Erosi Nilai Budi Pekerti di Masa Pandemi
Budi Pekerti Generasi Sekarang
Pandemi Covid-19 telah mempengaruhi berbagai sendi kehidupan masyarakat di Indonesia. Pengaruh itu terasa juga di bidang pendidikan. Di lingkungan tempat tinggal saya di Kupang, Nusa Tenggara Timur, terdapat belasan anak usia sekolah yang menghabiskan hari-hari mereka dengan berkeliaran di jalan. Waktu yang seharusnya diisi dengan kegiatan belajar mengajar di sekolah malah dihabiskan untuk bermain.
Pada akhir bulan Desember tahun lalu tiga orang anak laki-laki duduk berdekatan. Jemari mereka menggosok-gosok layar gawai dengan lincah. Sesekali terdengar suara pertempuran dari ponsel pintar disusul umpatan dan teriakan berisi kata-kata kasar yang keluar dari mulut mereka. Saya kaget lantaran mendengar kata-kata kotor yang mereka ucapkan. Fokus saya terganggu sehingga menghambat saya dalam membuat laporan keuangan.
Tidak lama kemudian, terdengar bunyi ledakan di halaman rumah saya. Beberapa anak laki-laki usil membakar petasan dan membuangnya ke dalam pagar rumah saya. Suara itu mengagetkan beberapa orang rumah, termasuk kedua orang tua saya. Kami keluar mencari tahu siapa biang keladi keributan itu. Melihat saya berlari mengejar, anak-anak itu segera mengambil langkah seribu. Mereka berhasil meloloskan diri.
Dengan kemarahan yang tersisa saya berusaha tenang sambil mengambil ponsel dan menghubungi ketua RT untuk melaporkan gangguan yang kami alami hari itu. Ketua RT merespon laporan kami sekeluarga dengan baik. Pak RT berinisiatif untuk mengadakan rapat bersama seluruh warga untuk membahas masalah ketertiban di lingkungan kami. Sayangnya, rapat RT itu hanya tinggal wacana.
Sekarang sudah bulan Februari tahun 2022, tetapi gangguan ketertiban semacam itu masih tetap ada di lingkungan sekitar rumah saya. Anak-anak bermain sepanjang waktu. Mereka berteriak-teriak di jam istirahat siang. Bahkan di tengah malam pun masih ada anak-anak yang berkeliaran. Keributan yang mereka ciptakan itu mengganggu istirahat malam warga. Mungkinkah ada masyarakat di lingkungan lain juga yang mengalami gangguan ketertiban seperti di lingkungan tempat tinggal saya? Pasti ada.
Pengaruh Kemajuan Teknologi
Seingat saya, budi pekerti dan sopan santun masih terpelihara dengan baik dua puluh tahun yang lalu. Anak-anak di zaman itu masih tahu bertegur sapa bila bertemu dengan orang yang lebih tua. Kebanyakan teman sebaya pun tahu kapan harus berhenti bermain tanpa harus dipanggil oleh orang tua. Jarang terdengar umpatan kasar dan teriakan orang tua yang kaget lantaran mendengar bunyi ledakan petasan. Keamanan dan ketertiban di lingkungan kami begitu terpelihara.
Waktu terus bergulir dan manusia pun berubah seiring perkembangan zaman. Sebagai anak 90-an, saya turut menyaksikan betapa majunya teknologi komunikasi di era 4.0 ini. Ponsel yang dahulunya hanya menjadi milik kalangan berduit kini justru menjadi kebutuhan seluruh umat manusia khususnya para guru dan peserta didik untuk kegiatan belajar mengajar.
Internet dulunya hanya menjadi wahana komunikasi antar anggota militer di Amerika. Kini, jaringan-jaringan yang terhubung itu telah menjadi dunia tersendiri yang menyediakan jawaban atas berbagai pertanyaan. Google, mesin pencari yang dikembangkan oleh Larry Page dan Sergey Brin, menjadi tempat bertanya bagi siapa saja. Anak-anak bisa menyelesaikan tugas sekolah dengan mudah hanya dengan mengucapkan “Ok Google!” dan menanyakan soal-soal dari sekolah. Dalam tempo kurang dari satu menit mereka akan mendapatkan jawabannya.
Sejujurnya, Saya memilih berdamai dengan situasi ini. Saya pun tidak menyalahkan situasi pandemi Covid-19 yang telah memapar dunia dengan berbagai variannya. Namun, kenakalan anak dan remaja adalah salah satu dampak dari adanya kebijakan pembelajaran jarak jauh di rumah. Fenomena itu juga menjadi bukti bahwa kecanggihan teknologi komunikasi tidak selalu bisa memberi solusi bagi setiap permasalahan yang ada di masyarakat. Teknologi yang sama itu malah menggerus nilai-nilai budi pekerti yang seharusnya dipertahankan oleh generasi muda masa kini.
Peran Orang Tua dan Guru
Mungkin ada orang tua yang membiarkan anaknya belajar tanpa pengawasan. Mereka menganggap internet sudah seperti guru bagi buah hatinya. Namun, tidak semua hal baik ada dalam internet, termasuk transfer nilai budi pekerti yang lebih optimal. Percayalah, hanya pembelajaran tatap muka di sekolah yang bisa membuat peserta didik bisa memahami nilai-nilai budi pekerti secara teoritis maupun secara konkret dalam tindakan.
Pembelajaran tatap muka di sekolah juga harus disempurnakan dan dipertegas dengan pengawasan orang tua di rumah. Orang tua harus tetap mendampingi anak dalam belajar karena mereka adalah guru kehidupan bagi anak-anaknya. Merekalah yang seharusnya menanamkan nilai-nilai budi pekerti itu di rumah. Mulailah dengan bangun pagi tepat waktu dan melakukan hal-hal kecil seperti berbagi tugas memasak, mencuci piring, mencuci-menyetrika pakaian, membersihkan rumah, memberi makan hewan peliharaan, dan sebagainya.
Orang tua menyediakan waktu untuk berbicara dari hati ke hati dengan buah hatinya. Mereka saling berbagi pengalaman di tempat kerja dan anak-anak pun turut menceritakan apa yang dialaminya di sekolah. Orang tua pun menjadi tempat curhat dan pemberi solusi bagi masalah anak-anak dan remaja dalam masa tumbuh-kembangnya menuju kedewasaan.
Orang tua pula yang harus menunjukkan bagaimana berkata-kata dan bertindak yang santun antar penghuni di rumah. Dengan demikian, anak-anak dan remaja bisa menempatkan diri dengan baik dalam pergaulan dan interaksi dengan masyarakat sekitarnya.
Dengan belajar budi pekerti di rumah, sekolah, dan di tengah masyarakat, anak-anak menjadi tahu menghargai orang lain di manapun mereka berada. Mereka menjadi insan yang bebas mengembangkan diri tanpa mengabaikan kenyataan bahwa ada orang lain yang membutuhkan situasi aman dan nyaman di lingkungan tempat tinggalnya. Sebab semaju apapun inovasi manusia menciptakan teknologi, peran orang tua dan guru dalam mendarah dagingkan nilai budi pekerti bagi anak-anak itu mutlak dan tak tergantikan oleh apapun.
Editor: Imam Basthomi
