Karirku: Seorang Ibu
Dunia sedang sulit. Yang kuat semakin memperkuat diri, yang lemah semakin terpuruk, terperosok dalam. Hal-hal yang dimiliki di dunia ini adalah fana. Fatamorgana belaka. Nanti setelah kita berhenti bernafas, semua akan tinggal ingatan bawah sadar yang bahkan kita tak akan sadari. Namun, mengapa semua bersikeras mengejar segala harta dan tahta, kesenangan, kepemilikan yang sebenarnya itu fana?
Penyair butuh banyak merenung untuk menemukan titik dimana karya itu muncul. Pendongeng butuh banyak melihat bermacam referensi cerita menarik yang membuat orang akan mendengarkan dongengnya. Pendidik butuh belajar supaya yang dididik juga mau belajar. Manusia ternyata memang membutuhkan sebuah ruang untuk menemukan sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia lain. Manusia akan saling menemukan.
Jika dahulu sebelum menjadi seorang istri rasanya hidupku hanya berputar pada kebutuhan pokok dan mencari penghasilan, saat ini hidupku memiliki banyak putaran. Saat-saat satu-persatu nyawa lahir dari rahimku, elemen-elemen baru bermunculan dan berputar tiada henti. Banyak hal baru yang tidak kutemukan saat dulu aku hanya sendiri. Ada seorang lelaki yang harus kuhormati dan tiga peri kecil yang harus senantiasa kupeluk dalam situasi apapun. Duniaku rasanya semakin kompleks. Dan semua berputar lebih cepat dari yang kubayangkan.
Berkutat dengan murid privatku, menemani hari-hari murid spesialku, belajar mata pelajaran SD sampai SMA, mengendarai motor keliling kota Jogja untuk mengajar, bersenandung sambal menulis diary, mengobrol bersama teman serumah, menonton series ketika luang, mengikuti kajian rutin di pagi atau sore hari… Ya, semua hal itu yang kulakukan selepas lulus dari dunia perkuliahan. Hal-hal produktif yang amat kurindukan. Bahkan menjadi guru pseudo di SD inklusi mulai pukul tujuh pagi sampai pukul dua siang setiap weekday dan mengajar privat 11 kali selama seminggu di beberapa tempat yang berbeda adalah kenangan tak ternilai. Mengapa? Karena saat ini, aku sedang tidak menggenggamnya lagi.
Hari-hari berkutat dengan pikiran sendiri. Selain suami dan anak-anakku, tidak ada yang kuajak mengobrol lagi. Mereka pun ada di rumah ketika pagi sebelum beraktivitas -suamiku bekerja dan anak-anak sekolah- lalu sore hari saat pulang. Merawat toddler yang sedang banyak tingkahnya adalah kesibukan utamaku saat ini. Hal yang sangat kusadari, aku sadar dunia tidak bisa hanya berputar satu meter di sekelilingku saja. Aku perlu sesuatu untuk mengembangkan diri.
Betapa sangat bersyukur ketika seorang istri diberikan ‘hadiah’ untuk bisa bersekolah lagi oleh suami. Hal ini yang dilakukan suamiku. Ketika berada di titik kegagalan ketika melamar pekerjaan, suamiku menawarkan kepadaku untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ini memacu jiwa muda penuh ambisi yang beberapa tahun ke belakang berhibernasi karena keadaan. Aku bersemangat sangat.
Menjadi seorang mahasiswa sekaligus ibu dari anakku dan istri dari suamiku menjadikan peranku semakin bertumpuk. Begitupun pikiranku, cabangnya sudah menjalar sebelum waktunya. Pengertian demi pengertian kucoba tanamkan pada anak-anak. “Kak, umma sekarang sedang sekolah, kakak mulai untuk sekolah juga ya. Maaf kalau harus mulai sekolah sekarang. Nanti di sekolah kakak bertemu banyak teman, bisa bermain lho!” begitu soundingku pada anak sulung yang baru berumur 3 tahun kala itu. “Adek, umma kuliah online dulu ya. Kuliahnya dari hape, jadi adek ngga boleh berisik ya. Tolong kerjasamanya ya, sayang!, ucapku pada si bungsu yang berusia 1,5 tahun. Bisa dibayangkan bagaimana polahnya ibu?
Setiap manusia punya impian kan? ada yang punya mimpi lalu tercapai saat usia sangat muda, ada juga yang impiannya tercapai di usia paruh baya, ada juga yang sampai akhir hayat impiannya tidak pernah tercapai. Tidak semua mimpi tercapai. Manusia punya keinginan, impian, angan-angan untuk masa depannya. Semua manusia selalu ingin kehidupan yang lebih baik untuk hari tuanya. Tapi penentu dari segala hal yang terjadi di masa depan hanyalah Sang Maha Segalanya.
Pendidik adalah cita-citaku. Aku selalu bermimpi suatu saat akan bisa menjadi pengajar professional seperti orang tua dan bulik-bulikku. Bapakku pernah berkata, “impianmu adalh jadi pendidik, maka lanjutkan mimpimu, karena suatu saat nanti entah kapan, apa yang diangan-angan dan diikhtiarkan Insya Allah akan tercapai”. Perkataan bapak ini yang menguatkan hatiku dan pendirianku untuk mengusahakan semaksimal mungkin apa yang telah lama terpatri di angan dan menjadi cita masa depan. Aku memang seorang ibu, tapi aku punya cita-cita yang bisa menjadikan diriku lebih bersemangat sebagai seorang ibu. Kelak, aku ingin meninggalkan warisan ilmu untuk anakku dan anak didikku. Kelak, kuharap namaku masih disebut dalam doa-doa indah mereka. Jangan pernah lelah merajut mimpi walau saat ini berkarir di rumah. Apa yang dicita-citakan, jika diusahakan dan dimintakan lewat jalur langit, akan tercapai jika Ia menghendaki itu tercapai. jangan lelah berdoa da berusaha. Semangat untuk semua ibu sepertiku. Selamat berkarir berhadiah surga!
Ibu muda (usia 28 tahun) dari 3 orang anak, baru saja menyelesaikan pendidikan master di Magister Ilmu Peternakan Fakultas Peternakan UGM.

Pingback: Anak-Anak Dilarang Berimajinasi - Inspirasi Muslimah