f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
margareth

Obituari : Margareth, Derap Hidup untuk Perempuan dan Anak

“Mbak ku, jam piro sampai Jakarta,” notif wa seorang sahabat yang juga Ketua KPAI, Mbak Margareth atau saya lebih akrab memanggil Mbak MAM, agak sering terkirim setiap hari Senin akhir-akhir ini.

Sesampai Jakarta biasanya kami meluangkan waktu sekedar ngopi atau makan siang bersama, tidak terlalu sering, namun sebulan sekali pasti kami lakukan, terutama setelah Mbak Margaret terpilih menjadi Ketua KPAI bulan Agustus 2025 yang lalu. Pembicaraan kami sangat random tidak serius, dari mulai dinamika NU-Muhammadiyah, gerakan, politik, hingga diskon baju dan kulineran. Namun di akhir pertemuan kami selalu saling menyemangati.

Sesama yang pernah memimpin organisasi masyarakat perempuan progresif di masing-masing organisasi, Mbak MAM Fatayat NU dan saya pernah menjadi Ketua Umum PP Nasyiatul Aisyiyah Muhammadiyah, tentu bagi orang lain tema pembicaraan kami berat, namun nyatanya tidak. Saya pernah menyampaikan kepada Mbak Margareth kisah persahabatan Buya Syafii Ma’arif dan Gus Mus, kisah persahabatan mereka bukan dari jarak atau intensitas pertemuan, tapi dari pemikiran dan gagasan kebangsaan. Saya menyampaikan ini karena berharap persahabatan kami pun mencontoh tauladan kami masing-masing.

Menjelang akhir hayat beliau, sebelum dirawat di RS Fatmawati, saya pun masih sempat berkelakar di hari Kamis tanggal 12 Februari setelah saya pulang dari pengawasan kasus anak di Ngada, Nusa Tenggara Timur. Saya menyempakan main sebentar di ruangan beliau sambil saya mengupdate kasus anak, nampak beliau agak lelah namun masih menyempatkan diri untuk ngantor di KPAI, malah sempatnya saya berkelakar, “Mbak, minum obat gih, njuk istirahat sik,” saya mengingatkan beliau untuk beristirahat sejenak.

“Ora wis, iki yo ngko tak neng dokter wis,” jawaban beliau dengan Bahasa Jawa Timur-an medok.

Tak terasa itu pertemuan terakhir kami, sebelum saya menjenguk Mbak Margareth ketika dirawat di RS pekan lalu.

Seleksi KPAI dan Pada Sebuah Perjumpaan

Sambil menunggu giliran kami Medical Check Up di RSPP pada medio awal tahun 2022 lalu saya bersebelahan duduk dengan Mbak Margareth, kami sudah lama saling tahu, hanya kali itu kami bisa bincang dengan intens. Saat itu saya masih sebagai Ketua Umum PP Nasyiatul Aisyiyah, sedang Mbak Margareth sebagai Sekjend PP Fatayat NU, diskusi mengalir dari aktivitas masing-masing kami di organisasi. Sesekali kami pun saling bercerita di masing-masing ikatan di periode yang sama. Mbak Margareth 20-an tahun yang lalu pernah menjadi Ketua Umum PP Ikatan Pelajar Perempuan NU (IPPNU) sementara saat itu saya aktif sebagai Ketua Irmawati PP Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM sebelum berubah menjadi IPM). Tanpa dinyana kami pernah satu forum dalam Poros Pelajar dan saat itu pertemuan dilakukan di Gedung Dakwah Muhammadiyah Menteng, namun kami hanya mengingat forum itu saja tanpa terdefinisikan detail pembicaraan saat itu.

Saat itu Mbak Margareth banyak bertanya bagaimana menjadi Ketum, meski secara usia saya lebih muda, tentu saya agak terheran dengan pertanyaan beliau. Saya sampaikan bahwa masing-masing organisasi tentu memiliki perbedaan budaya dan ciri khas, begitu juga di Nasyiatul Aisyiyah ataupun Fatayat NU. Justru saya kembali bertanya saat itu, “Mbak Margareth harus siap menjadi Ketum Fatayat lho,”. Pernyataan saya membuat beliau kaget, barangkali semacam di luar kebiasaan, baru ketemu intens, tapi saya langsung menyampaikan demikian. Namun begitulah kiranya saya yang memang suka ngomong apa adanya dan cenderung ceplas ceplos.

