f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
video azab

Berhenti Menunggu Azab

Belakangan saya sibuk menonton aneka video pendek. Entah mengapa algoritma membawa saya pada beberapa video pendek berisi orang dengan muka yang sama, tapi berperan beda. Lalu, dengan potongan video pendek yang diklaim berdasarkan cerita kiriman penonton saya disuguhkan kisah yang mengherankan.

Ya, tentu anda tidak asing dengan tipikal video semacam ini. Video yang menurut saya menguras emosi saat menontonnya. Bagaimana tidak? Fragmen video yang ditunjukkan selalu menggambarkan cerita yang baik kebangetan yang jahat juga luar biasa jahat.

Model video ini menurut saya tidak asing. Formulanya mirip Majalah dengan inisial H, yang sempat juga keluar mini seriesnya. Mini series ini juga yang sering keluar beberapa potongannya di media sosial kita. Lucunya, dulu sinetron ini dianggap sakral dan sekarang malah dipenuhi komentar-komentar nyeleneh di setiap kolomnya.

Ya, kalau ditanya, dulu saya juga termasuk kedalam golongan orang yang takut dengan majalah ini. Seram. Mulai dari ceritanya dan visual ilustrasinya. Saya merasa terteror hingga kerap kali merasa kapok sambal. Ya, sesuai dengan amanat dari cerita yang disampaikan agar menjadi iktibar dalam kehidupan kita.

Sayangnya, akibat dari adanya cerita dengan konsep semacam ini alam bawah sadar kita selalu beranggapan bahwa orang yang bertindak jahat pada kita akan mendapatkan balasan. Ini tercermin juga dari banyaknya komentar yang beredar mengikuti video pendek tadi. Rata-rata komennya bertanya akhirnya gimana? Seolah kita menunggu azab atau hukuman segera diturunkan oleh Allah.

Balasan yang serta merta pedih dan kadang mengerikan itu dinilai pantas untuk mengobati sakit hati dari pemain protagonis. Sebenarnya, anggapan ini tidak salah. Mari kita merujuk pada arti QS. Al Zalzalah ayat 7 dan 8.

Baca Juga  Moderasi Beragama Mathla’ul Anwar

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya” (QS. Az-Zalzalah 99:7)

“Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya” (QS. Az-Zalzalah 99:8)”sebiji zarah”. Itu benar, Allah kan Maha Adil.

Tentu sesuai dengan ketentuan ayat-ayat tersebut. Tidak akan Allah membiarkan apapun perilaku kita tanpa konsekuensi. Itu mutlak dan tidak bisa dibantah. Hanya saja saya garis bawahi sebelum kita sibuk menuntut Allah membalas apa yang orang lain lakukan pada kita. Seyogyanya kita instrospeksi.

Apakah kita sudah termasuk orang yang benar? Atau bisa jadi adanya hal yang menyakitkan menimpa kita ini juga akibat dari perbuatan kita. Sebagaimana diterangkan pula dalam terjemahan QS. Asy Syura ayat 30.  “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”

Kita sebagai manusia selalu menganggap diri kita sebagai pihak yang benar. Contoh sederhana, adalah saya. Saya ketinggalan travel minggu lalu. Masalahnya sederhana, saya kurang memperhatikan lalu lintas, dan tentu sopir travel yang padat jadwal ini meninggalkan saya. Jika berpikir ala saya, tentu timbul pemikiran ini sopir kok tidak toleran sama sekali? Lalu, jika saya di posisi sopir, saya pasti jengkel menunggu penumpang kelamaan.

Nah, ini. Saya menyadari bahwa sebagai manusia tidak ada yang ingin salah. Semua ingin dalam posisi yang benar. Itu sudah kodratnya, ingin benar dan jadi tokoh utama dalam berbagai kesempatan. Maka, disinilah yang harus kita renungkan, apakah “kebenaran”dalam versi kita itu benar adanya? Benar dalam takaran dan mendapatkan ridho dari Allah?

Ketakutan saya akhir-akhir ini adalah apabila ternyata saya tidak benar. Saya ternyata di pihak yang salah. Saya yang ternyata tanpa sadar mendzalimi orang lain. Lalu, orang tersebut saking sakit hatinya dengan saya sampai berdoa kepada Allah agar azab ditimpakan kepada saya.

Baca Juga  Pentingnya Pembelajaran Agama Sejak Dini

Astaghfirullah.

***

Kita ingat bahwa dalam bersosialisasi dengan orang lain ada banyak kemungkinan kita “disakiti” dan “menyakiti”. Itu pasti, bahkan ada ungkapan dalam bahasa jawa, piring isa bentik. Alias piring itu bisa saling bersentuhan dan mengakibatkan retak satu sama lain.

Hal yang sangat lumrah untuk kita berkonflik baik dengan suami, tetangga, mertua, anak, atau bahkan netizen. Hanya saja apakah kita sudah yakin konflik yang terjadi ini adalah murni salah orang lain? Yakinkah kita, bahwa kita di posisi benar sehingga pantas menuntut keadilan pada Allah?

Atau jangan-jangan kita malah yang terancam untuk diazab karena menyakiti hambaNya? Kita yang mengira diri ini korban ternyata adalah pelaku utama. Kita yang ingin agar orang lain sadar dan meminta maaf kepada kita malah kita yang harusnya meminta maaf kepada beliau.

Hal inilah yang meneror saya berhari-hari. Lalu, tercipta ketakutan seandainya saya tidak dimaafkan lalu di akhirat Allah menagihkan hak orang ini kepada saya. Apa yang bisa saya lakukan?

Maka, saya memutuskan berhenti meminta Allah memberikan balasan azab. Saya takut ketidaksempurnaan diri saya ini, kealfaan dan khilaf saya menjadi beban. Jangan-jangan ada orang juga yang ternyata tanpa saya ketahui mendoakan saya supaya saya kena azab.

Lemahnya saya. Kurangnya saya. Hal-hal yang menjadikan saya sebagai manusia seutuhnya. Saya yakin, sukar. Begitupun untuk saya, jika bertemu orang yang mengesalkan untuk tidak berkata atau berdoa buruk terkait perilakunya.

Hanya saja latihan mengurangi berkomentar atau mendoakan buruk orang lain harus ditinggalkan. Kita latih diri lebih legawa, atau lebih bisa memaklumi dan memaafkan orang lain. Harapan kita agar Allah juga membantu kita. Mudah-mudahan orang yang kita sakiti baik sengaja maupun tidak sengaja, Allah bantu beliau melapangkan dirinya memaafkan kita. Dan semoga ke depannya kita bisa menjadi orang yang lebih baik, alih-alih menunggu hukuman dari Allah untuk orang lain.

Bagikan
Post a Comment