f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Islamic photo created by rawpixel.com - www.freepik.com

Kisah Perempuan Arab Saudi di tengah Himpitan Budaya

Oleh : Haidir Fitra Siagian

Pengajian Ahad pagi yang secara rutin dilaksanakan oleh pengurus Jamaah Pengajian Illawwarra (JPI) Wollongong, tadi subuh terasa sedikit lebih berbeda. Kami para warga negara Indonesia yang terdiri dari mahasiswa dan pekerja, sedang melaksanakan tadarus Al-Qur’an secara bergantian, di Masjid Omar Wollongong.

Kami sama-sama belajar, saling memperbaiki dan saling mengingat jika ada kekeliruan bacaan. Maklumlah, diantara kami tentu masih ada yang tidak terlalu lancar bacaannya. Itulah sebabnya kami mengadakan tilawah secara rutin.

Tadarus Tadi di masjid, selain kami yang mengadakan tadarus, ada pula jamaah lain, di bagian depan saudara-saudara kita yang datang dari berbagai asal negara melakukan pengajian. Mereka bermalam di masjid sejak kemarin hingga beberapa hari ke depan. Hal ini sudah sering kedatangan jamaah yang demikian. Hampir ada tiap bulan. Selain mereka ada pula satu-dua orang yang berzikir sendiri-sendiri.

Hampir satu jam kami tadarrus bersama dan beliau mengajari kami. Tentu satu kesyukuran atas hal ini, atas ilmu yang dia berikan. Dapat guru mengaji gratis, dari Arab pula.

Ketika kami sedang tadarus, seorang bapak yang hampir tua, datang mendekat ke kami. Dia minta izin, agar dibolehkan duduk mendekat dan mendengarkan bacaan kami. Meskipun tidak memegang mushab Qur’an, beliau mengikuti setiap ayat yang kami baca. Beberapa kali dia ikut menyela dan memperbaiki bacaan kami. Saya baru sadar bahwa Bapak ini seorang hafidz Qur’an. Dia mengetahui setiap harkat yang kami baca. Dia ulangi baca dan jelaskan kedudukan huruf juga tanda bacanya. Kadang-kadang sambil memejamkan matanya.

Sudah rutin setelah tadarus, kami sarapan ringan ala kadarnya. Kali ini saya bikin kopi susu. Di masjid ada mesin pemasak air listrik dan ceretnya. Sedangkan bahan-bahan, kopi, susu, gelas, dan makanan ringan saya bawa dari rumah. Kebetulan ibunya anak-anak di rumah lagi berbaik hati, membuatkan kue tepung manis kemarin. Itu yang kubawa ke masjid subuh ini. Tetap terasa enak walaupun sudah dingin.

Setelah siap saji, saya ajak teman-teman sarapan. Tak lupa bapak tadi ikut kami ajak sarapan. Tapi dia terlebih dahulu salat sunnah suru’ dua rakaat. Setelah itu, barulah dia bergabung dengan kami. Katanya dia tahu kami dari Indonesia dari cara dan suara kami tadarus.

Berkenalan dengan Wanita Arab Saudi

Setelah cerita ini dan itu, kami saling berkenalan. Dia seorang warga negara Arab Saudi baru beberapa hari tiba di Wollongong. Beliau adalah seorang dosen dalam bidang tarbiyah yang sudah pensiun. Sekarang berada di Australia hingga beberapa waktu ke depan.

Tujuannya ke sini adalah untuk menemani putrinya yang baru saja diterima di University of Wollongong mengambil program doktor, juga dalam bidang pendidikan. Sebenarnya putrinya sudah menikah. Menantunya adalah seorang polisi di Arab Saudi.

Dia sengaja ikut ke sini untuk menemani sang putri. Putrinya itu, meskipun sudah menikah, harus ada yang mendampinginya. Tidak boleh dibiarkan sendirian di sini walaupun sudah dewasa atau sudah berkeluarga. Mengingat suami sang putri adalah polisi yang masih bertugas, belum bisa datang ke sini. Sehingga sang bapak tadi yang rela ikut menemaninya.

Bagi kita, meskipun sesama Islam, mungkin itu terasa aneh. Terutama bagi mereka yang sudah berpikiran “maju”. Mengapa mesti ditemani? Apalagi sudah besar, sudah berkeluarga. Negara yang aman dan tidak kacau. Kita berpikir bahwa seharusnya si putri dibiarkan saja sendirian di sini.

Ternyata mereka memang punya pikiran lain. Dalam Islam memang sebenarnya tak boleh seorang perempuan keluar rumah tanpa pendamping, tanpa izin. Tetapi sekarang, kita menganggap hal itu, pada zaman sekarang sudah aman, tak ada masalah. Sehingga boleh saja perempuan bisa pergi sendiri, termasuk sekolah di luar negeri.

Di Arab Saudi, ketentuan itu sedikit demi sedikit sudah mulai longgar. Sudah ada gerakan hak asasi manusia yang berusaha memperjuangkan kebebasan perempuan. Misalnya menyetir kendaraan, seorang perempuan sudah dibolehkan. Juga pergi sekolah ke luar negeri, sudah ada yang melakukannya.

Walau bagaimanapun bagi bapak ini dan keluarganya, tetap belum menerima sepenuhnya. Mereka masih berpatokan kepada ajaran agama Islam ataukah budaya Arab Saudi selama ini yang mereka yakini, bahwa seorang perempuan yang keluar, harus didampingi mahramnya.

nilah keyakinan sebagian umat Islam. Keyakinan sebagian warga Arab Saudi yang masih dipegang dan diamalkan. Tentu sebagai keyakinan, harus dihormati. Harus diterima, sebagaimana mereka juga mesti menerima pendapat yang berbeda.

****

Satu hal lagi, ketika saya minta izin foto bersama, beliau berkenan. Dengan syarat jangan dimediakan (secara fulgar). Itulah sebabnya mengapa wajah Syekh ini sengaja saya tutup sebagai bentuk penghormatan kepadanya. Namanya pun tak saya sebutkan dalam artikel ini.

Berbagi pengalaman dan hikmah adalah sesuatu yang baik. Menjadi pelajaran bagi sesama. Insya Allah.

Wassalam

Gwynneville, 12.01.20.

Artikel ini telah dimuat di ibtimes.id dengan judul Perempuan dan Budaya Arab Saudi

Bagikan
Post tags:
Post a Comment