Baca Juga  Mendorong Kebijakan Humanis Pendidikan di Masa Pandemi

Di akhir pembicaraan kami menunggu antrian MCU, saya pun kembali bertanya, “Mbak, kenapa Mbak tidak masuk di politik ? Kenapa memilih jalur lain daripada beberapa pimpinan Fatayat NU yang saat itu memilih terjun dalam dunia politik ? Padahal jadi komisioner KPAI mungkin secara banyak hal sangat jauh daripada di dunia politik ?,” pertanyaan saya yang sekali lagi membuat Mbak Margareth kaget. Namun jujur bagi saya pun pilihan Mbak Margareth yang saat itu sudah menjadi Sekjend Fatayat NU namun memilih kembali akan mengabdi di KPAI tentu saja menarik bagi saya.

Saat itu beliau menjawab, “Mbak, saya mungkin berbeda dengan yang lain, saya lebih suka memilih di jalan pengabdian, meskipun jauh dari riuh tepuk tangan dan dunia politik. Bagi saya ini pengabdian yang luar biasa untuk anak-anak Indonesia, meski gaji dan anggaran sangat jauh, ya sebagai aktifis sejak pelajar ini dunia saya,” ungkap beliau dan gentian saya yang terheran. Dalam hati, saya berucap, saya menemukan teman sepemikiran ini, meski ibaratnya bagi kami uang tetap butuh namun pengabdian lebih utama. Ya tentu saja, dunia pelajar kami yang memilih untuk aktif menjadi dasar hingga saat ini kami melangkah ke jauh nilai kehidupan.

Sebelum salah satu dari kami beranjak karena dipanggil untuk MCU, saya pun meninggalkan pesan singkat, “Mbak, insyaAllah saya nanti datang ke Kongres Fatayat di Palembang, tapi Mbak harus jadi Ketua Umum ya,” sambil saya berlalu dan asal ngomong saja. Tak terasa beberapa bulan kemudian Kongres Fatayat di Palembang saya benar datang dan kemudian benarlah Mbak Margareth menjadi Ketua Umum.

Tentang Gerakan Perempuan dan Anak

Kami sering berdiskusi bagaimana perempuan muda di Indonesia bisa berdaya dengan berbagai tantangan dan hambatan yang ada, tidak jarang kami pun bercerita kondisi, program hingga capaian yang dilakukan. Karena kami bersama aktif dalam isu perempuan, maka banyak pembicaraan menjadi sangat asyik dan menyenangkan. Bagi kami perbedaan NU dan Muhammadiyah tidak untuk diperdebatkan lagi, bahkan sesekali kami bercanda juga tentang perbedaan ini. “Mbak, puasa tahun ini kayaknya beda ya, Muhammadiyah lebih dulu,” seloroh saya sambil kami bersantai. “Iya Mbak, NU masih mencari hilal, paling ngumpet di Muhammadiyah,” jawab Mbak Margareth. Kami pun tertawa. Guyonan seperti ini yang biasa bagi kami, bahkan jokes-jokes semacam hal ikthtilaf dalam ibadah bukan menonjolkan perbedaan, namun justru saling menghormati perbedaan itu.

Dalam gerakan perempuan di Fatayat ataupun di Nasyiatul Aisyiyah atau sekarang saya di ‘Aisyiyah menjadi semacam pembagian peran. Beliau belajar bagaimana ‘Aisyiyah konsisten dan massif dengan gerakan Posbakum (Pos Bantuan Hukum) Aisyiyah yang saat ini berjumlah 100 lebih. Begitu juga saya belajar bagaimana menggerakkan perempuan di daerah pesisir atau komunitas dari Fatayat. Artinya kami saling mengisi dan diskusi pun panjang hingga menjelang Pemilu 2024 lalu. Kami punya pandangan politik yang ternyata sama, dan tentu saja pertimbangan keberpihakan dan perjuangan perempuan dan anak.

