Sang Perempuan Tangguh (Sebuah Kesaksian)
Perempuan
Pada era emansipasi wanita seperti saat ini, setiap wanita diwajibkan berperan penting dalam setiap aspek kehidupan juga dituntut untuk serba bisa. Faktanya tidak semua perempuan bisa bertindak demikian karena bagi beberapa orang, bahwa perempuan masih wajib bergantung pada kaum laki-laki. Tidak hanya itu beberapa orang selalu beranggapan, bahwa perempuan yang memiliki pekerjaan bukanlah perempuan yang baik.
Lantas bagaimanakah jika seorang perempuan harus berperan ganda dalam kehidupan rumah tangganya? Tak sedikit perempuan yang akhirnya menjadi tulang punggung keluarga. Entah karena himpitan ekonomi atau karena takdir yang memang mengharuskannya memilih untuk bekerja.
Banyak perusahaan dengan skala besar baik nasional maupun internasional yang karyawannya sebagian besar seorang perempuan. Semua berkat emansipasi wanita yang digagas oleh tokoh emasipasi kita, yakni Ibu RA Kartini. Selain keahlian, seorang perempuan diyakini mampu menjadi tim negosiasi yang handal.
Perempuan juga mampu membawa perdamaian serta memberikan kasih sayang pada setiap bidang pekerjaan yang dia lakoni. Namun, mereka tak pernah melupakan bahwa, ketika di rumah dia tetaplah seorang ibu sekaligus istri bagi keluarganya. Itulah takdir yang harus dia jalani tanpa mengeluh dan tetap memberikan yang terbaik, meskipun nyatanya dia harus rela terluka dan tersayat berulang kali.
Di era globalisasi perempuan dituntut untuk menjadi makhluk multi talenta. Bukan untuk menyenangkan orang lain tetapi, agar keberadaannya lebih diakui oleh khalayak ramai. Selain itu agar saat dia harus berjuang sendiri dan memainkan peran menjadi seorang ayah sekaligus ibu untuk buah hatinya tak menjadi cemoohan orang-orang. Maka dia harus lebih kuat dari yang terlihat
Bagi beberapa orang, seorang perempuan yang telah kehilangan suaminya berarti kehilangan pula penopang hidupnya. Bahtera yang mereka tumpangi akan mengalami guncangan dan jika penumpang tak mampu mengambil alih pekerjaan sang nahkoda. Maka bisa dipastikan bahwa bahtera itu akan hancur terhempas ombak dan karang.
Konflik
Menjadi orang tua tunggal saat kedua anaknya masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Tak lantas membuat seorang ibu bernama Maslichah berpangku tangan. Terlahir dari keluarga sederhana yang bisa dikatakan kurang dari kata mampu ataupun cukup.
Terbiasa hidup sederhana membuatnya selalu bersyukur atas nikmat yang dia peroleh. Memiliki anak dengan rentang jarak usia lima tahun membuatnya semakin bersyukur. Namun, semua kebahagiaan itu tak bertahan lama. Setahun setelah anak ke duanya terlahir suami yang tulang punggung dan kebanggan keluarga telah berpulang secara mendadak.
Kehidupan yang awalnya baik-baik saja, kini terguncang. Perempuan yang kesehariannya mengajar sebagai guru ngaji di mushalla terdekat, harus memutar otak bagaimana caranya agar nafkah yang dia dapat mampu menghidupi kedua anaknya sekaligus orang tuanya.
Di saat seperti inilah kodratnya sebagai seorang perempuan yang biasanya hanya memutar otak untuk belanja bulanan. Dipaksa harus memutar otak bagaimana caranya dia bisa menambah penghasilan, tetapi tetap mampu menjadi ibu sekaligus ayah untuk kedua buah hatinya.
Puncak Konflik
Rizki memang tak akan kemana saat dia harus bekerja kasar di sekitar rumah. Tiba-tiba, datang seorang yang bekerja di salah satu madrasah tak jauh dari rumah Maslichah, dan menyampaikan berita bahwa di sekolahnya membutuhkan tenaga pengajar tambahan karena ada salah satu guru yang harus keluar karena mengikuti suami pindah tugas. Tanpa berfikir panjang, Maslichah segera mendaftar ke sekolah tersebut, dan beberapa hari kemudian mulai mengajar dengan status guru honorer.
