Tumbuhnya Gaya Hidup Konsumtif dari Produk-Produk Lucu
Tren akhir-akhir ini sangatlah beragam dengan adanya perkembangan teknologi dan globalisasi. Seperti yang dapat kita rasakan, di pasar offline maupun online sedang berlomba-lomba untuk mengikuti tren produk. Salah satu produk yang dipasarkan adalah produk-produk lucu yang memiliki daya tarik tersendiri bagi konsumen karena mampu memberikan hiburan dan keceriaan.
Saat ini, apapun dapat dijangkau, yang artinya para produsen bersaing untuk memikat hati pelanggannya dengan barang-barang yang eye catching. Bukan hanya dari barangnya, pemasarannya pun dibuat semenarik mungkin. Hal tersebut ditujukan untuk menggugah rasa penasaran konsumen dengan barang yang dipasarkan.
***
Produk lucu yang kita temui tidak sedikit menjadi permasalahan. Salah satunya adalah tumbuhnya gaya hidup konsumtif yang menjadi tantangan untuk diri kita saat ini. Kita membeli bukan karena butuh, tetapi karena lucu dan terpikirkan akan terpakai suatu saat. Nyatanya, kita hanyalah korban iklan yang rela menghamburkan uangnya untuk barang-barang tersebut.
Pengaruh tren sangatlah besar dalam peningkatan sikap konsumtif ini. Di era digital ini, terdapat istilah baru yakni ‘FOMO’ yang berarti ‘Fearing of Missing Out’ yang menjadikan tren suatu hal yang wajib seseorang miliki, dengan kata lain jika berbentuk suatu barang maka harus membelinya.
Dapat kita lihat FOMO dalam tren terkini di film Barbie yang divisualisasikan dalam warna pink yang lucu. Banyak orang yang berbondong-bondong mencari barang-barang bertemakan Barbie terbaru. Toko lokal dan internasional bersaing untuk mendapatkan kolaborasi bertema Barbie.
Menyadari sambutan antusias masyarakat, produsen pun memunculkan ide untuk memperbanyak persediaan produk dan melakukan pengiklanan secara besar-besaran. Iklan yang beragam dan mudah masyarakat akses, berdampak pada konsumen yang labil berupa kesulitan menyaring informasi dan berakhir dengan membeli produk-produk lucu tanpa henti.
Hal yang perlu kita ingat karena sulitnya untuk menyaring informasi adalah bahaya penipuan. Banyak konsumen yang tertipu dengan barang yang ia beli karena pengaruh tren yang ada membuat para produsen dari berbagai toko rela menduplikasi barang dan memasarkannya dengan seenaknya.
Gaya hidup konsumtif berasal bukan hanya dari kemudahan akses informasi yang kita dapat, tetapi juga berasal dari interaksi sosial. Misalnya di satu circle terdapat informasi berupa barang-barang lucu, kemudian di circle tersebut sepakat ingin membelinya tanpa berpikir dua kali. Besarnya gengsi interpersonal serta mengingat kenangan ‘pertemanan’ yang terjalin tersebut membuat kita berpikir, “Ah, gapapa deh sekali-kali, untuk kenangan. Lagian si A beli, masa aku enggak?”
Dalam interaksi sosial, teman sepergaulan tidak hanya ditemui di satu tempat saja. Bisa saja di setiap tempat untuk sebagian orang mempunyai teman pergaulannya masing-masing. Jika kita tidak bisa membatasi diri dan mengedepankan gengsi, maka gaya hidup konsumtif akan bersarang dalam diri kita dan akan sulit untuk menghilangkannya.
Dalam siklusnya, tren mempunyai masanya. Kita seharusnya bisa mengelompokkan bagian mana yang memang bisa untuk kiat beli dan gunakan ataupun tidak. Tegas pada diri sendiri adalah kuncinya. Cara pengontrolan diri, berkomitmen pada diri sendiri, dan menurunkan rasa gengsi adalah hal yang sangat penting dalam menghadapi jiwa konsumtif.
Pengontrolan diri bisa kita mulai dengan ‘puasa jajan’, misal saat kita suka melihat barang-barang lucu di berbagai platform, maka berhentilah sejenak untuk melihat hal- hal tersebut. Lama-kelamaan akan tertanam dalam diri bahwa tidak semua harus kita miliki secara langsung. Waspada akan penipuan juga salah satu aspek pengontrolan diri. Jika kita mempunyai jiwa waspada, detail akan produk sangat kita perhatikan dan kita akan memiliki cara berpikir “Ini worth to buy ga sih?”
Berkomitmen pada diri sendiri bisa kita mulai dengan menentukan target pengeluaran setiap hari, minggu, bahkan bulan. Jika hal tersebut terlewati dengan baik, maka sikap konsumtif akan menghilang dan berjalannya waktu akan tergantikan dengan gaya hidup mengatur keuangan yang baik.
Untuk menghadapi jiwa konsumtif, seseorang juga harus menurunkan rasa gengsi yang mendorong rasa harus memiliki barang tersebut. Masa tren tidak akan lama dan tren akan tergantikan, maka janganlah terjerumus dalam era tren dan menyesal di kemudian hari.
***
Kesimpulannya, pentingnya untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan keinginan dalam menghadapi tantangan modern berupa gaya hidup konsumtif dari godaan produk-produk lucu ini. Kita harus selalu ingat bahwa kebahagiaan sejati lebih berharga serta pengaruh tren ada masanya. Sebaiknya, kita fokus pada hal-hal yang lebih penting dalam hidup, seperti hubungan sosial, kesehatan, dan pengembangan diri.
Tumbuhnya gaya hidup konsumtif akan produk-produk lucu dapat memberikan hiburan dan keceriaan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, kita harus bijak dalam menghadapinya agar tidak terjebak dalam siklus belanja tanpa henti. Tegas kepada diri sendiri sangat kita perlukan untuk menghadapi sikap konsumtif agar diri tersadar dan berfokus dengan hal-hal yang lebih bermanfaat.
Mempunyai hobi menonton film dan drama, mendengarkan musik, dan bernyanyi. Instagram : @noviarahmahz Twitter : @piwshre / @rnebbyouu