Baca Juga  Pentingnya Pendidikan Seks Sejak Dini

Di awal setelah terpilihnya kami bersembilan menjadi komisioner KPAI, saya termasuk yang awal mendukung Mbak Margareth menjadi Ketua. Mungkin bagi beliau statemen saya terlalu mengangetkan, namun saya memiliki beberapa pertimbangan politik dan kajian strategis yang saya sampaikan langsung ke beliau. Lagi-lagi Mbak Margareth kaget dengan sikap saya tersebut, namun saya konsisten dengan pendapat saya. Hingga akhirnya di pertengahan periode, sepulang saya menjadi petugas haji, saya masih konsisten meminta beliau menjadi Ketua KPAI dengan pertimbangan saya yang matang.

Perjuangan dan pengabdian Mbak Margareth dalam melindungi anak-anak Indonesia tidak diragukan lagi. Kali ini adalah periode kedua beliau menjabat, ini artinya beliau konsisten dalam perjuangan pemenuhan hak dan perlindungan anak di Indonesia. Di periode kedua ini beliau bertanggung jawab sebagai pengampu kluster anak korban jaringan teroris, anak korban HIV AIDS dan anak dengan perilaku menyimpang.

Pernah dalam sebuah perbincangan kami tentang anak korban jaringan terorisme, beliau menceritakan secara rinci dan detil bagaimana menguak kondisi anak-anak tersebut, termasuk ketika harus bertemu dengan keluarga anak korban jaringan terorisme di Poso, Sulawesi Tengah, di Dompu, NTB, di Lamongan, Jawa Timur dan di Jawa Tengah. Begitu juga ketika kami sama-sama mendampingi kasus ledakan bom di salah satu SMA di Jakarta, sejak awal beliau sudah curiga adanya keterlibatan dalam jaringan terorisme, saya pun berpikir demikian, namun pola ini berbeda, kira-kira begitu kesimpulan kami. Dan ternyata betul bahwa anak pelaku adalah anak korban jaringan terorisme versi baru yang direkrut dari game online dan berakhir dalam grup TCC (True Crime Community).

Selain itu kegigihan Mbak Margareth dalam penguatan kelembagaan KPAI saat ini yang sedang di ujung tanduk sangat luar biasa. Di tengah kondisi efisiensi anggaran, dengan kemampuan dan jejaringnya akhirnya KPAI bisa kembali mengadakan Rakornas hasil pengawasan hingga Anugerah KPAI untuk memberikan apresiasi pada pejuang perlindungan anak. yang masih harus kami teruskan adalah penguatan kelembagan KPAI dan dukungan anggaran yang saat ini masih terbatas. Di akhir hayat beliau masih memikirkan ini, bahkan whatsapp terakhir dengan saya adalah berbagi tugas untuk menghubungi beberapa petinggi negara demi dukungan ke KPAI.

Duka di Awal Tahun

Menjelang akhir tahun 2025 dengan sisa anggaran saya mengikuti pengawasan KPAI di beberapa Pondok Pesantren di Cirebon, Mojokerto, dan Jombang. Mbak Margareth sangat antusias saya ikut dan ini ladang ilmu baru bagi saya yang tumbuh di lingkungan Muhammadiyah. Meskipun kami pengawasan untuk mengetahui bagaimana upaya pencegahan kekerasan di Pondok Pesantren. Mbak Margareth lahir dan besar di keluarga pendiri Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Jombang yang masih ada ikatan persaudaraan dengan keluarga KH Abdurrahman Wahid dan pendiri NU. Pesan beliau sebelum saya melakukan pengawasan ke Pondok Pesantren adalah agar saya melihat langsung bagaimana interaksi, pembiasaan dan budaya di pondok. Pesan ini yang ketika pengawasan saya ingat terus. Begitu juga keinginan beliau untuk melihat pendidikan di sekolah Muhammadiyah, sempat kami berjanji akan turun ke sekolah Muhammadiyah untuk pengawasan pemenuhan hak dan perlindungan anak.

