f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pendidikan

Nilai Pendidikan Anak dalam Hadis Membaca Bismillah Saat Makan

Nabi Muhammad sebagai uswah dan panutan umat Islam selalu memberikan teladan-teladan yang baik dari segala aspek, tidak terkecuali aspek pendidikan. Hal ini dapat dibuktikan dengan kajian-kajian dan berbagai penelitian yang membuktikan banyaknya nilai sekaligus konsep pendidikan yang berlandaskan cerminan kehidupan Nabi. Pada tulisan ini, penulis akan coba membahas strategi pendidikan anak yang dilakukan Nabi berdasarkan hadis membaca bismillah saat makan.

Hadis Membaca Bismillah Saat Makan

 Sebetulnya, terdapat berbagai hadis yang menjelaskan tentang anjuran mengucap basmalah saat hendak makan, seperti 1). Hadis iżā akala aḥadukum falyażkur isma Allāh ta’āla, fa in nasiya an yażkur isma Allāh ta’āla fī awwalihi falyaqul bismillāhi awwalahu wa ākhirahu. (Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala. Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “bismillāhi awwalahu wa ākhirahu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)). (Al-Tirmidzi 1996; As-Sijistani 2010)

 2). Hadis yā ghulām, sammillāh, wa kul bi yamīnik, wa kul mimmā yalīk (wahai anakku, sebutlah nama Allah, dan makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di dekatmu).(Bukhari 1993; Hajjaj 1955) 3). Hadis iżā akala aḥadukum ṭo’ām falyaqul bismillāh, fa in nasiya fī awwalihi falyaqul bismillāhi fī awwalihi wa ākhirihi. (Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia ucapkan “Bismillah”. Jika ia lupa untuk menyebutnya, hendaklah ia mengucapkan: bismillāhi fī awwalihi wa ākhirihi (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)), (An-Nasa’i 1930; As-Sijistani 2010) dan lain-lain.

Namun, dalam tulisan ini penulis hanya membahas satu dari hadis-hadis tersebut, yaitu hadis yang diriwayatkan Umar bin Abi Salamah yang berbunyi “yā ghulām, sammillāh, wa kul bi yamīnik, wa kul mimmā yalīk” (wahai anakku, sebutlah nama Allah, dan makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di dekatmu).

Baca Juga  Pendidikan Bagi Wanita, Mengapa Penting?

Pada hadis ini pun, penulis tidak membahas secara menyeluruh redaksi hadis tersebut, melainkan hanya membahas strategi pendidikan Nabi pada sebagian dari keseluruhan redaksi hadis tersebut, yaitu hanya pada lafaz sammillāh. Spesifikasi pembahasan ini penulis lakukan agar topik dalam tulisan ini tidak terlalu melebar dan tidak terlalu panjang sehingga berpotensi membosankan pembaca.

Analisis Pemilihan Diksi yang Dipilih Nabi

Apabila diperhatikan secara sekilas, tentu tidak ada yang bermasalah dengan redaksi hadis berikut. Namun jika pembaca berpikir kritis, tentu pembaca hadis akan bertanya-tanya mengenai pemilihan diksi yang dipilih Nabi, yaitu lafaz sammillāh. Jika yang dimaksud Nabi adalah lafaz bismillah atau bismillahirrahmanirrahim, maka mengapa Nabi tidak menggunakan diksi basmil (bacalah bismillah), qul bismillah (katakan bismillah), atau diksi lain yang lebih jelas mengarahkan kepada lafaz bismillah.

Berdasarkan analisis penulis, pemilihan diksi ini dilakukan oleh Nabi bukan tanpa alasan, melainkan merupakan salah satu strategi Nabi dalam mendidik anak. Diksi sammillāh merupakan lafaz yang tepat untuk disampaikan kepada Umar bin Abi Salamah (lawan bicara Nabi) yang saat itu masih berusia belia. Dalam diksi ini, Nabi memberikan makna luas yang sesuai dengan umur lawan bicara.

Strategi Pendidikan Anak Nabi dalam Hadis

Adapun yang menjadi strategi Nabi dalam hadis ini adalah makna sammillāh yang berarti “sebutlah lafaz Allah”. Apabila Nabi memilih lafaz basmil (bacalah bismillah), qul bismillah (katakan bismillah), atau diksi lain yang lebih jelas mengarahkan kepada lafaz bismillah, maka ditakutkan hal itu akan memberatkan kepada si kecil Umar bin Abi Salamah karena lafaz yang panjang (bismillahirrahmanirrahim). Hal ini nantinya akan berimplikasi pada jenuhnya anak (dalam konteks saat itu Umar bin Abi Salamah) dan malas untuk mempelajari agama karena terkesan ribet dan kompleks.

Baca Juga  Interaksi Wanita Haid Dengan Al-Qur’an Menurut Ulama 4 Mazhab

Oleh karena itu, Nabi memilih lafaz sammillāh atau sebutlah lafaz Allah, sehingga apabila si kecil Umar bin Abi Salamah kesulitan dalam membaca bismillahirrahmanirrahim, maka sudah cukuplah ia membaca lafaz bismillah atau lafaz Allah saja. Menurut analisis penulis, konsep pemilihan diksi ini merupakan strategi Nabi dalam pendidikan anak, yaitu berkomunikasi dengan melihat lawan bicaranya. Ketika lawan bicaranya anak-anak, maka Nabi tidak membebankan atau memerintahkan hal yang terkesan sulit, melainkan sesuai kadar dan porsinya.

Pada akhirnya, penulis berpesan kepada diri penulis pribadi dan para pembaca sekalian untuk mencontoh Nabi dalam mendidik anak sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya, terlebih dalam konteks agama. Penyesuaian ini perlu dilakukan agar makna dan nilai pendidikan anak yang ingin disampaikan benar-benar tersampaikan dan diterima oleh anak. Wallāh a’lām bi al-ṣawāb.

Referensi

Al-Tirmidzi, Abu Isa. 1996. Sunan Al-Tirmidzi. 1 ed. diedit oleh Basyar. Beirut: Dar Maghrib al-Islami.

An-Nasa’i, Abu Abdurrahman Ahmad bin Syuaib. 1930. Sunan an-Nasa’i. 1 ed. Kairo: Maktabah al- Tijarah ak-Kubra.

As-Sijistani, Abu Dawud Sulaiman bin Al-Asy’as bin Ishak bin Basyir bin Syidad bin Amar Al-Azdi. 2010. Sunan Abu Dawud. Beirut, Lebanon: AL-Maktabah Al-Ashriyah (Al-Maktabah Asy-Syamilah).

Bukhari, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail. 1993. Shahih al-Bukhari. Vol. 6. diedit oleh H. Al-A’zami. Damaskus: Dar Thouq al-Najah.

Hajjaj, Muslim bin. 1955. Al-Musnad As-Shahih Al-Mukhtashar bi Naqli Al-’Adl ’An Al-’Adl ila Rasulillah. Cairo: Matba’ah ’Isa Al-Babii Al-Hali wa Syarkah.

Bagikan
Post a Comment