Jaga Jarak, Jaga Silaturahmi
Oleh: Muhammad Fijri Nurfadillah*
Dunia telah digegerkan dengan pandemi Covid-19, sebuah pandemi yang berasal dari kota Wuhan, China. Awalnya, virus ini teridentifikasi dari seorang pedagang, lalu menyebar ke orang-orang sekitar, merebak lagi ke berbagai daerah di China, hingga menyebar luas di hampir setiap negara.
Ya, virus ini menyebar cepat melalui pergerakan manusia, aktivitas manusia yang dilakukan secara terus menerus, karenanya, virus Covid-19 dapat mudah tertular dari kerumunan/keramaian orang.
Beberapa negara berlomba mencetuskan berbagai kebijakan untuk penanganan pandemi Covid-19, di Indonesia kita kenal physical distancing atau social distancing, atau menjaga jarak fisik dan jarak sosial. Sekalipun, kebijakan ini tidak cukup efektif untuk mencegah perluasan pandemi Covid-19, buktinya, pasien dengan status positif coronavirus selalu meningkat setiap harinya
Di berbagai daerah, hari ini sudah mengupayakan protokol kesehatan, mencoba upaya untuk menekan persebaran virus corona. Salah satunya dengan rapid tes. Akan tetapi, tes massal ini pun perlu dibarengi dengan pertimbangan sosio-ekonomi Indonesia serta kesiapan instrumen kesehatan.
Kebijakan Menangani Covid-19
Penanganan pandemi dapat dimulai dengan mengoptimalkan kebijakan physical distancing. Salah satunya, pemerintah dapat memberhentikan kegiatan produksi, namun tetap memberi kompensasi biaya gaji pekerja untuk perusahaan. Hal ini, dapat mengurangi kemungkinan PHK namun juga memberikan peluang pekerja untuk mencari pekerja baru (job turnover cost).
Kebijakan ini pernah dilakukan Jerman dalam program Kurzarbeit. Melalui pemberhentian produksi sementara dengan kompensasi, pemerintah dapat menjaga kelangsungan bisnis dan keselamatan para pekerja secara bersamaan.
Di Indonesia sendiri, hal ini dapat diterapkan untuk beberapa sektor saja yang dianggap bisa di tunda produksinya. Penghentian kegiatan ekonomi untuk sementara tanpa lockdown mungkin belum lazim di dengar. Namun, penghentian ini dapat berdampak positif untuk perekonomian jangka panjang.
Correia, Luck, dan Verner menemukan bahwa penghentian kegiatan ekonomi untuk sementara yang cepat, dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi saat masa pandemi telah usai. Pengorbanan jangka pendek diperlukan untuk keberlangsungan perekonomian dalam jangka panjang.
Kebijakan lain adalah optimalisasi pembelajaran daring/online. Sekalipun menuai pro-kontra, dikarenakan tidak semuanya pelajar se Indonesia memiliki handphone, tidak semua tempat sekolah di Indonesia terjangkau dengan sinyal. Namun, masyarakat Indonesia tetaplah harus mematuhi peraturan pemerintah yang telah ditetapkan, tujuannya, untuk memutus mata rantai penularan virus covid 19 ini.
Physical Distancing Bukan Jaga Jarak Silaturahmi
Ketetapan-ketetapan pemerintah di atas, bukanlah penghalang untuk dapat bersilaturahmi. Dalam Islam, kita dianjurkan untuk merawat persaudaraan antar sesama muslim dengan merawat silaturahmi itu sendiri. Karena, “barang siapa yang menjalin silaturahmi maka orang tersebut akan dipanjangkan umurnya dan dimudahkan rezekinya, barang siapa yang memutuskan tali silaturahmi makan tidak akan ada jatah kenikmatan untuknya.”
Teruslah jalin tali silaturahmi walaupun dalam kondisi pandemi ini. Beberapa pendapat psikolog juga menyatakan pentingnya bersilaturahmi, sebab, kegiatan bertatap muka, berbincang-bincang dalam proses interaksi ini dapat meningkatkan kesehatan psikis serta menambah kemampuan kognitif.
Jika biasanya dilakukan di Sekretariat, di Sekolah, maka selama pandemi ini, mau tidak mau, kita harus melakukannya di rumah. Malahan, ini momentum yang bagus untuk bisa bersilaurahmi dengan saudara lama, teman-teman lama, yang sebelumnya kita tidak memiliki cukup waktu untuk berkunjung ke rumah mereka.
Teruslah jalin tali silaturahmi walaupun dalam kondisi pandemi ini. Beberapa pendapat psikolog juga menyatakan pentingnya bersilaturahmi, sebab, kegiatan bertatap muka, berbincang-bincang dalam proses interaksi ini dapat meningkatkan kesehatan psikis serta menambah kemampuan kognitif.
Jika biasanya dilakukan di Sekretariat, di Sekolah, maka selama pandemi ini, mau tidak mau, kita harus melakukannya di rumah. Malahan, ini momentum yang bagus untuk bisa bersilaurahmi dengan saudara lama, teman-teman lama, yang sebelumnya kita tidak memiliki cukup waktu untuk berkunjung ke rumah mereka.
Namun, silaturami ini kan cukup memakan waktu? Sedangkan, banyak dari kita yang juga harus WFH, melakukan pekerjaan rumah, dan lain-lainnya. Bagaimana caranya agar kita tetap produktif di rumah namun juga tetap dapat menjalin silaturahmi. Nah tantangan ini yang harus kita jawab bersama dengan manajemen diri dan manajemen waktu.
Namun, silaturami ini kan cukup memakan waktu? Sedangkan, banyak dari kita yang juga harus WFH, melakukan pekerjaan rumah, dan lain-lainnya. Bagaimana caranya agar kita tetap produktif di rumah namun juga tetap dapat menjalin silaturahmi. Nah tantangan ini yang harus kita jawab bersama dengan manajemen diri dan manajemen waktu.
Bersilaturahmi Sebagai Bentuk Syukur
Bentuk manajemen diri dan manajemen waktu ini adalah wujud syukur kita terhadap Allah swt. Mungkin kita termasuk satu dari sekian orang yang harus bersyukur masih memiliki teman perjuangan, keluarga yang utuh, teman-teman perkuliahan, bahkan masih dapat membuat kegiatan-kegiatan daring. Sebab, banyak dari saudara-saudara kita yang harus merelakan teman-temannya akibat pandemi Covid-19.
Kemudian, kita juga harus pandai mengambil ibrah atau pelajaran dari pandemi yang melanda negeri ini. Selalu ada hikmah yang bisa dipetik untuk dijadikan bahan pelajaran dari setiap cobaan yang Allah SWT berikan, termasuk masa-masa sulit akibat pandemi Covid-19 sekarang ini.
Pandemi ini mengajarkan kita tentang pentingnya arti kebersamaan yang mungkin selama ini kita anggap remeh, terutama saat berkumpul bersama keluarga besar.
Janganlah kita memutuskan tali silaturahmi. Jalin ikatan batin dengan penuh rasa cinta untuk saling menyapa dan bersilaturahmi. Bersilaturahmi bisa dilakukan melalalui handphone, mengirim pesan melalui WhatsApp, Line, Telegram, maupun aplikasi media sosial lainnya.
*Penulis adalah Sekretaris Bidang Asbo PR IPM Panawuan Garut
