f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kupu-kupu

Bagaimana Al-Qur’an Melatih Otak Kanan dan Otak Kiri Kita

Saya begitu takjub dan senang ketika mengikuti pengajian Ustadz Henri Mansur, seorang hafidz dan pegiat Al-Qur’an di daerah kami. Pasalnya, Ustadz Henri acapkali menggunakan cerita-cerita ciamik yang dikutip dari kitab suci untuk menjelaskan hikmah. Atau, ia berkisah tentang keadaan zaman Rasul yang berhubungan erat dengan turunnya ayat yang ia bahas tersebut. Bahasan pengajian menjadi hidup dan begitu terasa.

Saya kemudian teringat ketika belajar psikologi pendidikan saat kuliah lalu. Dalam kuliah itu, banyak pakar psikologi mengatakan dan sudah menjadi pengetahuan umum bahwa manusia memiliki dua belahan otak. Yang satu adalah otak kanan, yang satu lagi adalah otak kiri.

Sempat saya baca pula dari buku Ippho Santosa yang bertajuk 13 Wasiat Terlarang: Dahsyat dengan Otak Kanan, soal perbedaan otak kanan dan otak kiri. Otak kiri yaitu otak logis dan analitis. Ia bekerja sesuai akal pikiran yang lumrah. Hitungan dan angka-angka spesifik dan terukur mendominasi otak kiri. Otak kiri cocok bersanding dengan matematika, statistik, akuntansi dan fisika. Sementara otak kanan adalah fungsi imajinasi, khayalan, penciptaan, kreatifitas, insting, naluri, emosi dan bisa berhubungan dengan mengarang, menulis cerita, menggambar dan menikmati puisi.

***

Saya pun tertegun, dan merasa saat pengajian dengan ustadz Henri itu, ternyata otak kanan saya terasah tanpa sadar. Cerita-cerita ustadz Henri tentang sejarah yang dikutip dari Al-Qur’an membuat saya “terbang” dalam imajinasi. Seakan-akan saya berada dalam cerita dan mengalami sendiri cerita tersebut.

Dan tidak jarang pula, ustadz Henri juga menjelaskan soal angka-angka spesifik dan bagian-bagian dari Al-Qur’an yang tersusun menarik. Misalnya saat beliau menceritakan bahwa detail sufuf pertama dari surat Al-Baqarah itu bercerita tentang tiga jenis manusia, yaitu; orang-orang beriman, orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sufuf selanjutnya menceritkan tiga jenis kepemimpinan, yaitu: kepemimpinan Adam, kepemimpinan Ibrahim, dan kepemimpinan Musa.

Baca Juga  Viennetta dan Keinginan-Keinginan Kita

Saya juga terkagum tentang detail angka yang Ustadz Henri katakan tentang berapa kali nama “Musa” disebut dalam Al-Qur’an, misalya. Atau soal berapa jumlah kata “rahmat” dalam Al-Qur’an dan di surah serta ayat berapa sekaligus arti spesifiknya dari analisa bahasa. Wah, bisa detail sekali pembahasannya.

Di pengajian lain, saya pun pernah mendengar hal detail lain tentang kecocokan angka spesifik. Misalnya soal surah ke 57 yaitu Al Hadid yang berarti “besi” yang bertepatan dalam unsur periodik kimiawi, dimana unsur Fr atau Ferro, kode kimia untuk besi, juga bernomor massa 57. Saya merasa itu bukanlah sebuah sekadar kebetulan. Detail itu cukup membuat saya terhenyak. Saya takjub dengan detail seperti itu dalam Al-Qur’an dan otak kiri saya terasa belajar banyak.

Lalu, saya mulai rajin membaca Al-Qur’an dengan arti terjemahannya (maaf bukan bermaksud ria hehe). Setelah saya amati, entah mengapa ada suatu fase di mana Al-Qur’an dapat melatih otak kanan, dan ada fase lain yang juga melatih otak kiri. Meski saya bukan ahli tafsir, saya bisa menerka dengan pembahasan-pembahasan dalam Al-Qur’an, sesuai ilmu psikologi pendidikan yang pernah saya pelajari dulu sewaktu kuliah.

***

Al-Qur’an adalah kitab suci yang bertabur kisah. Banyak cerita orang terdahulu yang abadi di dalamnya. Surah Al-Baqarah ayat 30, misalnya, bercerita tentang asal usul penciptaan manusia disertai dialog antara Allah SWT dan malaikat. Lalu ayat-ayat berikutnya menceritakan kisah Adam, berlanjut kisah Ibrahim dan Musa. Lalu ada pula di surah-surah lain kisah Maryam, Luqman, Imran, Ashabul Kahfi, bahkan musuh Rasulullah pun, Abu Lahab, terkisah dalam Alquran.

