f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
masyarakat

Pengaruh Perempuan untuk Mengubah Peradaban

Jika membicarakan mengenai perempuan, barangkali ada banyak hal yang terlintas pada otak kita, seperti menggambarkan bahwa perempuan adalah makluk yang cantik, lemah, berambut panjang, senang ber-makeup, makhluk yang dapat mengandung dan melahirkan, atau dalam peranan kehidupan sosial perempuan seringkali menjadi bahan pemuas nafsu lelaki, seringkali menjadi korban pelecehan seksual, serta tugasnya hanya berada di kasur, di sumur dan di dapur. Padahal perempuan memiliki pengaruh besar dalam kontribusi peradaban karena dari rahim seorang ibu yang tangguh itulah yang melahirkan anak yang tangguh pula.

Dalam diskursus agama juga, persoalan perempuan versus agama seiring dengan perkembangannya telah mengalami sedikit genjatan senjata. Karena banyak dari kaum perempuan yang menyadari dan mempertanyakan apakah agama telah menjadi penjara bari perempuan dan dapat menghambat perempuan untuk berkembang? Pertanyaan itu sering kali kita ketemukan di dalam kehidupan bersosial kita hari ini. Oleh karena itu, para agamawan, cendikiawan muslim, akademisi muslim baik secara personal maupun kelompok dituntut jeli dalam melihat problem ini. Apakah ketidakadilan terhadap perempuan bersifat inheren ataukah terletak pada tafsir keagamaan? Atau, bisa jadi terpengaruh oleh kultur daerah tertentu.

Memang, di dalam sejarah kenabian, penulis belum menemukan nabi yang berjenis kelamin perempuan, namun bukan berarti kaum perempuan memiliki derajat yang rendah dari laki-laki, atau beranggapan bahwa akal yang dimiliki perempuan lebih rendah dari laki-laki. Mari kita flashback pada masa pemerintahan negeri Saba yang sangat gemilang sehingga dijuluki sebagai negeri yang Baldatun Thoyibun wa Robun Ghafur. Kala itu negeri Saba dipimpin oleh seorang ratu yang bernama Ratu Bilqis. Di Indonesia juga, kita pernah dipimpin oleh seorang anak Proklamator kemerdekaan yakni Megawati Soekarno Puteri. Hal ini menunjukan bahwa perempuan mampu menjadi partner dan dapat mengepalai laki-laki dalam urusan hierarki kebangsaan.

Sejarah kepemimpinan perempuan menjadi landasan untuk meng-counter pemikiran bahwa perempuan itu lebih lemah akalnya dari laki-laki

Dewasa ini sudah banyak kita ketemukan banyaknya perempuan yang meraih peringkat terbaik, tercepat, termuda, dalam urusan akademik. Di banyak instansi juga, perempuan bukan hanya menjadi bawahan laki-laki dalam urusan struktural atau karier, perempuan menjadi leader perusahaan. Perihal kemampun akal yang dianggap lebih lemah dari laki-laki itu hanya anggapan stereotif yang menjamur di masyarakat patriarki.

Dalam segi setereotif-normatif, perempuan dipandang lebih baik jika menjadi ibu rumah tangga daripada harus bekerja (dalam konteks suami istri). Hal ini sering menjadi mispersepsi antara kelompok pejuang kesetaraan dan kaum laki-laki itu sendiri, padahal perempuan lebih baik menjadi ibu rumah tangga bukan berarti laki-laki membelenggu kebebasan perempuan, sejatinya laki-laki berniat memuliakan perempuan untuk senantiasa dilayani sebagai halnya ratu yang hanya mengurusi rumah tangga dan anak saja. Biarlah laki-laki yang bekerja keras di luar untuk mencari nafkah. Adapun jika istri menginginkan untuk berkarir suami pun tidak boleh melarangnya, selama tidak melanggar norma-norma yang berlaku.

Anggapan lain, perempuan pada umumnya lebih mengedepankan rasa daripada rasio, berbeda dengan halnya laki-laki yang mengedepankan rasio daripada rasa. Jika penulis boleh berpendapat, sebenarnya mengedapankan rasa di dalam menyelesaikan suatu permasalahan akan lebih baik daripada harus mengedepankan rasio. Alasan mendasarnya ketika mengedepankan rasa adalah kita mampu saling memahami satu sama lain.

Dalam tatanan kehidupan bermasyarakat tentunya ada orang kaya dan orang miskin, ketika si kaya tidak memiliki perasaan untuk membantu si miskin tentunya tidak ada sumbangan harta untuk si miskin, jika si kaya berpikir secara rasio “mengapa saya harus memberikan harta ini untuk orang lain, toh ini merupakan hasil keringat saya”. Inilah mengapa pentingnya mengedepankan rasa daripada rasio. Kemudian timbul pertanyaan, bukankah suatu peradaban dimulai dengan kita berpikir rasional? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut mari kita merenung sejenak untuk memahami rasa.

Sebenarnya akal, logika, dan rasio itu timbul karena bergejolaknya hati (rasa)

Ketika kita mengalami tindakan yang tidak menyenangkan tentunya hati akan merasa gundah. Akhirnya otak (rasio) berpikir, bagaimana caranya agar tindakan yang tidak menyenangkan itu mampu terbalaskan. Tindakan tidak menyenangkan itu bisa datang dari diri sendiri ataupun orang lain. M,isal dari diri sendiri ketika manusia mengalami kebosanan dalam menulis menggunakan pena, dengan rasa bosan tersebut, manusia berpikir bagaimana caranya agar ada inovasi baru (dalam membalas/menghilangkan kebosanan) bahwa menulis tidak hanya menggunakan pena.

Maka peradaban sebenarnya dimulai dengan cara kita menjadi kaum perasa sebagaimana disebutkan dalam QS. Ar-Rad:11 Allah berfirman yang artinya,“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sebelum mereka merubah keadaan diri mereka sendiri”. Dari potongan ayat tersebut, Allah telah memberikan isyarat bahwa manusia dituntut untuk merubah diri sendiri, artinya perubahan yang paling substansial diawali oleh pola rasa. Ketika manusia mampu merubah pola rasa yang baik maka akan melahirkan suatu peradaban yang baik pula.

Sehingga dalam hal ini dan untuk konteks kehidupan berbangsa, peranan perempuan di dalam memajukan suatu bangsa tidak boleh diabaikan. Perempuan dan laki-laki dari segi fisik memang memiliki perbedaan, akan tetapi sebagai makhluk Allah yang Maha Esa tentunya perempuan dan laki-laki memiliki hak dan kewajiban yang sama. Laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama di mata Allah Swt, yang membedakan adalah tingkat keimanan masing-masing.

Bagikan
Post a Comment