f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
musik

Musik dan Pembatasan Anak Muda

Musik menjadi objek yang mengalami ketidakstabilan rekognisi. Ia menjelma sebagai medium penyampaian ekspresi, emosi, dan afektif. Tidak mengherankan apabila individu yang perasaannya sedang kacau, sering menggunakan musik sebagai pelampiasan perasaan. Melalui melodi dan iramanya, musik menjadikan pendengarnya merasa tenang. Bahkan, membawanya pada ruang monolog untuk menyampaikan imajinasi di dalam kepalanya. 

Oleh sebab itu, identitas musik dapat berkembang pesat. Pada perkembangannya, juga menjadi sarana kritik terhadap politik. Fenomena musik sebagai kritik politik di Indonesia masif terjadi pada masa Orde Baru, terutama pada metal dan dangdut. Berbagai lagu dari Rhoma Irama sukses membuat rezim Orde Baru menjadi ketar-ketir, lewat pesan lagunya yang sarat kritik tajam terhadap birokrasi Orde Baru yang otoriter.

Ditambah lagi kehadiran anak muda dengan karakteristiknya yang ingin menjauh dari kelas penguasa, menjadikan anak muda semakin meramaikan kancah permusikan di Indonesia. Meskipun rezim Orde Baru telah runtuh, anak muda masih menggunakan musik sebagai alat perlawanan. Sebut saja seperti Fajar Merah, Jason Ranti, dan Efek Rumah Kaca yang beragam lagunya mempunyai nilai kemanusiaan dan kritik satire terhadap pemerintah.

***

Bukan hanya itu. Anak muda dan musik ibarat kata serupa pohon dengan buahnya, saling menopang demi kebaikan. Begitu juga yang terjadi saat ini, anak muda sering menggunakannya untuk memperoleh pundi-pundi uang. Di berbagai sudut kota, sering terlihat anak muda menggunakan musik untuk menghasilkan nilai ekonomi dengan bernyanyi di cafe, acara perayaan, konser, dan sebagainya.

Adegan anak muda yang mulai mandiri mencari penghasilan melalui musik menjadi penampakan yang membanggakan. Mengingat, sulitnya mencari pekerjaan di negeri tercinta saat ini. Maka dari itu, sudah seharusnya harus menyambut meriah kehadiran musik yang memiliki kontribusi berarti bagi kehidupan anak muda.

Baca Juga  Belajar Mendidik Siswa dari Sebatang Pohon Cabai

Tetapi, tunggu dulu. Kebahagiaan tersebut harus terhenti sejenak, melihat tidak semua anak muda bisa menjadikan musik sebagai roda ekonomi. Ada sebuah tragedi yang menjadikan nurani saya terenyuh dan mengelus dada. Peristiwanya terjadi ketika saya sedang melakukan riset tentang musik di daerah pedesaan yang tidak bisa saya sebutkan nama lokasinya.  

***

Alasan saya menyusuri daerah tersebut karena dahulu menjadi surplus utama penghasil penyanyi di kabupaten. Namun, keadaan yang terjadi saat ini mulai berubah. Beberapa anak muda yang saya ajak interaksi, menceritakan jika sudah patah harapan untuk menjadi musisi. Padahal, dirinya menggemari beberapa musisi terkenal di Indonesia dan bercita-cita untuk melanjutkan karirnya.

Hanya saja cita-citanya harus pupus di tangan orang tuanya. Orang tua enggan memberikan izin kepada anaknya untuk menjadi seorang musisi. Bahkan, orang tua tidak mengizinkan anaknya untuk ikut kursus musik. Begitu juga saat berkuliah, orang tua tidak mengizinkannya masuk ke jurusan seni. Khawatir saat masuk jurusan seni, justru bisa membawa anaknya pada dunia musik. Lebih ironisnya lagi, ada segelintir orang tua melarang anaknya memutar musik melalui gawai dan laptopnya.

“Apa yang menjadikan orang tuamu bersikap semacam itu?” Saya memberikan pertanyaan itu kepada beberapa anak tadi. Secara garis besar, ada dua faktor yang membuat orang tuanya tidak memperbolehkan menjadi musisi. Pertama, orang tua menganggap hal tersebut sebagai ikhwal yang negatif.

Sebuah kewajaran kiranya jika orang tua menganggap musik tidak memiliki nilai positif. Bisa kita lihat sendiri saat ini, bagaimana musisi tidak lagi menjual suara dan lagunya, melainkan juga mengkomersialisasikan tubuhnya. Tidak sedikit penyanyi, utamanya perempuan yang lebih mementingkan erotisme tubuhnya daripada penyampaian lagu dengan baik dan nikmat. Fenomena tersebut nampak jelas dalam panggung dangdut koplo.

Baca Juga  Kala Anak Muda Berkata: Mending Nikah Aja!

***

Sekalipun demikian, kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan penyanyi yang memanfaatkan erotisme tubuhnya. Sebab, pemanfataan erotisme tubuh merupakan dampak dari industrialisasi musik. Industrialisasi musik menghasilkan propaganda bahwa panggung musik ialah kejam. Apabila tidak mempunyai nilai lebih untuk dijual, siap-siap saja akan tersingkirkan dan tidak akan digunakan lagi.

Asumsi negatif orang tua juga akibat dari kehidupan musik yang dipenuhi dengan sensasional dan pemakaian barang-barang terlarang, seperti narkoba. Saat ini banyak sekali musisi yang tertangkap polisi akibat penggunaan narkoba. Sehingga, orang tua tidak ingin anaknya jatuh tersungkur ke lubang hitam panggung musik. Mereka khawatir jika masa depan anaknya menjadi suram dengan terjerat pada dunia kriminal.

Kedua, tidak sedikit orang tua yang menganggap musik adalah haram dalam Islam. Bukan sesuatu yang asing mendengarkan fatwa-fatwa tokoh agama jika hal tersebut haram. Fatwa utama tentang musik haram, biasanya berangkat  dari hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA, bahwa Allah mengharamkan alat musik.

Tetapi, haramnya musik masih menjadi perdebatan. Sebagaimana Habib Ja’far justru menilai hal tersebut tidak haram. Malahan Rasulullah menyukai kehadiran musik.

***

Terlepas dari perdebatan haram atau tidak haramnya musik, produksi pengetahuan tentang haramnya musik sudah membentuk kesadaran orang tua untuk melarang anaknya menjadi musisi.

Kedua faktor tadi menjelma busur panah yang membunuh eksistensi anaknya. Para anak muda yang berkeinginan menjadi musisi harus mengubur harapannya dalam-dalam dengan kepedihan yang begitu melekat.

Dalam kacamata sosiologi keluarga, seharusnya orang tua berperan untuk mengembangkan dan mengarahkan potensi anak. Pembatasan potensi anak hanya menjadikan kehidupannya terhambat dan bisa menyebabkan kematian moral.

Kematian moral terjadi saat anak memaknai kehidupannya tidak memiliki keberartian di hadapan orang lain.  Jika kematian moral sudah tertanam dalam kehidupannya,  akan menyebabkannya kesepian sekaligus apatis terhadap sesamanya.

Baca Juga  PANDEMI MELANDA: ANAK MUDA HARUS APA?

Karena itulah, saya teringat kembali dengan pemikiran Erich Fromm. Bahwa nilai luhur seorang manusia berada pada sikap saling mencintai orang lain dengan menumbuh kembangkan potensi yang ada pada dirinya. Lalu, bisakah orang tua mencintai anaknya tanpa mendistorsi potensinya? Can you speak my brother?

Bagikan
Post a Comment