Al-Qur’an juga memproyeksikan kehidupan masa depan yang belum pernah dilihat seorang pun sebelumnya. Salah satu contohnya adalah saat Al-Qur’an mengisahkan soal surga dan neraka, yang belum ada gambaran secara jelas dan gambling dalam benak manusia. Di surah Ar-Rahman misalnya, ada penjelasab ahwa ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dijelaskan pula banyak buah-buahan di dalam surga, dan surga berwarna hijau tua, serta tersedia bidadari-bidadari. Di surah Al-Waqiah, juga menyebutkan adanya anak muda pelayan surga yang selalu muda.

Baca Juga  Belajar dari Aska

Banyaknya cerita terdahulu dan gambaran proyeksi masa depan menginspirasi kita untuk berimajinasi dan membayangkan dalam benak. Saat Al-Qur’an bercerita soal Adam, kita bisa jadi membayangkan manusia pertama itu berperawakan besar tinggi, berotot, berambut agak gondrong karena belum ada tukang cukur, dan berbaju seadanya dari kulit pohon karena belum ditemukan mesin jahit. Dan bisa jadi khayalan tiap orang berbeda dan gambaran Nabi Adam AS pun berbeda pula.

Begitu pula saat Al-Quran bercerita soal surga dan buah-buahan, kita membayangkan berbagai macam jenis buah yang ada di sana. Apakah ada buah pisang, kedondong, markisa, nanas, anggur, kurma, apel, cherry, blueberry, durian, duku, dan lain-lain. Semua itu tergantung daya khayal kita (baca: imajinasi) yang menggerakkan otak kanan kita. Saat Al-Qur’an menyebutkan bidadari, kita mulai menerka-nerka seperti siapakah rupa bidadari itu. Mungkin ada yang membayangkannya seperti artis Shireen Sungkar, Dhini Aminarti atau Oki Setiana Dewi. Semua masih dalam benak otak kanan kita.

***

Secara ilmu psikologi, itulah proses di mana otak kanan aktif dan berlatih. Karena memang otak kanan berfungsi pada hal-hal imajinatif, maka saat membaca Al-Qur’an dan bertemu dengan ayat cerita masa lalu, atau ayat proyeksi surga masa depan, maka belahan otak kanan sedang bereaksi dan membentuk rangsangan dengan membayangkan kejadian itu terjadi dalam gambaran kita masing-masing.

Selain itu, saat kita membaca Al-Qur’an di fase-fase yang menyebutkan detail angka atau urutan yang spesifik, otak kiri kita akan terlatih pula. Misalnya ada surah An-Nisa ayat 11 dan 12, yang menyebutkan soal pembagian harta warisan dengan sangat detail dengan angka-angka yang logis dan spesifik. Selanjutnya ada pula surah An-Nur ayat 31 yang menyebutkan soal spesifik aurat lelaki dan wanita, dan ada pula ayat yang menyebut siapa mahram yang tidak haram melihatnya.

Baca Juga  Niat Baik Akan Dipertemukan dengan Jalan-Nya

Detail yang juga membuat terhenyak adalah surah yang menceritakan urutan penciptaan manusia mulai dari setetes air, menjadi segumpal darah atau nuthfah, lalu jadi segumpal daging (alaqah), mudghah, hingga menjadi bentuk yang sempurna. Detail-detail angka dan urutan kejadian pada Al-Qur’an yang spesifik secara ilmu psikologis mengandung unsur pembelajaran untuk otak kiri manusia.

Maka dari itu, saya meyakini bahwa membaca Al-Qur’an dan artinya akan melatih dua belahan otak dalam fase-fase tertentu. Al-Qur’an meningkatkan daya khayal atau imajinasi yang tinggi, yang dapat kita ambil hikmahnya bahwa Allah SWT memberi anugrah otak kanan yang berguna untuk kehidupan manusia sebagai manajemen emosi, kreativitas, inovasi, dan sebagainya. Di sisi lain, dengan hitungan yang logis dan analitis, Allah SWT juga ingin memberi hikmah pada kita untuk melatih akal dan logika serta kemampuan berpikir kritis, yang didominasi otak kiri.

Bagikan
Post a Comment