f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
alat ukur kebahagiaan

Perlukah Alat Ukur Kebahagiaan?

Beberapa hari ini dunia maya ramai dengan berita bahagia dari youtuber kondang Atta Halilintar atas kelahiran putri pertamanya. Siapa yang tak mengenal Atta? Dunia pun tahu bagaimana ketajirannya. Saking tajirnya, ia hadiahi sang istri dengan tas idaman branded berharga selangit. Salah satu tujuannya demi membahagiakan sang istri tercinta.

Sementara itu, di bagian sudut kota propinsi nan kumuh, Pak Sabar seorang pemulung, sibuk membersihkan sesuatu dengan beberapa kali dilap lalu ditiup sambil tersenyum tipis. Ada raut ceria di wajah kusamnya. Sebuah boneka lucu yang ia dapat dari tumpukan sampah yang menurut dia masih layak untuk mainan putrinya di rumah. Meski kaki boneka tersebut tinggal sebelah, Pak Sabar yakin dengan boneka itu putrinya bahagia.

*

Bahagia. Sebuah kata yang menurut KBBI berarti suatu keadaan di mana hati merasa senang dan tenteram lepas dari kesusahan. Tidak ada manusia yang tidak menginginkan bahagia dalam hidupnya. Apapun dilakukan demi meraih apa itu bahagia karena bahagia tidak muncul secara tiba-tiba meski ada yang mudah mewujudkannya ada pula yang mati-matian untuk memperolehnya.

Kadar bahagia seseorang tidak akan sama antara satu dengan yang lain. Bahagianya wong cilik tentu tidak akan sama dengan mereka yang bergelimang materi. Dari sisi lahiriah sudah bisa dilihat. Namun bukan berarti orang miskin tak berhak bahagia, karena bahagia bagi mereka sesuai dengan rasa senang dan nyaman yang ada di hatinya meski kadang tak berlangsung lama.

Di media sosial sering kita jumpai beberapa ibu yang setiap hari posting hasil tik-tokan dan selfienya. Monggo, silakan saja, bila memang dengan begitu hatinya menjadi bahagia. Ada yang seakan kecanduan bila tidak selfie sehari terasa ada yang kurang. Daripada ngerumpi tak jelas, akhirnya tik-tokan dan selfie yang dengan “kegiatan” tersebut hati mereka terhibur dan bahagia. Tentu bahagia menurut versi mereka. Mengapa tidak?

Baca Juga  Keistikamahan Seorang Muslimah

Suatu hari bertemu dengan beberapa teman yang secara tak sengaja membahas tentang hal apa saja yang bisa membuat bahagia menurut versi mereka. Jawabannya sungguh beragam dari yang paling sederhana sampai yang membuat tercengang sekaligus menggelikan. Kata temanku, ketika semua pekerjaan rumah di hari itu beres lebih cepat dari biasanya, bisa menghadirkan efek bahagia. Kata temanku yang lain, dapat chat sepatah kata, “hei” dari seseorang yang selama ini menari-nari dalam mimpi, juga bisa membuat bahagia tak terkira.

Kali lain ada yang bahagia karena getol mencoba resep-resep baru dari youtube lalu praktek dan berhasil. Yakni ketika membuat brownies terasa empuk di dalam dan renyah di luar; juga ketika membuat nastar berhasil mulus tidak retak-retak; bikin bika ambon legit dan bertekstur cantik. Nah, keberhasilan dalam membuat kue-kue telah melahirkan kebahagiaan tersendiri bagi mereka.

Jika Kebahagiaan Selalu Diukur

Bagi teman-temanku yang pinter menulis lalu dikirim ke media dan lolos adalah sesuatu yang membuat bahagia juga. Kalau toh tidak lolos di media tertentu, sensasi bahagia tetap ada karena unek-unek di kepala sudah tersalurkan berwujud tulisan, ini membawa perasaan lega dan besar kemungkinan berujung bahagia.

Bisa jadi kebahagiaan putri Pak Sabar yang bermain boneka bekas adalah puncak bahagia baginya. Ibu rumah tangga yang tiba-tiba dapat arisan PKK di saat dompet menipis mampu membuat ibu itu bahagia. Bapak penjual balon di tempat-tempat wisata yang hari itu dagangannya laris manis, juga mampu membuat seisi rumah merasa bahagia.

Puncak bahagia seseorang beragam. Bisa saja menurut kacamata orang kebanyakan, si A itu sangat bahagia karena kaya raya harta melimpah ruah. Tapi kita tidak pernah tahu apakah dia benar-benar bahagia, apakah dia tak memiliki masalah dan apakah-apakah lainnya.

Baca Juga  Kompetensi dan Ruang Lingkup Perempuan

Sebaliknya, mungkinkah si B yang papa itu pernah mengalami bahagia sedangkan dia hidup serba kekurangan? Mungkin saja pernah, misalnya keluarganya selamat dan sehat wal afiat di saat wabah menyerang hampir sebagian penduduk atau dia bahagia ketika pada suatu hari keluarganya masih bisa makan dengan kenyang.

Jika kebahagiaan selalu dinilai dengan sejumlah materi tentu tidak salah. Bagaimanapun juga materi berperan penting dalam pencapaian hidup yang berbahagia. Tidak akan ada yang percaya disebut hidup bahagia bila ternyata tidak punya apa-apa. Hanya saja, level bahagia bagi setiap orang tidak bisa diukur dengan alat apa pun karena masing-masing sudah ada porsi seberapa bahagia yang mampu dicapai.

Setiap insan berhak untuk mencapai bahagia dalam hidupnya. Dari bahagia yang hanya terlihat seujung kuku hingga bahagia setingkat dewa. Tentang bagaimana cara dan kiat-kiat apa yang harus dilakukan untuk meraih kebahagiaan itu bersifat subyektif. Sebagai sesama manusia yang juga mendambakan hidup bahagia, kita hargai apa pun bentuk bahagia yang orang lain miliki .

Haruskah Memakai Alat Ukur

Kebahagiaan yang tengah keluarga Atta dan Aurel alami adalah merupakan nikmat dan karunia dari Yang Maha Kuasa yang sempat membuat banyak orang kagum atau bahkan iri. Butuh perjuangan dan doa untuk mencapainya. Karena tanpa ridho dan “campur tangan-Nya” mustahil semua itu bisa diraih.

Demikian pula bagi putri kecil Pak Sabar yang hatinya senantiasa berbunga-bunga dengan hadirnya boneka yang bagi sebagian temannya, sudah tidak layak. Dia merasa bahagia dengan apa yang ia punya. Pak Sabar pun ikut bahagia melihat putrinya tampil ceria menyejukkan mata. Untuk menilai kebahagiaan seseorang haruskah memakai alat pengukur?

Bagikan
Comments
  • Ahsan jamet.hamidi@asiafoundation.org

    Membaca ini, saya jadi ingin melihat ulang makna kebahagiaan.

    Duh Gusti Allah
    Saya takut ingkar, lupa bersyukur atas kebahagiaan yg melimpah selama ini.

    April 5, 2022
    • Wurry Srie

      Alhamdulillah. Trimakasih, semoga tulisan ini bermanfaat.

      April 7, 2022
Post a Comment