f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
diskriminasi

Hak Anak atas Bermain

Oleh : Hamid Patilima

Dunia anak adalah bermain. Meskipun begitu, ada saja orang tua sangat cerewet, marah-marah, mengancam anaknya, karena banyak bermain. Orang tua seperti ini mungkin waktu kecilnya diperlakukan serupa oleh orang tuanya. Santai aja lagi. Bukankah dia pernah merasakan betapa tidak enak dilarang-larang, dibatasi, diancam pula.

Ada juga anak yang bersumpah dalam hatinya, kalau aku punya anak, kubiarkan anakku bermain dari bangun tidur sampai tidur lagi. Namun sumpahnya itu dia lupakan dan abaikan, saat lihat anaknya hanya bermain terus, tidak mau belajar.

Ada juga yang bercita-cita, saking susah orang tuanya, kalau aku punya uang banyak, semua permainan yang aku suka, aku kumpulkan, dan aku koleksi. Orang tipe ini, tidak terlalu banyak, tetapi, ada. Pendek kata, pemahaman orang tua tentang bermain tidak bernilai.

Mereka lupa, padahal, kalau ayahanda dan bunda mendalami pengalaman semasa kanak-kanak atau anaknya, betapa pentingnya bermain. Ayahanda dan bunda menjadi cekatan, terampil, percaya diri, disiplin, jujur, dan empati dengan sesama. Bukankah itu hasil dari bermain sewaktu kecil. Kalau merasa pernah jadi anak-anak.

Coba ayahanda dan bunda telusuri melalui biografi para penemu terkenal, para pembuat produk terkenal, para pemimpin terkenal, semua itu, inspirasi mereka yang didapatkan saat bermain di masa kecil. Yang kemudian, mereka kreasikan dan wujudkan melalui karya mereka.

Bermain Sebagai Sarana Belajar

Pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperoleh anak-anak dari ayahanda dan bunda, praktik pertamanya melalui bermain baik secara sendiri maupun bersama teman sebaya atau usia lebih muda atau lebih tua. Ayo. Bunda dapat berbicara sesopan seperti saat ini, presentasi pertamanya dimana, kalau bukan saat bermain. Tidak ada teman yang suka temannya yang kasar. Begitu juga dengan empati, mampu mencegah pertengkaran, mendamaikan pertemanan. Meskipun waktunya hanya sesaat.

Yang menyedihkan celetukan orang dewasa, namanya juga anak-anak. Dan kebiasaan buruk ini juga terbawah sampai sekarang, suka memandang remeh segala sesuatu. Karena anak mendengar dari orang dewasa. Apakah semua orang dewasa seperti itu, dan apakah orang dewasa sudah meminta maaf kepada anak-anaknya. Wallahu a’lam.

Guru, dokter, orator, polisi, tentara, arsitek, petani, nelayan, dan banyak profesi yang menjadi karir sekarang. Ingat-ingat, itu awal mulanya dicoba-coba, dicocokin, digadang-gadang, saat kapan. Ayahanda dan bunda yang paling tahu jawabannya. Masih maukah melarang anak-anaknya untuk bermain.

Maukah bunda dan ayahanda berkembang secara instan. Adakah yang mengetahui dan bersedia bertanggung jawab. Mengapa banyak pabrik menciptakan alat dan perabot permainan baik dalam bentuk dummy maupun miniatur perabot pada saat ini? Mengapa banyak aplikasi games saat ini? Merusak dan menjajah imajinasi, kreatifitas, inisiatif, dan kekebasan anak. Ini semua karena orang tua yang suka melarang, membatasi, dan tidak memfasilitasi.

Baca Juga  Orang Tua dan Pendidikan Jarak Jauh; Sebuah Refleksi Singkat

Akhirnya, ruang-ruang yang kosong ini terbaca oleh para pebisnis yang hanya mementingkan bisnis dan bisnis untuk mengeruk uang dari ayah dan bunda. Muncullah pabrik alat perabot permainan, muncul Kidzania, muncul para programmer berotak jorok, porno, sadis, dan intoleran. Yang menyedihkan mendapat dukungan dari otoritas lagi. Pasti ayah dan bunda mengetahui. Silakan cek jejak digital debat Pilpres 2019.

