Toxic Family : Racun Tersembunyi dalam Keluarga
Kata family berasal dari bahasa inggris yang bermakna keluarga. Sebuah kelompok yang memiliki ikatan khusus di mana dalam jangka waktu lama, mereka tinggal bersama. Saling memupuk rasa kasih sayang dan kepedulian antar anggota . Sedangkan toxic sendiri memiliki arti racun. Sama seperti racun, orang toxic bisa mengganggu kehidupan orang sekitarnya. Membuat orang lain tersakiti baik secara emosional maupun secara fisik. Sehingga toxic family adalah sebuah kondisi di dalam keluarga di mana saling menyakiti baik secara fisik, mental maupun psikologis satu sama lain.
Kondisi ini dikenal dengan keluarga dysfunctional yang artinya keluarga telah kehilangan fungsi dan peranannya. Keadaan ini bisa terpicu dari orang-orang terdekat. Bisa dari orang tua dan anak, suami dan istri, antar saudara kandung atau antar kerabat lainnya. Sebuah keluarga ideal, adalah dambaan bagi setiap orang. Rasa kasih sayang yang melimpah, kehangatan dan saling peduli satu sama lain adalah komponennya. Rumah keluarga adalah tempat ternyaman bagi seseorang untuk bersandar dari segala hal untuk menghilangkan rasa lelah, menguatkan dari masalah dan menghapus penat yang melanda.
***
Keluarga adalah harta yang paling berharga. Namun apa jadinya jika di dalam keluarga terdapat toxic yang berasal dari orang-orang terdekat kita ? Sebuah racun tersembunyi yang berkembang di mana bisa mempengaruhi mental dan kesehatan psikis bagi anggotanya terutama untuk perkembangan seorang anak. Bagaimana jadinya jika tanpa sadar hal itu terus berulang hingga menjadi suatu kebiasaan ?
Sebagai contoh di lansir dari pelayanan klinis bunda.id seorang psikolog yang memiliki layanan konsultasi terhadap masalah psikis. Sebut saja seorang klien bernama samaran Fulanah. Seorang wanita berumur 24 tahun yang terkena adanya dampak toxic family. Wanita ini, di usia ke 24 tahun baru menyadari bahwa dirinya selama ini, telah terkena toxic dari orang terdekatnya. Ia menceritakan bahwa sejak kecil, orang tuanya selalu berperan dalam hal apapun yang dipilih olehnya. Baju apa yang harus ia pakai, berteman dengan siapa, perguruan tinggi mana yang diinginkan orang tuanya, karier seperti apa yang harus dicapai hingga pasangan seperti apa yang harus mendampinginya.
Semuanya harus sesuai dengan kriteria dan keinginan orang tua. Jika ia menolak dan memiliki perbedaan pendapat dengan orang tuanya; maka ia akan dianggap sebagai anak pembangkang dan tidak bisa diatur. Orang tuanya sering berkata bahwa sebagai anak harus membalas budi atas kebaikan yang telah diberikan. Karena selama ini orang tua sudah membesarkannya dengan susah payah dan mengeluarkan biaya pendidikan yang tidak sedikit. Sehingga, kewajiban seorang anak harus selalu mematuhi perintah orang tua.
***
Memang orang tua menginginkan yang terbaik untuk anak tapi, tidak semua orang tua berlaku demikian. Karena, tidak sedikit juga orang tua yang berpikir bahwa membesarkan seorang anak adalah tanggung jawab yang kerap menjadi alasan untuk mengarahkan sang anak sesuai dengan keinginan mereka. Hal ini dilakukan atas nama kebaikan untuk anak tanpa mempertimbangkan apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh sang anak. Keadaan ini, yang dianggap hal baik bagi orang tua justru menjadi toxic dalam keluarga yang bisa mempengaruhi kesehatan psikis dan menghambat perkembangan sang anak.
