segala hal yang bernilai positif. Menurut dia, salah satu wujud syukur atas nikmat iman, nikmat sehat, dan nikmat-nikmat lain dari-Nya adalah dengan melakukan hal-hal yang mengandung manfaat bagi diri, keluarga, dan orang lain.
Meski keluarga tetap yang utama, menuntut ilmu dan mengembangkan ilmu tak boleh berhenti begitu saja. Bagi dia menuntut ilmu adalah wajib selama hayat dikandung badan. Dengan ilmu yang ia miliki, ia ingin maju, sukses, dan berkesempatan membagi ilmu pula kepada orang lain.
Sementara di belahan bumi lain, ada sejumlah kelompok perempuan matang dan beberapa dari mereka yang mulai menuju senja, terlihat tetap energik dan penuh semangat mengejar ilmu. Dari gerakan dan sikapnya yang beraura positif menandakan mereka sedang menikmati dan melakukan kegiatan dengan gembira.
Tidak hanya dari gestur, ekspresi wajah, dan apa yang diungkapkan dari bibirnya, tetapi semangatnya yang menyala mencerminkan kesungguhan dan keseriusan dalam melakukan sesuatu. Seperti yang terjadi sepekan terakhir di kota Solo, yaitu ketika ada momen Pelatihan Mubalighat yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Tengah.
Training of Trainer (ToT), atau Pelatihan untuk para Pelatih Mubalighat kali ini mengundang ratusan perempuan dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Pelatihan tersebut bertujuan untuk mencetak para Mubalighat andal yang ke depannya mampu menularkan ilmunya sekaligus mencetak mubalighat baru di daerah masing-masing.
Dari sekian perempuan yang berkumpul di acara yang berlangsung selama tiga hari itu, rata-rata para perempuan yang sudah berkeluarga. Yaitu, ibu-ibu yang tergabung di Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah, yang telah rela hati meninggalkan keluarga demi acara besar tersebut. Tentu tidak semua warga Aisyiyah yang mendapatkan kesempatan emas ini, karena harus menginap sehingga kondisi kesehatan harus benar-benar diperhitungkan.
Sejumlah pengampu yang dihadirkan untuk mengisi acara pelatihan adalah para perempuan hebat, keren, dan berwawasan luas. Berderetnya gelar akademisi yang tak kaleng-kaleng membuktikan bagaimana perjuangan mereka dahulu dalam menuntut ilmu setinggi-tingginya demi meraih cita-cita yang didamba. Tentu saja ada doa, air mata, tawa, dan dukungan keluarga yang tak terhingga.
Para pemateri atau narasumber di acara tersebut pada mulanya bukan tanpa perjuangan dan dukungan keluarga dalam menggapai tujuan dan cita-citanya. Ada saat di mana hati dan perasaan memengaruhi diri ketika meninggalkan keluarga. Bahkan manakala ada anggota keluarga yang sedang sakit sedangkan jadwal kampus memanggil untuk ujian ini itu. Bagaimana jadinya jika keluarga tak mendukung para perempuan seperti ini?
Perempuan-perempuan yang sudah berkeluarga bukan berarti terhalang untuk kembali menuntut ilmu. Keluarga juga bukan rintangan perempuan untuk maju dan berkecimpung di organisasi. Aisyiyah sebagai wadah pergerakan kaum perempuan Muhammadiyah, mengajak kaumnya untuk senantiasa aktif bergerak, memajukan dan menjunjung tinggi peradaban untuk menjadi perempuan yang berkemajuan.
Di balik perempuan hebat ada dukungan keluarga yang hebat pula. Jutaan perempuan di dunia yang ingin maju, sukses dunia dan akhirat, tak menghiraukan berapa usia mereka ketika sedang getol-getolnya menimba ilmu. Mereka yakin usia juga bukan hambatan untuk meraih cita-cita. Sebagaimana yang dianjurkan dalam agama Islam, tuntutlah ilmu sejak dari ayunan hingga ke liang lahat.
Bersyukurlah wahai para perempuan yang memiliki kesempatan, sarana dan prasarana dalam menuntut ilmu yang luasnya tak terbatas ini. Tidak semua perempuan seberuntung Anda. Bahkan ada yang cita-cita luhurnya seakan terpasung karena keterbatasan fasilitas maupun minimnya dukungan dari keluarga. Seolah hanya bisa meratapi diri manakala melihat teman-temannya yang sukses, maju dalam karir dan keluarga tetap harmonis.
Seperti cerita di awal. Untuk “Thalabul ‘Ilmi” dan kemajuan karir, keluarga tetap yang utama. Tidak dikorbankan tapi dikondisikan dengan kerja sama semua pihak. Untuk menjadi perempuan yang berkemajuan dibutuhkan aksi nyata dan yang paling utama adalah dukungan keluarga. Apalah artinya kesuksesan jika dalam keluarganya jauh dari rasa damai dan tenteram. Dukungan keluarga tak bisa dinilai secara finansial karena saking berharganya.

Seorang ibu rumah tangga dengan 3 anak, masih aktif di ‘Aisyiyah Donorojo Jepara.

Elok Faiqoh
Ibu Wurry yg hebat. Tulisan anda sangat menginspirasi.
Wurry Srie
Terima kasih, Mbk Elok…