Sekarang ini beredar di FB, foto atau gambar permainan tempo dulu, muncul komentar – kapan ya anak-anak kita seperti ini, masih ingat kan kamu. Anak-anak memanfaatkan barang bekas, sisa pohon pisang, kulit jeruk, sendal rusak, ban bekas, tempurung bekas, botol bekas, kardus bekas, ada juga hanya memanfaatkan pasir, becek, pelepah pisang, pelepah pinang, dahan dan ranting. Daur ulang dan ramah lingkungan.

Dampak positif Covid19, memaksa ayahanda untuk menciptakan permainan kreatif bersama anaknya dengan memanfaatkan bahan-bahan bekas. Ini terekam dan tersebar luas dan viral melalui media sosial, seperti FB, instagram, youtube, tik-tok, atau aplikasi lainnya milik ayahanda dan bunda. Berharap kreatifitas para ayahanda dan bunda ini berlanjut selepas pandemik.

Einstein, menemukan teorinya, terinspirasi dari permainan pada masa kanak-kanak, dan pada saat dia mengalami kebuntuan, dia menemukan kembali inspirasinya saat melihat anaknya sedang bermain. Bagaimana cerita tentang Thomas Alva Edison, Habibie, Obama, Jokowi, atau bunda dan ayahanda?

Teman saya berbagi presentasi tentang permainan anak-anak di Kota Chiba, Jepang. Bunda dan ayahanda, pasti membayangkan permainan anak-anak di sana. Mereka bermain dengan alat perabot dan fasilitas permainan yang mewah dan canggih. Nyatanya, mereka bermain di lapangan luas yang dilengkapi bangku dan canopi peneduh untuk orang tua pendamping di sekelilingnya, tanah berpasir, sebagian berlumpur, berbecek, diberi aliran air, bekas gulungan kabel listrik, papan-papan bekas, gergaji, palu, dan perkakas lain. Tidak ada perabot mahal dan mewah. Guna menjaga keselamatan dan keamanan mereka diawasi dan dikawal oleh para relawan (mahasiswa) yang lengkap dengan jinjingan tas P3K.

Mengapa Pentingnya Hak Anak atas Bermain?

Ayahanda dan bunda, perlu ketahui bahwa seluruh kepala negara dan pemerintahan di dunia bersepakat dan mengakui bermain adalah hak anak sejak 1989. Kesepakatan dan pengakuan ini tertulis dalam Konvensi Hak Anak Pasal 31. Hak anak atas bermain ini juga diperjelas oleh Komite Hak Anak PBB melalui Komentar Umum Nomor 17/2013 yang menekankan bahwa “Bermain sangat penting bagi kesehatan dan kesejahteraan anak-anak dan memajukan pengembangan kreativitas, imajinasi, kepercayaan diri, kemandirian diri, serta kekuatan dan keterampilan fisik, sosial, kognitif, dan emosional. Selain itu, bermain berkontribusi pada semua aspek pembelajaran; bentuk partisipasi dalam kehidupan sehari-hari dan memiliki nilai intrinsik bagi anak, murni dalam hal kesenangan.

Baca Juga  Anakku Terlambat Bicara dan Didiagnosa Gangguan Bahasa

Ajak anak-anak kita berdiskusi. Mumpung ayah dan bunda masih memiliki waktu dan kesempatan bersama anak, terutama mereka yang berada di bawah usia 8 tahun. Imaginasi mereka sedang tumbuh dan berkembang, daya ingin tahu besar, rasa memiliki banyak, dan yang terpenting mereka minta diakui dan dihargai.

Alat, Jenis dan Bentuk Permainan

Identifikasi bentuk dan jenis permainan yang mereka sukai dan inginkan. Libatkan mereka mencari bahan-bahan bekas yang masih layak untuk dikreasikan menjadi alat permainan. Idealnya juga kalau ada teman sebayanya. Namun jangan sekarang, masih ada pembatasan.

Alat permainan yang dibuat tidak perlu bertahan lama. Kalau yang bertahan lama itu hanya ada di museum atau di ruang para kolektor. Usia alat permainan, seperti usia istana pasir yang dibuat di pesisir pantai. Agar anak-anak tetap dan terus berkreasi, tidak cepat berpuas diri. Imajinasi terus berkembang. Keajegan terjadi pada saat mereka wujudkan dalam karya nyata untuk menunjang karir mereka kelak.
Beri ruang mereka untuk menjelaskan dan berargumen guna meyakinkan atas kreasi mereka. Bukan saja kepada ayah bundanya, juga kepada saudara, kakek/neneknya, termasuk temannya saat bermain di luar ruang kelak, pasca Covid19.

