Biarkan Anak Menjadi Cerdas dengan Sendirinya
Kabar menggembirakan dari bimbel Pintar pekan ini adalah lolosnya seorang siswa di seleksi tahap kedua kelas unggulan sebuah SMP favorit di kota kami. Memang belum final, tetapi paling tidak sudah sampai di tahap ini adalah kebanggaan tersendiri untuk anak, orang tua, dan tentu saja kami sebagai pendamping belajarnya.
Sebut saja Sean namanya, orang tuanya mengikutkannya les di bimbingan belajar yang saya kelola; karena menurut orang tuanya dia tergolong anak yang sangat pasif. Tak pernah terlihat ada ‘letupan’ dalam aktifitas harian maupun akademisnya. Hal ini membuat orang tuanya berpikir bahwa anaknya mengalami kendala dalam proses belajarnya. Meskipun nilainya tidak terlihat buruk, tetapi melihat materi pembelajaran di sekolah semakin sulit maka orang tuanya memutuskan untuk menghubungi kami dan meminta pendampingan belajar untuk anaknya.
Setiap anak terlahir dengan karakter dan gaya belajar yang berbeda. Sean terlihat pasif karena memang pada dasarnya dia memiliki karakter pemikir dan pendiam. Jadi, banyak bicara bukanlah hal menarik untuknya. Maka, ketika dia mengatakan sudah memahami materi, kami hanya menyodorkan latihan-latihan soal yang akan menguji pemahamannya. Latihan soal diberikan secara bertahap sesuai tingkat kesulitan materi. Pada karakter anak yang tidak suka banyak kata, dia hanya akan bersuara pada saat bertemu dengan materi atau soal yang belum dipahami dengan baik.
Setelah memahami gaya belajarnya, kami mempersiapkan rangkaian treatment belajar untuk Sean. Betul saja, ternyata dia memiliki pemahaman materi yang cukup matang. Hanya saja, karena karakter dasarnya pendiam, tidak responsive dan irit bicara, jadi yang terlihat di permukaan adalah pasifnya. Hal inilah yang membuat orang tuanya berpikir bahwa anaknya mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran, padahal sebenarnya tidak.
Obeservasi Anak Didik
Kami terbiasa tidak menghakimi siswa pada pertemuan awal. Perlu beberapa kali obsevasi awal untuk mengetahui sumber permasalahan. Karena kembali lagi, setiap anak memiliki karakter yang berbeda dan unik. Perbedaan ini berimbas juga pada karakter belajar dan treatment yang pas untuk diterapkan di masing-masing anak.
Di awal, kami biasa mengobservasi siswa dengan pertanyaan pancingan yang sangat umum, “Materi sekolah sudah sampai apa?”. Jawaban siswa akan kembali menjadi bahan pancingan untuk kemudian sebagai acuan kami mengajukan pertanyaan lanjutan atau latihan soal untuk menguji pemahaman materinya. Jangan lupa, tetap memperhatikan diksi dan rangkaian kalimat yang sesuai dengan usia dan tahapan kelasnya.
Setiap orang, memiliki kecenderungan senang diperhatikan, diistimewakan, dan didengarkan dengan seksama. Jadi sifat dasar ini menjadi bekal untuk memaksimalkan ‘suara’ anak.
Biasanya, kita cenderung menjadi orang tua atau guru yang lebih banyak mendikte dan mengatur apa-apa yang sebaiknya anak lakukan. Seolah kita paling paham tentang diri dan keinginannya. Anak tidak dibiarkan merdeka dengan pemikiran dan aspirasinya. Hal inilah yang mengakibatkan malasnya anak untuk mengekspos potensi, sifat asli dan hal-hal yang terpendam dalam pikirannya.
Jadi, kami memilih cara berbeda saat mendampingi mereka belajar. Kami terbiasa memancing anak-anak untuk menjadi diri sendiri dengan banyak memberikan pertanyaan kepada mereka. Seperti saat bersama-sama mengoreksi soal pilihan ganda, akan lebih menarik jika kita mempertanyakan dulu jawaban mereka beserta alasan-alasannya. Seru kok, kadang lucu juga saat ada yang menjawab kalau mereka asal pilih jawaban dengan menghitung kancing. Haha. Kita banget ya sebenarnya. Eh.
Membuat Belajar Manjadi Menarik Anak
Memberikan pertanyaan-pertanyaan yang seolah memberi kesan bahwa kita penasaran, ingin tahu kelanjutan jawabannya, akan memancing mereka untuk tetap bersuara hingga akhirnya kita mengetahui sejauh mana pemahaman mereka akan suatu hal atau materi yang sedang dibahas. Akan menjadi acuan juga untuk guru atau orang tua memilih untuk melanjutkan materi atau menjelaskan ulang sampai mereka paham dengan baik.
Beberapa respon pertanyaan yang bisa kita lontarkan seperti; terus gimana, begitu ya, kok bisa. Agar semakin membuatnya bersemangat untuk bercerita atau menjawab kita juga bisa mengatakan; wah kayaknya menarik untuk dibahas ni, lanjut. Ungkapan-ungkapan yang yang responsive akan membuat mereka ingin memberikan penjelasan secara detail. Hal ini akan memicu rasa penasaran mereka juga untuk kemudian mencari data dan sumber yang lengkap agar penjelasan mereka juga kurat. See, akhirnya tak perlu disuruh mereka akan berburu data dan materi dengan sendirinya.
Akan tetapi, hal tersebut tak akan bisa berjalan dengan mulus tanpa adanya totally mind fullness dari pendamping belajarnya, dalam hal ini bisa guru, orang tua atau siapapun yang mendampingi proses belajar anak. Pada saat anak menjawab atau bertutur, kemudian kita memintanya untuk lanjut tetapi fokus kita berada di hal lain, bisa dipastikan yang terjadi adalah ‘ambyar’. Anak akan merasakan kita benar-benar ‘hadir’ bersamanya atau tidak. Jadi, silakan mencoba dan rasakan bedanya saat membersamai anak sambil melakukan hal lain dengan membersamai anak secara total dengan fokus memperhatikannya.
Setiap anak memiliki kemerdekaan untuk menjadi diri sendiri apa adanya. Membebaskannya berekspresi dan berkreasi akan meningkatkan kepercayaan diri anak untuk lebih meningkatnya kualitas diri sesuai impiannya.
Seorang siswa les kelas 7, sebut saja Ihsan. Menurut orang tuanya, Ihsan terlalu biasa akademisnya. Beberapa nilai mata pelajarannya bahkan di bawah KKM. Dia diikutkan les agar nilai pelajaran paling bisa sama dengan KKM.
Dalam beberapa kali pertemuan, beberapa kali celetukan dan pancingan, akhirnya sedikit terkuak bahwa ketertarikan Ihsan adalah di bidang perakitan. Beberapa kali terlihat memiliki antusiasme yang sangat besar saat kami membahas tentang otomotif dan kelistrikan di IPA serta kreasi-kreasi kerajinan handmade di mata pelajaran SBDP.
Setelah mengetahui dan legowo menerima ketertarikan anaknya di bidang rakit-merakit barang, akhirnya orang tua Ihsan membebaskannya berkreasi. Pelan tapi pasti, merasa didengarkan, diapresiasi, dan dihargai hasil kerja kerasnya, Ihsan pun mulai mengikuti dengan baik semua prose pembelajaran, bahkan di mata pelajaran yang semula sangat tidak diminatinya.
Ibu rumah tangga dan pemilik Bimbel Pintar