Salah satu tanda orang tua “toxic” yaitu mereka sering mengkritik, menyalahkan bahkan mencemooh sang anak. Betapa pun seorang anak telah mencapai prestasi; setinggi apapun pencapaiannya jika hal itu tidak sesuai dengan keinginan orang tua, tidak ada apresiasi yang diberikan untuk sang anak. Di samping itu, mereka juga sulit menerima keputusan atau kondisi sang anak. Jika sang anak melakukan kesalahan mereka tidak segan untuk mencemooh, menyudutkan bahkan menyalahkan mereka.
Jika sudah terjadi seperti ini, kondisi ini menyebabkan kecemasan muncul, kegelisahan, rasa rendah diri, kesedihan dan rasa tertekan bercampur menjadi satu bahkan lebih parahnya jika terjadi secara terus menerus bisa memicu adanya depresi. Akibatnya, sang anak selalu merasa tertekan dan tidak nyaman jika berinteraksi di dalam keluarga.
Anak yang tumbuh di lingkungan toxic family cenderung memiliki kecemasan dan ketakutan terhadap orang tuanya. Hal ini dipengaruhi oleh konflik-konflik yang sering terjadi pada toxic family (Minullina, 2018).
Anak yang besar di lingkungan toxic family dan terdampak oleh konflik atau child maltreatment cenderung memiliki regulasi emosi yang rendah, perilaku agresif, kesulitan beradaptasi di sekolah, serta tendensi yang lebih tinggi untuk memiliki masalah psikologis seperti depresi (Cicchetti & Toth, 2016).
***
Di sisi lain, jika orang tua terlalu memanjakan sang anak, hal ini juga bisa memicu adanya toxic bagi dirinya. Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang sangat suka menjadi pusat perhatian; merasa lebih superior dibanding yang lain dan lebih parahnya apapun yang menjadi kemauannya harus terpenuhi. Sifat seperti inilah yang bisa mempengaruhi cara pandang dan kepribadian sang anak di masa depan kelak dan tentunya bisa membawa dampak negatif bagi dirinya.
Sebagai orang tua, seharusnya bisa memiliki sikap yang bijak dan demokratis yang artinya mampu menjadi pendengar yang baik untuk sang anak dan mau mengerti apa keinginan dan kebutuhan sang anak. Mampu membuat peraturan rumah yang masuk akal serta bisa membuat pendisiplinan yang tepat untuk anggota keluarga di rumah.
Jika menyangkut kehidupan sang anak, biarkan mereka belajar untuk mengambil keputusan sendiri dengan mendengarkan nasehat atau saran dari anggota keluarga lainnya tanpa memicu adanya konflik dan rasa tertekan. Jika sang anak mengambil suatu keputusan atau memilih hal positif yang baik bagi dirinya tanpa merugikan orang lain, kenapa sebagai orang tua tidak mencoba untuk mempercayainya ?
Ada beberapa tips agar menjadi orang tua yang baik untuk anak, yakni dengan cara menunjukkan kepedulian dan sensitif terhadap keadaan, memiliki kegiatan rutin bersama dan peraturan di dalam rumah, berbagi cerita dengan anak, selalu menempatkan kesehatan dan keselamatan anak sebagai prioritas, menggunakan pendisiplinan yang tepat tanpa menggunakan kekerasan, serta memberikan reward pada anak. Setiap orang tua memiliki perbedaan dalam output pola pengasuhan pada anak. Selain itu perilaku anak seperti temperamen anak memberi dampak pada orang tua mengenai bagaimana ia bertindak pada anaknya (Smith, 2010).
Seorang anak adalah amanat bagi orang tua yang diberikan oleh Allah Swt. Nilai keberhasilan orang tua adalah saat mampu untuk membimbing dan mengarahkan anaknya ke arah yang benar dan tepat sehingga di masa depan kelak mereka mampu menjadi pemimpin-pemimpin hebat dan menjadi orang yang bermanfaat.
seorang gadis pluviophile yang berdomisili di Lamongan, Jawa Timur. Memiliki hobi membaca, menulis dan menggambar seni kaligrafi. Sampai saat ini masih tergabung menjadi anggota COMPETER (Community Pena Terbang). Masih aktif juga menjadi author di redaksi IB.Times.id. Penulis bisa disapa melalui akun ig @indranys345