Baca Juga  Melawan Kekerasan di Ruang Digital Melalui Literasi

Jiwa santrinya sangat terlihat bagaimana Mbak Margareth menghormati para ulama. Saya pun menjadi saksi saat itu bagaimana fitnah datang ke beliau ketika setelah menjadi Ketua Umum Fatayat ataupun ketika akan pemilihan Ketua KPAI di awal periode. Sesekali beliau bercerita dengan sesak dan sedih, namun saya lihat Mbak Margareth sangat tegar dan kuat, bahkan baginya tidak perlu dia membalas berita yang tidak benar. Diamnya adalah pertanda bahwa beliau sudah selesai antara dirinya dengan Allah. Mbak Margareth pernah bilang ke saya, bahwa sekalipun menjelaskan pada orang yang tidak suka, maka tidak akan merubah keadaan. Cukup terima saja dan yakin Gusti Allah mboten sare.

Pun ketika beliau bercerita kesibukan sebagai Ketua Umum dan menjadi Ketua KPAI, sesuai dengan yang saya yakinkan dulu ke beliau, jika sama menjadi Ketua maka akan lebih mudah mengatur, karena keduanya pengambil keputusan, saya tidak pernah melihat pengabaian keduanya ketika beliau bekerja dan menjalankan Amanah. Mbak Margareth dan saya punya kesamaan dalam melihat aktivitas di organisasi, tidak ada kata menyisakan waktu, yang ada meluangkan waktu sesibuk apapun di luar ketika organisasi memanggil maka harus taat.

Beliau pernah bilang di awal tahun ini bahwa beliau memiliki waktu yang agak padat, banyak yang dilakukan pada dua jabatannya. Permulaan tahun biasanya adalah awal dari penataan lembaga dan organisasi, begitu juga dengan aktivitas yang lain. Mbak Margareth tidak pernah mengeluh capek dengan aktivitas ini, dengan semangat beliau tentu saja adalah kekuatan bagi kami di KPAI. Hingga sakit beliau datang dan ternyata Allah lebih cepat memanggil Mbak Margareth di usia yang masih muda. Mbak Margareth, usai sudah tugasmu di dunia, kini engkau beristirahat dengan tenang. Kami semua menjadi saksi engkau orang yang baik, pemimpin yang amanah, dan doa kami semua agar engkau ditempatkan bersama para syuhada. Kami akan meneruskan perjuanganmu dan cita-cita untuk kelembagaan KPAI yang lebih baik. Namamu terpatri di hati anak-anak seluruh Indonesia.

Selamat jalan sahabat, pejuang tanpa lelah, Allah menyayangimu dan memanggilmu dalam kedamaian di bulan suci Ramadan.

Perjalanan menuju Jombang, 1 Maret 2026

Bagikan
Comments
  • Fauziyah PC Fatayat NU Sumenep

    Ning Margaret adalah perempuan hebat dan istimewa. Disisa hidupnya ribuan orang menyaksikan kebaikannya. Dan satu lagi, beliau wafat pada tanggal 11 Romadlan, dimana didalamnya perempuan pejuang dimasa Rosulullah juga dipanggil oleh Allah yaitu Sayyidatina Khodijah. Ning Margaret… semngat juangmu, ikhlasmu akan terus terpatri dihati kami

    Maret 3, 2026
  • Mala

    subhanallah, cerita yang sangat menyejukkan hati, semoga kita bisa seperti mbak margaret yang lebih memilih pengabdian yang jauh dari riuh tepuk tangan, dan sangat suka dengan ucapan beliau “bahwa sekalipun menjelaskan pada orang yang tidak suka, maka tidak akan merubah keadaan. Cukup terima saja dan yakin Gusti Allah mboten sare.”
    Terimakasih mbak diya, tulisannya sangat menginspirasi

    Maret 3, 2026
Post a Comment