f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
skincare

Skincare dan Eksploitasi Buruh Perempuan Sawit

Oleh : Ivansyah Muhammad

Rahmania pasti sudah tidak awam dengan skincare dan segala jenisnya. Saya pun mengenal beberapa model, produk dan kegunaannya dari cerita panjang lebar adik perempuan saya ketika ia sedang berdandan. Informasi lain tentang keunikan ini juga saya dapatkan dari obrolan beberapa kawan perempuan saya yang memiliki hobby make-up (merias wajah).

Akibat dari beberapa obrolan kecil itu saya jadi penasaran dan tergugah untuk mencari tahu lebih dalam bagaimana skincare dibuat ? apa saja bahan – bahan pembuatnya ? dan mengapa sebagian laki-laki perempuan (termasuk muslimah) ikut menggunakannya ?

Segala Berasal Dari Minyak Kelapa Sawit

Perkebunan Kelapa Sawit memang menjadi subsektor andalan Indonesia setelah batu bara dan nickel. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sepanjang tahun 2019 nilai ekspor sawit mencapai US$ 19,24 Miliar atau setara 286,77 triliun rupiah.

Wow.. Angka yang sangat fantastis bukan ?
Dari sisi volume, ekspor minyak sawit mentah atau CPO dan produk turunannya mencapai 35,3 juta ton pada tahun 2019. Ini menjadikan Indonesia produsen minyak sawit terbesar dengan angka hampir 85 persen dari total produksi kelapa sawit di dunia.

Pada masa lampau, di mana belum pesatnya aktivitas penelitian dan pengembangan terhadap produk – produk alam. Kelapa Sawit hanya digunakan oleh masyarakat umum sebagai minyak goreng. Sedangkan warga Boti di NTT menggunakannya sebagai shampoo dengan teknik pengolahan tradisional.

Kini, sudah lebih dari 120 produk lain yang bisa dihasilkan dari minyak kelapa sawit. Hal ini bisa kita jumpai pada hampir semua consumer goods yang kita gunakan sehari – hari. Seperti bahan sabun, sampo, detergen, kosmetik dan pastinya skincare. Kebutuhan ini kita sebut dengan oleokimia.

Menurut Beautypedia dalam kanal Female Daily, dalam produk skincare, kandungan minyak kelapa sawit atau palm oil mempunyai tiga kegunaan ; yakni sebagai emulsifier, thickener,dan surfactant.

Emulsifier yaitu sebagai pencampur antara bahan air dan minyak yang membuat kulit menjadi lebih lembab. Lalu thickener, berfungsi untuk memperbaiki konsistensi formula yang terlalu cair dan terakhir, Surfactant yang sangat ampuh untuk membersihkan serta menarik kotoran dan minyak pada kulit kita.

Nah, dari sedikit penjelasan di atas, kita bisa menuju titik simpul bahwa minyak kelapa sawit terlihat seperti the primary ingredient (bahan utama) dari skincare. Namun, kurang elok rasanya jika saya hanya membagi sisi kebermanfaatan dari tanaman jangka panjang ini, sebab sebagaimana yang kita ketahui pamor minyak kelapa sawit kini sedang dipertanyakan proses pengelolaannya oleh aktivis pemerhati lingkungan dan HAM yang cenderung merugikan lingkungan, dampak ekologi yang besar, masalah sosial ekonomi yang menimpa masyarakat sekitar Industi sawit serta yang paling mencuri perhatian saya adalah pelanggaran HAM terhadap pekerja buruh perempuan di beberapa industi kelapa sawit di Indonesia.

Baca Juga  Bukan Playing Victim: Membedakan Jebakan Victimhood dan Kekuatan Perspektif Korban

Buruh Perempuan Adalah Sapi Perah Industri Sawit

Saat ini, buruh harian lepas di perkebunan sawit diisi oleh mayoritas perempuan yang merupakan masyarakat sekitar perkebunan. Cakupan pekerjaannya seperti menyemprot, memupuk, pembersihan area kebun serta mengutip berondolan yang sudah siap diambil minyaknya.

Nahasnya, perempuan – perempuan ini dipekerjakan tanpa adanya perjanjian kerja dari pihak perusahaan dan tidak tercatat secara resmi pada Dinas Tenaga Kerja setempat. Dengan begitu seberapa lama dan loyalnyapun mereka bekerja, di suatu waktu mereka akan diberhentikan oleh pihak perusahaan tanpa kompensasi apapun.

Berdasarkan laporan dari Sawit Watch, buruh perempuan di perkebunan kelapa sawit berada dalam kondisi ketiadaan jaminan pekerjaan tetap. Mayoritas berstatus harian lepas, tanpa perlindungan dari kecelakaan kerja, target kerja yang tidak manusiawi dan praktik upah di bawah ketentuan.

Hal senada juga dinarasikan oleh team Watch Doc ketika mewawancarai beberapa buruh perempuan kelapa sawit di PT. Selonok Ladang Emas. Mereke bercerita bahwa tidak ada tunjangan beras, bekerja tanpa jaminan kesehatan dan tak ada hak cuti bagi mereka.

