f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
peristiwa

Logika Sederhana dan Peristiwa Agung

Sebagai seorang Pengajar, saya paham, bahwa untuk menjelaskan materi yang rumit, perlu menyisipkan sebuah perumpamaan sederhana sebelum mulai menyampaikan materi inti pembelajaran. Perumpamaan itu digunakan untuk menjangkau ketidaktahuan murid, yang baru pertama kali mengenal materi tersebut, agar murid tersebut mendapatkan cuplikan gambaran besar materi secara sekilas.

Beberapa waktu lalu dalam sebuah majelis pengajian, sebagai orang awam, saya menyaksikan sebuah perumpamaan sederhana itu kembali bekerja. Awalnya, saya mengira bahwa beberapa peristiwa agung dalam agama akan sulit bila disandingkan dengan sebuah logika yang sederhana. 

Waktu itu, saya terkesima dengan isi ceramah seorang Habib dalam memberikan perumpamaan untuk sebuah peristiwa agung Isra Mikraj. Habib itu melanjutkan ceramah dengan cerita seekor semut yang mampu menyeberangi Pulau Jawa ke Pulau Kalimantan dalam tempo singkat.

Bila saya bayangkan, seekor semut akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menempuh perjalanan dari satu kota ke kota lainnya. Bahkan, terdengar mustahil bila semut akan mampu menyeberangi lautan, yang manusia saja juga muskil melakukan itu tanpa bantuan sebuah alat.

Lalu, semut yang bagaimana yang mampu menyeberangi Pulau Jawa ke Pulau Kalimantan dalam tempo singkat? Habib itu menjelaskan bahwa semut yang nemplok di tasnya Pak Jibril-lah yang akan mampu pulang-pergi Pulau Jawa ke Pulau Kalimantan dalam tempo sehari. Yang mana, Pak Jibril adalah seorang penumpang pesawat dari Pulau Jawa yang sedang melakukan perjalanan dinas luar ke Pulau Kalimantan.

*

Kepala saya pun refleks manggut-manggut saat itu juga. Kenapa saya tidak terbayangkan sebelumnya perihal perumpamaan yang sederhana itu?

Sebelumnya, sikap saya terhadap peristiwa Isra Mikraj, hanya mampu meyakini dengan sungguh-sungguh, bahwa dengan mukjizat Allah, Nabi Muhammad bersama Malaikat Jibril mampu melakukan perjalanan secara sekejap menuju langit ketujuh, hingga akhirnya menembus Sidratul Muntaha. Yang mana, di Sidratul Muntaha tersebut menjadi akhir perjalanan.

Nabi Muhammad untuk menerima perintah Allah berupa salat lima waktu sehari semalam.

Dan pada akhirnya saya menyadari, jauh sebelum itu ternyata banyak sekali pengamalan cara berpikir sederhana yang telah dipraktikkan oleh para Nabi terdahulu.

Saya mengambil beberapa peristiwa yang pernah mampir di telinga saya, sewaktu anak-anak saat mengikuti TPQ di langgar dekat rumah, yaitu mengenai teladan yang dilakukan oleh Nabi Musa ketika Firaun mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan.

Nabi Musa yang kala itu bersama Nabi Harun mendatangi Firaun dan mengaku sebagai utusan Tuhan. Lalu Firaun bertanya, “maka siapakah Tuhanmu berdua, hai Musa?” Lantas Nabi Musa menjawab, “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya. Kemudian memberinya petunjuk.”

Jawaban yang sederhana ini secara telak mematahkan pendapat Firaun yang merasa dirinya menjadi Tuhan. Firaun menyadari bila dia tidak akan mampu melakukan itu. Nenek moyang dan raja-raja sebelum Firaun tentu juga tidak pernah mempunyai kekuatan yang Maha Dahsyat itu.

Tiap-tiap sesuatu, termasuk makhluk hidup yang berdenyut dan bergerak dinamis di atas bumi, tumbuhan yang menjalar pada ranting-ranting, atau kupu-kupu yang beterbangan mengelilingi bunga-bunga, Firaun tidak mempunyai kehendak atas hal itu semua.

Firaun tidak pernah turut menentukan bentuk manusia, binatang ataupun bentuk apa saja. Sungai Nil yang dibanggakan dan mengalir di bawah kakinya, telah mengalir juga jauh sebelum Firaun lahir ke dunia. Dan, akan terus mengalir kelak, meski sesudah Firaun mati.

Dengan demikian pendapat Firaun yang mengaku bahwa dirinya Tuhan pun salah besar. Mendengar jawaban Nabi Musa yang sederhana dan logis itu, banyak pengikut Firaun yang beriman.

*

Ada lagi kisah mengenai Nabi Ibrahim, yang suatu ketika menghancurkan berhala-berhala yang berdiri kokoh berjejer. Bagi para penyembah berhala, berhala itu adalah Tuhannya.

Namun, dengan gagah beraninya Nabi Ibrahim menghancurkan semua berhala kecil dan menyisakan berhala yang besar. Lantas, Nabi Ibrahim meletakkan kapak di tangan patung terbesar itu.

Singkat cerita, Nabi Ibrahim pun dicari para penyembah berhala. Para penyembah berhala pun menanyakan apakah Nabi Ibrahim yang menghancurkan Tuhan-tuhan mereka.

“Saya tidak melakukan apa-apa. Cobalah kalian lihat berhala yang besar itu. Berhala besar itulah yang menghancurkan berhala-berhala kecil,” jawab Nabi Ibrahim.

“Wahai Ibrahim, berhala-berhala itu tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak mungkin ia menghancurkan berhala-berhala yang lain, sedangkan ia pun tidak bisa bergerak.”

Jawaban para penyembah berhala itu pun menjadi bumerang bagi kaumnya sendiri. Enteng saja bagi Nabi Ibrahim untuk membalikkan perkataan mereka.

“Lalu, mengapa kamu menyembah berhala yang tidak bisa berbuat apa-apa?”

Pertanyaan Nabi Ibrahim membuat mereka terkejut. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengamini perkataan Nabi Ibrahim.

Itulah sekelumit kisah-kisah yang menyadarkan saya, bahwa ternyata logika sederhana mampu untuk disandingkan dengan peristiwa-peristiwa agung.

Dan, saya jadi yakin untuk menyimpulkan, bahwa sebenarnya segala sesuatu yang belum mampu kita logika, jangan-jangan kita saja yang belum menemukan perumpamaan yang tepat. Pantang untuk mengatakan bahwa agama itu hanyalah khayali belaka.

Bagikan
Post a Comment