Masihkah Pekerjaan Rumah Memandang Gender?
Belakangan ini, banyak perempuan yang menggaungkan kesetaraan atas haknya. Salah satunya adalah menyuarakan kelelahan perempuan dalam memenuhi tuntutan terkait pekerjaan rumah. Rasa lelah ini muncul karena banyaknya tuntutan terhadap perempuan untuk mampu melakukan banyak jenis pekerjaan rumah dalam suatu rumah tangga, terlebih mengenai urusan dapur. Hal ini menimbulkan pertanyaan; “Mengapa menuntut perempuan untuk melakukan pekerjaan rumah?”.
Pekerjaan rumah terdiri atas berbagai jenis, seperti menyapu, mengepel, mencuci pakaian, memasak, dsb. Pekerjaan rumah tergolong ke dalam basic life sill yang semestinya setiap individu memilikinya. Basic life skill ialah kemampuan dasar dan pengetahuan seseorang dalam mengahadapi beberapa masalah dalam kehidupan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya secara adaptif, proaktif juga responsif.
Setiap manusia memerlukan Basic life skill supaya mampu melakukan segala sesuatu secara mandiri tanpa menggantungkan diri kepada orang lain. Keterampilan ini digunakan dalam menghadapi beberapa hal yang memiliki sifat urgensi tinggi sehingga setidaknya dapat menopang diri sendiri apabila terjadi sesuatu.
Perempuan dituntut Bisa Melakukan Pekerjaan Rumah
Beberapa kasus menyebutkan bahwa perempuan yang tidak mampu memasak makanan yang enak sebagai perempuan yang gagal atau tidak utuh. Hal ini membawa perempuan ke titik jenuh atas label yang diberikan hanya karena suatu kemampuan yang tidak dikuasai. Perempuan merasa lelah karena indicator penilaian kemampuan nya hanya sebatas skill memasaknya.
Selain skill memasak, skill dalam menyelesaikan pekerjaan rumah secara sempurna juga menjadi tuntutan untuk perempuan. Lantai yang tidak cukup bersih, tanaman yang terlihat kering, dsb., sebagai tanda ketidakbersihan suatu rumah kerap menjadi tanggung jawab perempuan.
Akan tetapi, masyarakat tidak menuntut laki-laki untuk mampu mengerjakan pekerjaan rumah. Hal ini mengakiibatkan banyak laki-laki yang tidak dapat melakukan pekerjaan rumah seperti halnya perempuan lakukan.
Tidak ada tuntutan kepada laki-laki untuk mampu melakukan pekerjaan rumah secara sempurna. Juga tidak ada pemberian nilai kepada laki-laki berdasarkan kemampuannya dalam memasak ataupun membersihkan rumah. Hal ini yang menyebabkan kaum perempuan geram dan menyuarakan pikirannya terhadap ketidaksetaraan yang ada.
Akan tetapi, terkadang laki-laki juga diberi tuntutan untuk mampu mengerjakan reparasi sederhana dalam suatu rumah tangga. Hal-hal sederhana seperti memperbaiki genting bocor, memasang regulator ke tabung gas, memasang paku di dinding, dsb.
Hal ini memunculkan tanda tanya, “Mengapa pekerjaan-pekerjaan tersebut harus memandang gender?” Pekerjaan-pekerjaan dalam suatu rumah tangga yang sebetulnya dapat dilakukan oleh kedua gender dengan baik, menjadi suatu indikator dalam menilai kemampuan seseorang.
Basic Life Skill Tak Memandang Gender
Pekerjaan rumah sesungguhnya merupakan basic life skill yang seharusnya tidak terbatas oleh gender. Kedua gender harus mampu melakukan semua jenus pekerjaan dalam suatu rumah tangga. Kemampuan tersebut tidak harus mencapai standar tertentu untuk dinilai oleh masyarakat atau biasa disebut jago. Akan tetapi, kemampuan untuk melakukan pekerjaan rumah tersebut dengan baik dan benar.
Perempuan bisa melakukan hal-hal berikut; mampu membersihkan lantai, mengangkat galon, atau memasang regulator ke tabung gas. Selain itu, laki-laki juga mampu memasang paku di dinding, memasak, atau mencuci pakaian.
Pengerjaan pekerjaan rumah tanpa dibatasi oleh gender harus terus menyebarluas kepada masyarakat. Hal ini supaya perempuan tidak secara terus-menerus mendapat tekanan untuk melakukan segala pekerjaan rumah sendirian. Selain itu, pekerjaan rumah tanpa memandang gender juga bisa memberikan rasa familiar antarmanusia karena semua orang melakukan hal yang sama, yaitu melakukan semua jenis pekerjaan rumah.
Semua kalangan masih memiliki PR untuk menormalisasikan pekerjaan rumah yang tidak memandang gender. Hal ini supaya dapat mendorong para orang tua untuk mengajarkan anaknya sejak dini tentang pekerjaan rumah tanpa melihat kecocokan pekerjaan rumah tersebut dengan gendernya.
Anak-anak yang tumbuh dewasa dengan bekal pendidikan untuk melakukan semua jenis pekerjaan rumah tanpa ada batas gender dapat menjadi lebih mandiri; serta memiliki range skill yang lebih luas daripada anak yang melakukan pekerjaan rumah berdasar pada gender.
Orang dewasa yang tumbuh dengan didikan untuk melakukan jenis pekerjaan rumah tanpa memandang gender dapat membantu terciptanya lingkungan yang sehat dengan tidak memandang gender dalam melakukan pekerjaan rumah tangga.
Harapannya, hilangnya batasan gender dalam melakukan pekerjaan rumah dapat menurunkan rasa ego atau gengsi yang uncul saat melakukan suatu pekerjaan tertentu. Sehingga setiap individu dapat lebih nyaman dalam melakukan pekerjaannya.
Pekerjaan rumah sebagai basic life skill tanpa batasan gender akan membawa manfaat yang besar bagi individu tersebut. Kemampuan tersebut dapat memudahkannya dalam menjalankan aktivtitas sehari-hari. Menormalisasikan pengerjaan pekerjaan rumah tanpa memandang gender harapannya dapat terus berlanjut. Sehingga semua kalangan di masyarakat memiliki kesadaran yang cukup untuk berhenti memberi tuntutan dan penilaian terhadap seseorang atas kemampuannya dalam melakuakn pekerjaan rumah.

