Nak, Jangan Lepaskan Kacamatamu
Saya tak begitu paham apa yang dimaksud langit ketujuh. Tapi saya cukup tahu rasanya bermata minus tujuh.
Perjalanan saya sebagai lelaki berkacamata cukup panjang. Tak terhitung berapa kali saya berganti kacamata. Ada peristiwa yang tak bisa saya lupakan. Ketika masih sekolah, kacamata saya rusak. Ternyata kacamata pengganti yang kemudian dibelikan ibu berasal dari utang kepada tetangga.
Sewaktu kuliah di kota yang jauh, lensa kacamata saya juga pernah pecah. Saya pulang dengan pandangan serba kabur, sampai tak bisa membaca bus mana yang harus saya masuki. Bahkan sepanjang perjalanan pulang, saya tak bisa melihat sejauh apa perjalanan yang masih harus ditempuh. Pernah pula saya jadi tertawaan, gegara menabrak kaca di sebuah mal yang saya kira pintu, sekalipun saya sudah dibantu kacamata.
Sejak sekolah dasar anak saya juga mengalami miopi. Suatu hari, saya menyaksikan ia tampil menari dalam sebuah pertunjukan di sekolah. Saya melihatnya melepas kacamata.
“Kenapa kacamatanya dilepas?”, saya bertanya dengan cemas. Tanpa kacamata, naik turun tangga bisa salah pijak. Kakinya bisa saja tersandung. Jatuh di tengah pertunjukan tentu akan terlihat konyol. Seperti saat saya menabrak kaca mal dahulu.
“Biar nggak kelihatan penontonnya, Ayah. Jadi aku bisa percaya diri.”
Jawabannya bikin saya tersenyum. Rupanya trik yang pernah saya lakukan puluhan tahun lalu terwariskan begitu saja. Oh ya, dulu saya juga punya sahabat yang kerap dijuluki “pantat botol” karena kacamatanya begitu tebal. Kami berdua punya cara yang sama untuk mengurangi demam panggung.
Jadi, begitu mendengarkan lagu Rabun Jauh dari Bernadya, saya merasa tak asing. Rupanya dia menjiplak pengalaman saya. Ah, tentu saja saya bercanda. Ada benarnya, ketika wajah-wajah penonton tidak terlihat jelas, rasa gugup ikut berkurang.
Ternyata, cara seperti itu juga hadir dalam kehidupan sehari-hari. Ketika muncul gejala sakit, misalnya, tak sedikit orang yang memilih mengabaikannya dan enggan pergi ke dokter. Bukan karena tidak tahu sedang ada sesuatu dalam tubuh kita, melainkan karena takut mengetahui apa sebenarnya yang terjadi.
Begitu pula dengan kritik. Kita kadang cemas terhadap penilaian orang lain bukan karena menganggap diri sudah sempurna, tetapi karena khawatir kritik itu memperlihatkan kenyataan tentang diri sendiri. Kita enggan menerima bahwa mungkin kita keliru, kemampuan kita tidak sebesar yang dikira, atau keputusan yang selama ini kita yakini ternyata perlu diperbaiki.
Saya pernah mengalaminya. Suatu kali saya menjadi narasumber dalam sebuah podcast yang disiarkan secara langsung. Setelahnya, saya merasa penampilan saya buruk. Saya bahkan tidak berani menonton kembali rekamannya. Bukan karena tidak punya waktu. Saya hanya belum siap melihat diri sendiri dari sudut pandang orang lain.
Ketika akhirnya pelan-pelan berani menontonnya, saya sadar bahwa ditonton atau tidak, kenyataannya tetap sama. Bedanya, dengan menontonnya kembali, justru saya bisa melihat sesuatu yang sebelumnya saya hindari. Saya bisa mengukur kekurangan diri.
Jangan-jangan selama ini kita bukan sedang mengalahkan demam panggung. Kita hanya mengurangi jarak pandang terhadap kenyataan. Ada kalanya kita sengaja membuat sesuatu menjadi kabur. Bukan karena mata kita bermasalah, melainkan karena kita tidak ingin melihatnya terlalu jelas.
