f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Ketika Anak Merupakan Tagihan Pernikahan

“Yang sabar ya, kalau sudah rezeki pasti dikasih (anak/momongan),” potongan pesan yang masuk pada aplikasi Whatsappku pagi tadi. Temanku (perempuan) ini adalah kawan lama ketika menyelesaikan program sarjana di Tulungagung belasan tahun yang lalu.

Dia (hanya) mengirimiku pesan pada saat ulang tahun. Jadi bisa kalian bayangkan, percakapan kami terdiri dari dua hal. Pertama, dia mengucapkan selamat ulang tahun. Kedua, dia menanyakan padaku apakah aku sudah memiliki keturunan atau belum.

Masih tak banyak yang tahu, bahwa jika bukan karena hubungan pertemanan yang sudah sangat akrab; pertanyaan pribadi tentang jumlah anak yang dimiliki, upah dari pekerjaan yang digeluti, status pernikahan, dan agama yang dianut bukan merupakan hal penting yang harus ditanyakan. Toh, masih terlalu banyak yang bisa dibahas mulai dari masakan favorit, tempat menarik apa yang bisa dikunjungi, buku bagus yang bisa dibaca, atau film lumayan apa yang bisa ditonton minggu ini.

Di antara sekian alternatif pertanyaan, kenapa harus anak sih?

***

Kehadiran anak seolah menjadi tagihan bagi pasangan yang telah menikah. Sialnya, pertanyaan mengenai anak tak hanya umum bagi masyarakat kelas menengah dan bawah, namun juga bagi mereka yang menjadi cerminan manusia terpelajar. Bukan karya baru apa yang telah kita tulis atau buku apa yang baru kita terbitkan, namun pertanyaan “Eh, sudah isi belum?” seolah menjadi pembuka pertemuan.

Pertanyaan seputar anak sebetulnya bukan perkara negatif jika ditanyakan pada mereka yang telah dikaruniakan momongan. Bahkan akan menjadi obrolan yang cukup hangat dalam keakraban. Apalagi bagi mereka yang sama-sama memiliki balita (misalnya), percakapan demi percakapan akan sampai pada bertukar informasi lokasi penjualan mainan anak yang recommended.

Namun bagi perempuan yang belum memiliki anak, pertanyaan itu terasa sebelas dua belas dengan “Kapan nikah?”, terhadap mereka yang belum memiliki pasangan. “Kapan punya rumah?”, bagi pasangan yang masih bermukim di rumah mertua. Atau “Kapan lulus kuliah?”, bagi mahasiswa yang belum juga memberikan pertanda ujian skripsinya akan mulai/selesai.

Baca Juga  Pelajaran Penting dari Perselingkuhan Orang Lain
***

Kalau mau memandang lebih dalam, hadir tidaknya seorang anak dalam sebuah rumah tangga seringkali bukan merupakan masalah, terlebih bagi pasangan yang saling mencintai. Keduanya berfokus pada saling membahagiakan, saling menghormati, dan saling mendukung satu lainnya. Jika kemudian keberadaan anak menjadi masalah dalam rumah tangga mereka, penyebab utamanya tentu saja lisan “orang ketiga”.

Siapa yang bisa disebut “orang ketiga” dalam konteks tulisan ini? Yaitu orang-orang di luar pasangan suami isteri yang secara lugas maupun bercanda menggoda keduanya dengan pertanyaan seputar anak. Meskipun mereka mengutarakan dengan tutur kata yang apik, tetap saja bahasan tersebut seperti perbuatan vandalisme yang merusak.

Perbuatan “orang ketiga” tak hanya hadir pada pasangan yang memang belum berhasil memeroleh keturunan, namun juga bagi penganut child-free yang keberadaanya mulai populer akhir abad ke-20.

Kehadiran pasangan yang belum memiliki anak ataupun penganut child-free sesungguhnya tak menjadi masalah sosial di masyarakat. Namun seringkali keberadaan mereka masyarakat lihat sebagai sebuah keadaan yang tidak biasa; tidak umum; dan harus mendapat solusi, bahkan tawaran pengobatan. Mereka dianggap pasangan yang kebahagiaannya belum sempurna dan bahkan patut dikasihani.

Benarkah demikian?

***

Marini (34 tahun) dan suaminya adalah penganut child-free dan atas pilihannya tersebut, banyak teman dan saudaranya yang kemudian putus hubungan dengannya (Klikdokter, 2021). Padahal membaca kehidupan rumah tangga dengan suaminya, Marini adalah perempuan yang bahagia.

Dari kasus Marini dan suaminya jelas terbaca bahwa mereka berdua bukan kurang kebahagian karena tidak ada anak pada kehidupan rumah tangga, namun lebih kepada keisengan saudara/lainnya yang menganggap keputusan keduanya berbeda dari umumnya.

Nah sebenarnya, kehadiran anak tidakkah membahagiakan mereka (orang ketiga) sehingga masih sempat nyinyir terhadap rumah tangga lain? Bila kita telaah lebih lanjut, keberadaan penyinyir itu seringkali menjadi toxic, yang jika tidak para pasangan hadapi dengan kekuatan lahir batin akan menimbulkan suasana kisruh pada sebuah hubungan.

Baca Juga  24 Tahun Reformasi: Tantangan dan Mindset Gerakan Kekinian

Usia penyinyir juga kebanyakan belum masuk kategori manula (manusia lanjut usia), namun sering menambahkan sebuah nasihat pamungkasnya, bahwa anak adalah tabungan bagi orangtua di hari tua. “Kalau tidak ada anak, siapa yang akan merawat pada usia tua?” kata mereka.

Coba kita balik logikanya dan berikan pertanyaan pada mereka, “Apakah yakin bahwa anak Anda akan merawat Anda ketika sudah tua?”

***

Menuliskan ulang inti pengajian Gus Baha pada satu edisi, bahwa dalam setiap kehidupan manusia, Tuhan selalu ada. Kita sebagai manusia selalu berada dalam keadaan yang baik dan dirawat oleh-Nya.

Beliau mencontohkan, ketika di dalam kandungan (kita tidak tahu apa-apa), kita dalam keadaan baik. Ketika lahir ke dunia, kita juga dalam keadaan yang baik pula. Begitupun kehidupan kita selanjutnya. Jadi, jangan terlampau takut berlebihan mengenai kehidupan nantinya. Yang menjadi tugas kita manusia adalah tidak melakukan maksiat. Tuhan yang akan mengurus kita.

Memahami penyampaian Gus Baha sebetulnya jauh lebih menenangkan dan membahagiakan dibanding pertanyaan mereka yang hobi nyinyir namun sebetulnya tak memberikan solusi. Dan bahwa orang yang telah menikah pasti memiliki konsep yang mereka anggap terbaik bagi rumah tangganya. Mereka yang belum memiliki keturunan, pasti memiliki upayanya. Dan yang mereka lakukan tentu tak harus dikabarkan pada khalayak. Begitupun bagi menganut child-free, mereka tentu punya visi-misi kehidupan dan keharmonisan antara keduanya.

Bagikan
Comments
  • Badrus Sholeh

    Terima kasih Bu Anis, tulisan kritik sosial yang penting..

    Juli 28, 2021
Post a Comment