Perempuan yang terlahir di sebuah desa bernama Jatirejo yang berada di kecamatan Porong kota Sidoarjo. Setiap hari, Maslichah menjalani profesi barunya dengan ikhlas; dan sepulang dari madrasah dia melanjutkan mendatangi rumah-rumah yang membutuhkan jasa baca tulis bahasa arab yang ia kuasai. Maslichah berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarga meskipun raga terasa lelah, namun dia tetap tersenyum dan bersemangat demi anak-anak sekaligus orang tuanya.
Resolusi
Genap dua tahun sudah dia menjadi seorang pahlawan tanpa tanda jasa, meskipun dia tetap mengajar anak-anak mengaji. Namun, siapa yang mampu menolak takdir, semua yang tampak baik-baik saja nyatanya itu sebagai pengingat kita agar tetap bersyukur. Sekali lagi, Maslichah diuji meskipun bukan hanya dirinya saja, akan tetapi seluruh warga desa.
Perusahaan migas yang melakukan pengeboran gas alam di daerah sekitar desanya mengirim bencana bagi seluruh warga. Gas alam yang mengandung hidrogen sulfida itu terhirup oleh warga, selain itu pengeboran yang mereka lakukan selama ini ternyata mengalami kebocoran di mana-mana. Kebocoran itu juga tak bisa ditambal atau ditutupi hingga akhirnya membuat beberapa desa terendam oleh luapan lumpur yang terus muncul.
Maslichah adalah salah satu dari sekian warga yang terpaksa pindah karena semburan lumpur telah merendam desanya dengan luapan yang tak mampu dihentikan oleh pihak manapun. Dengan uang ganti rugi yang tidak sepadan akhirnya dia memilih untuk pindah dengan membeli sebuah rumah kontrakan yang jauh dari semburan ataupun luapan lumpur.
Setelah keadaan kondusif, anak pertama mengatakan keinginannya jika dia ingin melanjutkan SMP hingga SMA di sebuah pondok pesantren di Desa Peterongan Jombang. Ibu dua anak itu pun langsung mengiyakan permintaan sang anak karena dia yakin bahwa tiada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak. Kini kehidupan mereka telah lebih baik dan semua atas ijin Allah; anak pertama mampu menyelesaikan pendidikan bahkan hingga mendapat gelar S1, dan diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta di Surabaya.
*
Berkat kerja keras mereka, sedikit demi sedikit uang terkumpul hingga suatu saat Maslichah sekeluarga berhasil membeli rumah sendiri yang tidak jauh dari kontrakannya. Maslichah sangat meyakini bahwa kerja keras tidak akan mengkhianati hasil. Semangat kerja keras keluarga Maslichah diikuti anak keduanya hingga ia berhasil mendapat beasiswa dari pondok untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Al Azhar, Mesir.
Tantangan yang dihadapi anak kedua setelah berada di Mesir tetap ada, terutama menyangkut biaya sekolah setelah bantuan beasiswa berakhir. Pihak pondok menanggung seluruh biaya pemberangkatan, pendidikan, dan pemondokan hingga satu semester. Lalu, bagaimana kelanjutan sekolah anak keduanya?
Kekuatan doa, zikir, disertai upaya keras menjadi sumber kekuatan seorang Maslichah. Setelahnya, ia hanya bisa memasrahkan segala keputusan kepada Tuhan Semesta Alam. Berbagai riak, cobaan, hambatan sebelumnya telah ia lalui dengan penuh keikhlasan. Dalam kondisi yang hampir sama, Maslichah meyakini bahwa masa depan putra keduanya akan indah pada waktunya.
Penulis dari Sidoarjo
Instagram @wahyuprihartanto6284

Muhammad Abbas
Semoga tetap istiqomah dlm pengabdian
Lusiana
Menginspirasi
Dini
Luar biasa perjuangannya ,antara ikhtiar, pasrah dan keyakinan akan pertolongan sang khaliq
Maslichah
Smoga kita slalu mendapatkan pertolongan dan hidayah dari Alloh SWT. Aamiin yaa Robbl Aalamiin
Marjuki
Tulisan yg bagus, bergizi, inspiratif, idenya mengalir sampai jauh