Teknologi internet di satu sisi memberikan kemajuan. Tetapi di sisi lain ia juga memberikan dampak buruk bagi peradaban manusia, salah satu yang sangat berbahaya adalah kehadiran internet di tangan kelompok radikal terorisme. Di tangan kelompok radikal, saat ini, media internet menjadi media efektif dalam peningkatan propaganda, pembangunan jaringan, dan sarana rekrutmen baru.
Sebuah data menyampaikan bahwa pada tahun 2010, 46 pengguna pengguna internet di seluruh dunia adalah wanita. Bahkan tahun ini dengan makin majunya sosial media seperti Facebook, angka keterlibatan perempuan dalam menggunakan internet akan semakin naik. Data terakhir menunjukkan perempuan terutama di sosial media melebihi jumlah laki-laki, bahkan yang paling banyak mengakses sosial media dengan ponsel adalah perempuan. Selain itu munculnya forum internet jihad di awal 2000-an menawarkan perempuan yang lebih langsung dan rute anonim menuju keterlibatan dengan organisasi ekstrimis.
Perempuan dan Internet
Internet membuka saluran baru rekrutmen di luar lingkaran keluarga dan pesantren. Perempuan muda dan berpendidikan dari keluarga tanpa tradisi jihad menemukan minat baru dalam agama. Ditunjukkan dengan ikut serta forum obrolan dan membaca risalah Islam di internet. Dalam beberapa kasus, mereka mulai dengan bergabung dengan kelompok belajar Islam dan di luar kampus dan kemudian beralih ke Internet.
Internet tidak hanya merevolusi cara perempuan dalam berinteraksi yang menembus jarak, ruang, dan waktu. Tetapi ia juga hadir dengan budayanya sendiri memengaruhi watak perempuan dalam berkomunikasi. Keakraban dengan sesuatu yang alami dan nyata, kini telah diganti dengan keeratan dengan sesuatu yang tidak nyata.
Kealamian pun bahkan dianggap sebagai kesemuan, namun ilusi dianggap riil. Internet dianggap telah menciptakan realitas baru yang dikenal sebagai virtual reality di dalam sebuah virtual world Fenomena. Kemunculan Internet terutama media sosial seperti semakin mempermudah kaum perempuan mendapatkan informasi, termasuk berkomunikasi dengan para penganut pandangan radikal. Kelompok teroris tidak lagi susah payah mengumpulkan anggota baru ke kamp pelatihan untuk dicuci otak dan mengalamiradikalisasi, proses radikalisasi tidak lagi dari atas ke bawah, tetapi dibiarkan tumbuh sendiri (selfradicalized).
Perempuan dan Terorisme
IPAC (Institute For Policy Analysis Of Conflict) mengatakan kemunculan Internet dan pesan instan memperbesar ruang teroris untuk merekrut anggotanya. Dengan pesan instan, perekrutan teroris tak lagi mengandalkan hubungan keluarga atau kerabat dan kegiatan keagamaan seperti pesantren, dengan bantuan teknologi pesan instan. Perempuan juga semakin mudah bergabung dengan forum teroris, Hal ini terlihat dari peningkatan jumlah perempuan yang diduga bahkan telah dinyatakan terlibat serangan teror di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.[1]
Terorisme pun dinilai seakan tak lagi memandang gender, peran perempuan semakin dipertimbangkan dalam aktivitas terorisme. Perempuan bisa ikut berperan dalam forum percakapan instan radikal kapan saja, bertemu dengan pejuang teroris lainnya, mempelajari propaganda ISIS, dan menemukan rekan yang memiliki pandangan yang sama soal jihad. Sejarah panjang terorisme di Indonesia yang menjadi kunci dan pelaku terorisme di dominasi oleh laki-laki. Namun munculnya pelaku baru dalam aksi teror yang melibatkan perempuan menegaskan bahwa konsep jihad tidak hanya di wajibkan untuk muslim laki-laki, namun berlaku pula untuk muslim perempuan.
Propaganda Atas Nama Agama
Propaganda atas nama agama menjadi salah satu hal yang mudah untuk menarik minat perempuan agar mau menjadi martir dalam aksi teror. Peran perempuan dalam aksi teror tidak lagi sebagai perantara ataupun pelindung dari para suaminya yang juga teroris. Namun, bagaimana perempuan dipaksa dan dicuci otaknya untuk menjadi pelaku aktif dalam aksi teror. Keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme sebagai pelaku utama menimbulkan kegelisahan tersendiri bagi seluruh elemen masyarakat, bahkan dinilai sebagai sejarah baru di Indonesia, gema aksi terorisme ini bertambah besar karena pengaruh internet, internet merupakan sarana ampuh untuk penyebaran aksi teror.