Kita mudah mencari alasan ketika mendapat kritik, memilih lingkungan yang selalu membenarkan, atau hanya membaca pendapat yang sesuai dengan pikiran sendiri. Semua itu membuat kita merasa lebih nyaman.
Bolehlah sebentar meminjam kacamata Maudy Ayunda. Polemik yang muncul dari gagasan Maudy membuat saya kembali teringat pada kacamata anak saya. Pendapatnya tentang Mindfulness in the Age of Bad News dikritik karena sebagian orang menilai mengambil jarak dari berita buruk dapat terasa berbeda bagi mereka yang hidup langsung dalam dampak persoalan tersebut.
Hal yang menarik bukan sekadar kritiknya, melainkan apa yang terjadi sesudahnya. Maudy berani meminta maaf dan mengakui ada perspektif yang belum cukup ia refleksikan, lalu ia menyatakan menghargai masukan tersebut.
Nah, barangkali di situlah kacamata Maudy berguna. Di atas panggung, melepas kacamata mungkin membuat seseorang lebih berani karena penonton menjadi kabur. Dalam kehidupan, kita justru membutuhkan kacamata agar bisa melihat lebih jelas.
Kritik memang tidak selalu nyaman. Kadang membuat kita ingin segera mencari alasan. Dalam pekerjaan, saya pun tidak selalu luput dari sorotan. Tetapi kritik bisa menjadi kacamata yang dipinjamkan oleh orang lain agar kita melihat sesuatu yang luput dari pandangan sendiri. Masalahnya, memakai kacamata itu berarti bersedia melihat. Dan melihat diri sendiri memang tidak selalu menyenangkan.
Jujur saja, saya merasa tulisan ini sedang menunjuk muka sendiri. Meskipun sudah berganti-ganti kacamata, saya tetap tidak selalu siap menerima kritik. Bahkan dengan kacamata yang terpasang pun, kadang sulit objektif terhadap kenyataan. Ada kritik yang saya terima sambil mengangguk. Ada pula yang membuat saya diam-diam mencari pembenaran.
Mungkin begitulah manusia, ya? Serba ingin terlihat baik, tetapi tidak selalu siap melihat bagian diri yang tak diharapkan. Jerawat satu titik menjadi fokus, sedang keseluruhan wajah yang baik-baik saja seolah bukan kenyataan. Kita ingin dianggap mampu, tetapi takut ketika seseorang menunjukkan batas kemampuan kita. Sesekali pandangan boleh kabur. Seharusnya kita jangan ikut kabur dari apa yang sedang kita lihat.
Hingga suatu waktu anak saya pernah beralasan.
“Kan bisa pakai lensa kontak, Ayah. Bahkan kalau mau, bisa operasi Lasik. Jadi tak perlu berkacamata lagi.”
Pada akhirnya, saya harus mau mendengar cara orang lain melihat sesuatu. Angka sembilan bisa terlihat sebagai angka enam bagi orang yang berhadapan. Begitulah kenyataan, kadang terlihat berbeda dari tempat kita berdiri. Apalagi jika pendapat itu datang dari anak sendiri. Anak satu-satunya. Tidak ada salahnya meminjam kacamata anak sendiri, kan?
Saya membolehkannya memakai lensa kontak ketika harus tampil atau melakukan kegiatan yang banyak bergerak.
Nak, baiklah. Kalau soal kacamata, memang boleh saja dilepas. Tapi jangan sampai kita ikut kabur dari kenyataan. Sebab sejauh apa pun kita mengaburkan pandangan, kenyataan tetap ada. Bahkan sampai ke langit ketujuh.

Semula ayanya berniat menyematkan Nurul Ka’bah di akta kelahiran sebagai namanya. Bertautan kisah itu, kata “cahaya” diwariskan menjadi nama puterinya. Keseharian ia menjadi policy analyst di Pemerintah Kota Tegal. Suka membaca dan menulis menjadi caranya untuk “mencahayai” setidaknya untuk dirinya sendiri.