Mereka bekerja selama 10-12 jam perhari, harus memupuk lahan dengan total 12 sack pupuk dan menebas dahan seluas 1 hektar. Jika pekerjaan tidak selesai selama satu hari maka mandor akan memotong upah, dengan gaji perhari 25-30 ribu,

Dari Sekedar Konsumtif Menuju Solusional – Advokatif

Masyarakat adalah pihak yang paling diuntungkan atas 120 produk lebih hasil olahan minyak sawit sekaligus juga yang paling dirugikan dalam konteks ketenagakerjaan di Industri sawit. Olehnya, perlu kiranya dicanangkan sebuah diskursus serius tentang bagaimana jutaan masyarakat Indonesia pengguna skincare hasil minyak sawit harus bertindak dan bersikap atas tindak eksploitasi buruh perempuan sawit.

Jalan juang itu bisa merubah gerak masyarakat yang sadar akan tanggung jawab sosial dan peduli terhadap HAM untuk tidak hanya berperilaku konsumtif. Produk minyak sawit dengan segala turunannya namun juga memiliki nalar solusional – advokatif atas segala bentuk tindakan eksploitatif terhadap buruh perempuan sawit.

Seperti dengan membentuk komite perempuan peduli buruh sawit, penggalangan donasi sosial dari para manufaktur skincare di tanah air. Dan juga yang terpenting adalah pemberdayaan ekonomi dan sosial buruh perempuan sawit.

Pada akhirnya segala daya kreasi harus lahir dari kesadaran individu dan kolektif masyarakat itu sendiri, hingga para buruh perempuan sawit merasa adanya keberpihakan lalu berkata “Skincare yang menambah keindahan di wajah kalian adalah bagian dari kerja ikhlas dan kerja keras kami, terima kasih untuk sudah peduli”.

*) Ivansyah Muhammad, Kabid Riset dan Pengembangan Keilmuan DPD IMM Sultra

Bagikan
Comments
  • Buruh perempuan sawit relah tidak mendapatkan perlindungan kerja dari perusahaan, demi kencantikan kalangan wanita, termah kasi kepedualiannya terhadap sesama,

    Tulisannya rekomended sekali kanda.

    Abadi_perjuangan
    Fascho

    Mei 14, 2020
    • Ivansyah Muhammad

      Kita harus banyak bersyukur atas keadaan kita dan lebih peduli lagi dengan keadaan sekitar.

      Millenial Islam harus bertindak dengan jalan Solusional – Advokatif

      Mei 14, 2020
  • Novia Arnila Damayanti

    Untuk saran kak,
    Bagusnya kalau kita sugukan sisi negatif dari skincare juga.
    Kemudian,
    Untuk menarik sisi kesadaran anak muda, agar lebih peduli sesama baiknya di berikan komsumsi hal- hal yang mengugah perasaan emosi.
    Selain dari itu
    Tabik kanda

    Mei 14, 2020
  • Novia Arnila Damayanti

    Untuk saran kak,
    Bagusnya kalau kita sugukan sisi negatif dari skincare juga.
    Kemudian,
    Untuk menarik sisi kesadaran anak muda, agar lebih peduli sesama baiknya di berikan komsumsi hal- hal yang mengugah perasaan emosi.
    Selain dari itu
    Tabik kanda🌈

    Mei 14, 2020
    • Ivansyah Muhammad

      Insya Allah perlu riset dan perbanyak bacaan lagi kedepan soal Skincare ini.

      Makasih Sarannya Dik

      Mei 14, 2020
  • Iwan Husain

    Tulisan menarik apabila di lihat dari perspektif feminisme di dalamnya terdapat ketidakadilan. Beberapa perempuan berusaha mendempul pipi manisnya ternyata ironisnya terdapat perempuan perempuan kuat dan tangguh yang rela berpanas-panasan di bawah teriknya matahari sehingga kulit mereka kusam dan hitam. mirisnya mereka di pekerjakan dengan upah standar yang tidak sesuai dengan semestinya.Nah perempuan yang mengadopsi definisi kecantikan parameter nya adalah kulit yang halus,lembut tanpa jerawat.(scincarenisme) secara tidak langsung Mereke sudah jatuhkan kodrat perempuan lain. Dengan begitu semestinya mereka sadar harus ada feedback, taruhlah dengan penaikan upah, serta bekerja dengan di berikan pemberian kompensasi dan tidak ada pemotongan gaji, artinya mereka menjadi gardan utama dalam memerdekakan perempuan yang bekerja di kelapa sawit..

    Lanjutkan tulisan nya kanda, semoga kita bisa bersua dalam berbagi ilmu kepenulisan.

    Mei 14, 2020
    • Ivansyah Muhammad

      Wah.. Sangat kompleks ini. keterbatasan ruang kata mengharuskan sya memilih beberapa perspektif saja dulu 😁 Insya Allah kedepan lebih meluas lagi untuk semua pihak harus terselamatkan dari segala problem.

      Terima Kasih dik atas saran dan supportnya.

      Mei 14, 2020
  • Beny Putra Lamangga

    Mungkin baiknya disebutkan nama Perusahaan Kelapa Sawit mana sebagai Pemasok utama dan besaran pendapatan , serta daerah mana yang aktivitas kelapa sawit nya menjadi sektor utama daerah

    Mei 15, 2020
  • Ivansyah Muhammad

    Essai ini terbatas jumlah katanya jika harus dideskripsikan semua secara jeli. Kalau info seperti itu mungkin bisa dicek saja di laporan bulanan Industri Kelapa Sawit.

    Selebihnya Terima Kasih

    Mei 16, 2020
  • Dedi hardianto

    Lanjutkan perjuangan bung.

    Mei 21, 2020
Post a Comment