Dengan bermain, selain kelenturan jari jemari anak berkembang, juga berkreasi penuh perhitungan, penuh dengan kehati-hatian, seperti merangkai pelepah pisang menjadi kuda, menyusun pasir untuk istana raja. Tidak cepat marah, menahan diri. Wow. Ini semua perkembangan emosi anak terbentuk. Dia juga mau berbagi, dan mau merasakan apa yang juga dirasakan temannya. Ini artinya perkembangan sosialnya juga dilatih.

Perkembangan seni, relatif, sesuai dengan imajinasinya. Tetapi yang menggembirakan, apa yang dia kreasikan bersama ayah dan bunda, muncul kekaguman terhadap Yang Maha Pemberi Kehidupan yang berada dibalik ini semua. Selain itu anak juga dapat membedakan ini kreasi dia dan itu kreasi temannya atau adik atau kakaknya atau itu buatan bunda dan ini buatan ayah. Itu semua harus dihargai dan dijaga. Intinya nilai agama dan moral anak berkembang.

Baca Juga  Penghormatan Tak Ternilai kepada Orang Tua

Sudah dapat dipastikan ayah dan bunda bersama anak selalu mengingatkan, tidak dibenarkan bersikap diskriminatif, selalu mementingkan kepentingan terbaik anak, dan yang utama memperhatikan kata dan kalimat siapapun, termasuk anak.
Ruang diskusi juga semakin menantang dan dirasakan oleh bunda dan ayahanda bersama anak dengan disabilitas, begitu juga dengan teman-teman sepermainannya. Banyak pembelajaran yang dapat diperoleh baik oleh anak kita maupun anak dengan disabilitas. Rasa kagum, kebanggaan semakin memuncak. Meskipun hanya sesaat, tetapi membekas dan berguna pada saat mereka dewasa kelak. Hal seperti ini kita banyak jumpai dalam testimoni di ruang-ruang seminar.

Berilah Ruang untuk Anak Bermain

Berilah ruang untuk anak bermain, itu bertanda baik bagi hak-hak mereka. Ini semua dapat terjadi jika ayahanda dan bunda:
Pertama, memberikan ruang anak untuk berekspresi. Anak akan berpartisipasi secara bebas, namun menghargai dengan sesama, dengan tidak pernah menyakiti, menyinggung, dan mengganggu orang lain. Dengan begitu anak menghargai anak yang lain atau orang dewasa, termasuk ayah dan bundanya.

Kedua, memberi ruang anak bermain bersama temannya. Mereka akan belajar bagaimana saling berbagi, manajemen konflik, dan juga bagaimana menjaga perasaan dan harga diri teman-temannya yang memiliki kemampuan atau yang masih berusaha menyesuaikan diri dengan temannya.

Ketiga, menunjukkan berbagai referensi berbagai bentuk dan jenis permainan, serta cara membuatnya. Ini sudah dapat dipastikan informasinya bersumber dari ayah dan bunda. Ada baiknya permainan tempo dulu yang bernilai tinggi, bebas unsur kekerasan, pornografi, dan intoleransi. Semakin seru, bukan.

Terakhir, memberi ruang untuk mengembangkan minat dan bakat anak. Seperti uraian di atas, banyak orang sukses, karena diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk bermain dan dengan pengawasan dari orang tua atau orang dewasa lainnya. Kalau perlu, orang dewasa tersebut, memiliki pengetahuan dan keterampilan sekaligus pembaca bakat dan minat di bidang yang digandrungi oleh anak kita.

Yang penting juga melalui bermain, kita dapat melihat karakter anak pada saat temannya menangis. Apakah dia menenangkan, melaporkan, atau menghindar. Yang menenangkan kemungkinan berpeluang menjadi pendidik atau psikolog; yang melaporkan kemungkinan berkarir sebagai intel, polisi atau bekerja di KPK; dan yang terakhir, semoga anak kita tidak masuk dalam golongan yang suka menghindar.

Ayahanda dan bunda semasa kecil pada karakter yang mana. Jawab sendiri.

*Hamid Patilima, aktivis anak

Bagikan
Post a Comment