Apresiasi, Kunci Kesuksesan Anak
Oleh : Fathin Robbani Sukmana*
Bagi seorang anak, siapa yang tidak ingin memiliki orang tua yang lengkap, semua keinginan dikabulkan, semua fasilitas diberikan. Sehingga anak tersebut bisa melakukan setiap kegiatannya dengan baik dan mudah. Tidak sedikit anak yang sering halu karena memimpikan orang tua yang ideal seperti yang ada di sinetron ataupun novel.
Ya itulah salah satu kekurangan sinetron dan novel membuat anak dapat berpikir berlebihan atau anak sekarang biasa menyebut halu. Mereka menjadi menginginkan sesuatu harus selalu cepat tanpa dibarengi dengan usaha apapun.
Namun pada dunia nyata justru tidak sedikit anak yang diberikan segudang fasilitas dan juga apapun dikabulkan tidak merasa bahagia. Hal ini biasanya disebabkan oleh kedua orang tua yang bekerja, sehingga anak dirawat oleh Pramusiwi sejak ia kecil hingga ia remaja. Maka dari itu tidak aneh jika anak lebih dekat dengan “penjaga” karena memberi perhatian dan apresiasi lebih dari orang tuanya.
Apresiasi Sebagai Kunci.
Sebuah kesuksesan adalah salah satu buah manis bagi orang tua yang sudah merawat anaknya. Namun sebagian orang tua justru merasa kesal akibat ulah anak yang tidak bisa di prediksi selama masa remaja. Ada juga orang tua yang sudah kecewa penuh akibat kesalahan anaknya.
Tentu mendidik anak tidak semudah kita menonton tv atau membaca novel keluarga yang sangat menarik hati. Ada saja polemik yang disebabkan oleh “kegalauan” anak remaja dalam mencari jati diri ataupun orang tua yang super sibuk melakukan pekerjaan dan bahkan akibat dari broken Home.
Namun dari polemik tersebut anak dapat dibentuk sesuai keinginan orang tua. Apakah dibentuk menjadi seorang manusia yang baik ataupun sebaliknya itu adalah kehendak masing-masing orang tua. Perlu diingat bahwa di masa remaja anak sangat membutuhkan perhatian dan pengakuan.
Menurut Novita Tandry, Director Tumble Tots Indonesia mengatakan (Beritasatu.com) anak yang sering dipuji akan sering memuji juga saat dewasa. Satu jenis apresiasi yang sederhana ini sangat penting untuk anak dan akan berdampak besar hingga masa depan anak tersebut.
Selain itu pujian atas usaha anak, tatapan bangga, pujian-pujian dan lainnya akan membangun self confidence. Sementara sebagian masyarakat Indonesia kekurangan dalam hal memuji ini.
Sebuah Studi di Vanderbith University menjelaskan (haibunda.com, 2018) agar orang tua tidak mendorong anak menjadi genius karena dapat menimbulkan berbagai masalah sosial dan emosional. Tetapi studi tersebut mengusulkan tips untuk mendorong kesuksesan anak.
Pertama , papar anak dengan berbagai pengalaman. Kedua, bila anak menunjukan minat atau bakat yang kuat maka berikan kesempatan untuk mengembangkannya. Ketiga , dukung kebutuhan intelektual dan emosional. Keempat bantu anak mengembangkan mindset untuk berkembang dengan memuji usahanya.
Kelima, dorong anak untuk mengambil resiko intelektual dan bersikap terbuka dengan kegagalan yang membantu mereka belajar. Keenam waspadai label berbakat karena bisa menjadi beban emosional, dan terakhir bekerja sama dengan guru untuk memenuhi kebutuhan anak.
Dari rekomendasi studi tersebut bisa terlihat bahwa mengapresiasi anak itu penting dan memaksa anak dalam hal akademik juga ternyata tidak selamanya baik. Justru riset tersebut lebih merekomendasikan untuk mengasah intelektual dan emosional anak secara bersamaan.
Mulai dari Hal Kecil
Terkadang orang tua sering bertanya mengapa anak sulit diatur, tidak mematuhi perintah atau bahkan malah melakukan kenakalan. Tentu jawaban anak akan berbeda-beda terutama bagi mereka yang tidak diperhatikan sama sekali di rumah ataupun di sekolah.
Untuk mencegah anak sulit diatur dan kenakalan, adabeberapa hal yang perlu dilakukan dari pengalaman penulis dan sudut pandang seorang anak. Pertama, membiasakan anak untuk cerita dan terbuka, hal yang sangat simpel tapi jarang dilakukan. Orang tua dapat meminta anaknya bercerita apa yang terjadi hari ini, kegiatan apa saja hingga apa saja yang anak kerjakan.
Hal ini dapat dimulai sejak anak berusia dini dan juga dilakukan setiap malam saat semua berkumpul. Cara ini secara tidak langsung dapat meningkatkan percaya serta juga kemampuan berbicara anak di depan orang lain. Minimal ia bisa terbuka dengan ayah, bunda, serta adik dan kakaknya.
Kedua, apresiasi dan akui apa yang anak telah kerjakan, walaupun belum berhasil sekalipun. Hal ini akan merangsang anak untuk tidak pantang menyerah dalam melakukan apapun karena ada dukungan orang tua.
Pengalaman pribadi penulis, karena tinggal di asrama, jauh dari orang tua dan hanya beberapa guru yang memberikan apresiasi dan pengakuan. Akhirnya penulis nekad melakukan hal-hal yang menarik perhatian seperti bolos karena ikut kegiatan, bahkan yang terakhir meninggalkan kelas karena berdemo.
Hasilnya bagaimana? Tentu berujung pada persidangan oleh kepala sekolah dan seluruh wakilnya, namun penulis puas karena semua akhirnya mengakui penulis dari kalangan guru dan siswa bahkan penulis selalu menjadi pembicaraan hingga berhari-hari walaupun yang dibicarakan adalah kelakuan negatif penulis.
Ketiga, berikan hukuman ringan dan penjelasan ketika anak membuat kesalahan, proses ini terkadang menyebalkan bagi seorang anak tetapi akan membuat proses berpikir anak menjadi cepat untuk membedakan yang benar dan yang salah.
Tentu cara-cara tersebut hanya memiliki sudut pandang dari seorang anak yang subjektif, namun kebanyakan memang anak kurang di apresiasi dan juga kurang diakui dalam setiap melakukan sesuatu, terkadang berprestasi saja tidak di apresiasi apalagi melakukan kesalahan yang mungkin bisa saja di marahi.
Tulisan ini tidak berniat menyudutkan siapa pun, tetapi sebagai refleksi penulis yang kelak akan menjadi orang tua dan juga untuk sahabat-sahabat penulis yang sudah menikah dan menjadi orang tua. Karena apa yang kita terima dari orang tua kita belum tentu sama kondisinya ketika kita sudah mempunyai anak.
*Ketua PW IPM Jawa Barat Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan
Penulis dan Pemerhati Kebijakan Publik.