Data dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menunjukkan pada 2018 tercatat 13 orang perempuan terlibat dalam aksi teror sedangkan pada 2019 bertambah menjadi 15 orang termasuk kasus peledakan diri yang dilakukan istri Abu Hamzah di Sibolga, Sumatera Utara pada Maret 2019.[2]
Evolusi Ekstrimis Perempuan Indonesia
Keterlibatan perempuan dalam jaringan dan praktik terorisme tidak dipungkiri ikut berkembang seiring perkembangan teknologi informasi dan media sosial. Ada dua contoh kasus perempuan, internet dan terorisme, Pertama Kasus Dian Yulia Novi adalah yang pertama terkuak. Dian mengaku mengalami proses indoktrinasi jihad qital melalui internet yang dilakukan oleh calon suaminya saat itu. Kasus ini mengemuka karena pertama kalinya di Indonesia seorang istri direkrut untuk menjadi pelaku bom bunuh diri (suicide bomber). Para teroris melibatkan istri-istri untuk ikut bergerilya di dalam hutan guna melakukan perlawanan terhadap pemerintah.
Tidak hanya itu, fakta yang kemudian terkuak adalah kebutuhan biologis para pemimpin kelompok ini menuntut para istri untuk ikut bergerilya. Hal ini dibuktikan dengan ditemukan barang bukti berupa pil KB dalam pengejaran aparat. Kedua Nurul Azmi Tibyani, ditangkap pada 2012 karena membantu dan bersekongkol dengan suaminya dalam tindakan teroris. Menggambarkan tiga aspek tentang bagaimana peran ekstrimis perempuan berubah: menuju penyebaran propaganda online, membantu dengan pendanaan teroris dan jaringan, dan mengambil bagian dalam pelatihan fisik dan senjata. Saat belajar, dia menjelajahi Internet dan pada awal 2000 an, dia menemukan chat room (mIRC) bernama Café Islam. [3]
Dalam risetnya, IPAC membagi peran perempuan dalam aksi terorisme di Indonesia. Yaitu sebagai pengelola forum percakapan daring, mengumpulkan dana, merekrut anggota dan menjadi tandem pasangan pelaku peledakan bom[4]. Ada beberapa faktor menurut Musdah Mulia yang melatarbelakangi ketertarikan perempuan dalam aksi terorisme di Indonesia.
Literasi, Intepretasi, dan Rasa Teralienasi Jadi Latarbelakang
Pertama, rendahnya tingkat literasi menyebabkan mereka terbelenggu dalam pemahaman yang bias gender. Selain itu, tingkat pemahaman keislaman mereka juga sangat dangkal sehingga mudah menerima doktrin yang keliru terkait konsep ketaatan, jihad, kafir, thagut, khilafah, negara Islam dan seterusnya. Karena itu, upaya literasi kesadaran perempuan perlu digalakkan agar mereka tidak mudah terpengaruh doktrin ideologi patriarki dan interpretasi Islam radikal.
Kedua, interpretasi keagamaan yang eksklusif melahirkan sikap dan perilaku intoleran yang membuat mereka dipenuhi rasa permusuhan dan kebencian terhadap orang yang berbeda. Diperlukan upaya counter penafsiran sehingga interpretasi agama yang sejuk, humanis dan toleran menjadi dominan di masyarakat.
Ketiga, rasa teralienasi dan tersingkirkan dari kelompoknya membuat mereka tidak punya banyak pilihan dalam hidup, sehingga pilihan menjadi teroris merupakan satu-satunya pilihan.[5]
Peran Media Online dalam Radikalisasi
Kisah Nurul Azmi Tibyani, Dian yulia, dan Syahadah menggambarkan kekuatan Internet dan memberi pertanda peran yang online komunikasi terjadi dalam radikalisasi. Hal tersebut di karenakan tidak adanya struktur hierarki di Internet berarti bahwa tidak ada yang bisa memberitahu wanita untuk berhenti menyebarkan jihad. Terutama ketika mereka menggunakan jihad mereka memiliki akun sendiri. Jika ada, pria akhirnya menyadari bahwa wanita memainkan peran yang sangat diperlukan pengembangan komunitas virtual jihad.
Wanita jihadi akan terus membuat mereka suara didengar oleh kelompok Facebook terkemuka dan terlibat dalam debat online dengan sesama jihadis dan lawan mereka, baik di Indonesia maupun di luar negeri, hal inilah yang kemudian sangat membahayakan. Apalagi di era digital seperti sekarang sangat mudah untuk siapa saja mengakses segala bentuk pembelajaran yang bersumber dari paham radikal dan ajakan-ajakan untuk berjihad melalui aksi teror dengan embel-embel ganjaran surga. Maka dari itu penting untuk kita membentengi diri agar terhindar dari pengaruh terorisme, dan lebih pandai lagi dalam bersosial media.
[1] Researchers Team, Mothers to Bombers: The Evolution of Indonesian Women Extremists, 2017.
[2] https://mediaindonesia.com/read/detail/321558-keterlibatan-perempuan-dalam-radikalisme-dan-terorisme-meningkat
[3]Researchers Team, Mothers to Bombers: The Evolution of Indonesian Women Extremists, 2017,.
[4] Researchers Team, Mothers to Bombers: The Evolution of Indonesian Women Extremists,2017,.
[5] https://www.jurnalperempuan.org/wacana-feminis/perempuan-dan-terorisme-ketidakberdayaan-relasi-kuasa-dan-stigma
