f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perjodohan

Membaca Isyarat Takdir Perjodohan

Pertemanan anak-anak muda ini telah terjalin selama puluhan tahun. Mereka masih sering bertemu untuk makan atau berolahraga bersama. Keakraban itu telah terbangun sejak masa kuliah. Meski usia mereka sudah tidak lagi muda, jiwa mereka seolah enggan diajak menua, apalagi saat berkumpul dalam acara makan bersama, berolahraga, touring, atau reuni yang mereka adakan sesekali.

Dalam salah satu pertemuan, tanpa sengaja, topik yang mereka bicarakan adalah perkara perjodohan. Dalam lingkaran pertemanan itu, ada yang masih melajang, ada yang memang benar-benar belum bertemu jodoh, ada pula yang sengaja memutuskan untuk tidak menikah. Menariknya, ada pula yang sudah beberapa kali menikah, tetapi gagal mempertahankan rumah tangganya.

Perjalanan hidup Nourman salah satunya. Lelaki berdarah Eropa itu mengeluhkan bahwa dirinya sudah tiga kali gagal membina rumah tangga.

“Salah gue apa, ya? Kadang gue tanya sama Tuhan, tapi jawabannya enggak mudah gue baca, kan….”

Sore itu, Meneer Nourman tampak lemas. Padahal, dulu ia selalu menjadi idola para perempuan. Ia memang sangat berbeda dibandingkan teman-temannya. Postur tubuhnya tinggi dan ideal. Hidungnya mancung, rambutnya pirang, kulitnya putih, dan matanya biru. Penampilannya begitu mencolok di antara ratusan mahasiswa lain yang rata-rata berkulit sawo matang, berambut hitam, lurus ataupun ikal, serta bertubuh lebih pendek.

Setiap kali Nourman yang selalu berkacamata hitam itu turun dari mobil hardtop modifikasinya, banyak cewek yang spontan mengalihkan perhatian kepadanya.

“Eh, keren tuh cowok….”

Seperti biasa, Nourman berjalan tanpa menoleh, apalagi melempar senyum. Ia memang terkesan agak angkuh. Begitu Nourman selesai menyampaikan keluhannya, Leni, perempuan paling pemberani dalam circle itu, langsung membuka pembicaraan.

“Man, aku kasih masukan, tapi kamu enggak boleh tersinggung, ya. Janji?”

“Oke,” jawab Nourman.

“Gini, Man. Sebagai lelaki, kamu memang ganteng. Penampilanmu juga sangat menarik. Dibandingkan ratusan lelaki lain di kampus dulu, kamu juaralah. Waktu kuliah, kamu memang menjadi idola banyak cewek. Namun, itu dulu, saat mereka masih remaja. Saat itu mereka baru berpikir asyik-asyik aja, belum memikirkan rumah tangga.”

“Lalu?” sergah Nourman penasaran.

Baca Juga  Trisula Baru Gerakan Kemanusiaan Muhammadiyah Abad Kedua: LAZISMU, MDMC dan MPM

“Sabar, Man. Setelah kita semua beranjak dewasa dan mulai memikirkan masa depan serta kehidupan berumah tangga, ternyata ganteng, keren, dan kaya kayak lu itu saja enggak cukup.”

“Salahku apa kalau aku terlihat dan bernasib begini?” sergah Nourman.

“Enggak salah, sih. Aku cuma bilang, keberuntungan yang kamu miliki itu belum cukup untuk membuatmu mampu membangun rumah tangga yang bahagia.”

“Maksud lu?”

“Untuk hidup bersama dalam ikatan pernikahan, ganteng, keren, kaya, bahkan punya banyak warisan pun belum tentu cukup. Apa gunanya semua itu kalau kamu pelit sama pasangan?”

“Emang aku pelit, ya?” tanya Nourman.

“Banget!” sergah Nana secara spontan.

Nana kemudian melanjutkan:

“Man, jadi lelaki itu enggak boleh kikir. Mau punya mobil, rumah sendiri, punya duit, semua itu enggak banyak artinya kalau kebutuhan pasangan enggak kamu pedulikan. Belum lagi, kamu maunya selalu dilayani. Semua harus tersedia. Diajak belanja enggak mau, bantu beberes rumah enggak mau, semua pekerjaan diserahkan ke istri. Kamu itu lebih cocok membayar pembantu rumah tangga daripada mencari pasangan hidup!”

Mak jleb!

Nourman merasa menjadi orang yang sangat bodoh saat itu. Tidak satu pun kalimat bantahan keluar dari mulutnya. Ia berujar:

“Iya deh… aku akan berubah.”

Selain Nourman, ada juga Dania yang ikut dalam pertemuan itu. Nasibnya kurang lebih sama. Ia beberapa kali mengalami kegagalan dalam membina rumah tangga.

Dania juga dikenal sebagai perempuan cantik di antara teman-teman lain. Sejak SMA, ia memang terbilang beruntung. Ayahnya seorang direktur urusan perminyakan. Ia nyaris tidak pernah mengalami kesulitan ekonomi.

Sejak sekolah, ia sudah mengendarai Honda Civic Wonder putih yang sangat keren. Tidak ada prestasi menonjol dalam hidup Dania. Banyak kemudahan datang begitu saja, bukan karena parasnya yang cantik, tetapi juga karena pengaruh kedua orang tuanya. Pergaulannya pun terbatas pada teman-teman yang gemar clubbing dan travelling.

Dalam pertemuan itu, ia mulai mengeluhkan rumah tangganya yang selalu gagal. Ia memiliki beberapa anak yang lahir dari ayah biologis yang berbeda. Ia sempat menyalahkan Tuhan sambil berujar:

Baca Juga  Indonesia Berduka, Saatnya Bermuhasabah

“Aku kan enggak pernah minta lahir dengan wajah seperti ini, hidup dalam keluarga yang berkecukupan. Aku enggak pernah minta kok, tapi kenapa takdir perjodohanku seperti ini, ya?”

Fadhil, jurnalis gondrong lusuh itu, tiba-tiba memotong pembicaraan. Ia memang dikenal blak-blakan.

“Dan, ini bukan karena dulu gue pernah naksir lu terus dicuekin, ya. Ini masukan jujur buat lu,” ucap Fadhil.

“Apaan sih, Dhil? Gue lagi nyalahin nasib, nih,” rengek Dania.

“Lu dari kecil sudah beruntung, disukai banyak orang, hidup penuh pujian, berkecukupan, enggak perlu susah payah belajar, apalagi kerja keras. Semua orang suka sama lu, ingin dekat dengan lu. Nah, justru itu yang bikin lu jadi bodoh.”

“Bodoh bagaimana, sih, Dhil?” sergah Dania.

“Ya bodoh. Orang jadi pintar itu ada prosesnya, Dan…. Harus jatuh bangun, gagal berkali-kali, belajar dari kesalahan, baru jadi matang. Lah, lu? Belajar enggak, kerja keras juga enggak, hidup selalu enak. Terus berharap bisa pintar dan mampu membaca karakter orang? Duh… enggak semudah itu kali.”

“Terus, bodohnya di mana?”

“Lu bodoh dalam melihat dan menilai laki-laki yang mendekati lu. Lu pikir kalau dia sudah kaya, kelihatan royal, punya segalanya, berarti dia orang baik dan bisa menjamin masa depan lu.”

“Itu salah, ya? Kan aku cuma pengin hidup stabil.”

“Nah, itu dia. Tidak semua lelaki yang mendekati lu benar-benar ingin hidup berumah tangga sampai tua bersama lu. Jangan-jangan mereka cuma tertarik karena lu cantik dan seksi, lalu hanya ingin melampiaskan hasrat seksualnya sama lu. Sementara itu, lu terlalu polos, pergaulan sempit, dan kemampuan lu membaca karakter tidak pernah terasah, sehingga susah membedakan mana yang cuma didorong nafsu dan mana yang benar-benar serius. Akhirnya, lu sering terbodohi.”

“Terus gimana dong, gue?” sergah Dania.

Baca Juga  Mencintai Diri Sendiri

Fadhil tersenyum tipis, lalu menjawab dengan nada santai:

“Keledai tidak jatuh ke lubang yang sama dua kali. Enggak ada batas usia buat terus belajar. Gue sendiri dulu pernah ugal-ugalan. Gue pernah gagal berumah tangga. Justru kegagalan itu jadi pelajaran terbaik. Jadi, yang kelihatannya baik-baik kayak lu, yang pernah ugal-ugalan kayak gue, atau yang pelit dan kurang asyik kayak Nourman, sama-sama pernah gagal, kan?”

Fadhil menutup kalimatnya sambil tersenyum dengan gaya yang sedikit teatrikal.

Perjalanan manusia dalam membaca isyarat perjodohan memang penuh misteri. Tidak ada rumus yang benar-benar pasti. Dahulu, banyak orang dijodohkan dan tetap mampu menjalani rumah tangga yang bahagia. Kini, pacaran bertahun-tahun pun tidak otomatis menjamin kebahagiaan.

Kisah Nourman dan Dania mengingatkan bahwa wajah tampan, paras cantik, kekayaan, dan popularitas bukanlah jaminan seseorang akan menemukan kebahagiaan dalam pernikahan. Semua itu memang mampu menarik perhatian, tetapi belum tentu membuat seseorang sanggup mempertahankan rumah tangga ketika ujian kehidupan datang.

Sebaliknya, tidak sedikit pasangan yang tampak biasa-biasa saja. Namun, karena terus belajar, saling menghormati, memperbaiki kesalahan, dan bertumbuh bersama, mereka justru mampu membangun rumah tangga yang hangat hingga usia senja.

Mungkin, di situlah letak isyarat takdir perjodohan menemukan maknanya. Jodoh bukan sekadar tentang siapa yang dipertemukan dengan kita, melainkan tentang siapa yang terus bertumbuh bersama kita. Sebab, takdir tidak hanya mempertemukan dua orang, tetapi juga memberi keduanya kesempatan untuk berproses menjadi pasangan.

Wallahu a’lam bishshawab.

Bagikan
Comments
  • Mas Dar

    Ringan tapi dalam, mantap om jamet, smg banyak yg memanfaatkan.

    Juli 22, 2026
Post a Comment