f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ramadan berpuasa

Berpuasa di Ramadan yang (tak) Sama

Ramadan tiba, banyak yang gembira. Tapi banyak juga yang biasa saja. Alias, siang bolong di bulan Ramadan ya tetap makan, dan ngopi seperti biasa. Tidak ada yang berbeda.

Bagi saya, seorang ibu berbuntut tiga, Ramadan adalah saatnya  menjadi supporter plus motivator bagi anak-anak di rumah untuk mau belajar berpuasa.  Maka, untuk merealisasikan motivasi saya menjadi tindakan nyata, di hari pertama puasa, saya sempatkan belanja di pasar dekat rumah. Persiapan  masak menu istimewa untuk buka puasa anak-anak dan suami di rumah.

Jangan membayangkan menu istimewa itu menu masakan Padang atau restoran mewah. Bukan ya! Yang jelas masakan menjadi istimewa  karena dibuat dengan sepenuh cinta dan untaian doa.

Suasana sepanjang jalan menuju pasar agak sepi. Warung kopi di kanan dan kiri jalan banyak yang tutup. Kalau dihitung, dari rumah saya ke pasar ada sekitar sepuluh warung kopi. “Panteslah tutup, kan hari pertama Ramadan” begitu ujar suami yang mengantar saya dengan bersepeda.

Sepulang dari pasar, saya dan suami melewati jalan yang berbeda. Tiba-tiba dia berseru, “Lah warung itu kok sudah nyiapkan kain”, ucap suami pada saya yang  masih melamun mikirin telur yang makin jual mahal saja. “Warung yang mana?, Tanya saya. ” Warung yang barusan kita lewat” jelas suami lagi. Sayangnya saya tidak sempat melihat dengan jelas. Lah, sepeda yang dikendarai, sudah melaju menjauh dari warung yang dimaksudnya.

Hari pertama puasa dilewati anak-anak dengan sukses. Meski mereka merengek dan menangis karena lapar dan haus. Wajar saja.  Anak-anak masih belajar berpuasa. Berbeda dengan orang dewasa. Orang dewasa mungkin tidak pakai merengek atau menangis. Kalau tidak kuat puasa, biasanya ya langsung menuju warung yang ada penutup auratnya, kemudian pesan makanan. Setelah kenyang, baru pulang. Kembali beraksi seperti orang yang sedang berpuasa.

Baca Juga  Saya Calon Orang Tua, Gen Z, dan Galau: Catatan di Hari Anak Nasional

Puasa hari kedua, saya ketinggalan tukang sayur keliling yang mulai berjualan lagi. Terpaksa belanja di pasar itu lagi. Perjalanan menuju ke pasar, saya mencari warung kopi yang kemarin ditunjuk suami. Sambil bersepeda, mata saya melirik ke kanan dan ke kiri jalan yang ada warung kopinya. Satu dua tiga sampai lima warung kopi masih tutup.

Baru sekitar 100 meter sebelum pasar, di sebelah kanan jalan, ekor mata saya menangkap beberapa sepeda berjejeran di kanan jalan. Persis di depan sebuah warung kopi. Rupanya, itu warung kopi yang ditunjuk suami. Warung kopi  yang sejak kemarin sudah menyiapkan kain sebagai penutup.

Ya Rabbi, baru puasa dapat dua hari, sudah banyak anak laki-laki abege jadi jamaah warkopiyah. Sambil memegang HP, mereka menyeruput kopinya.

Pemandangan seperti itu, saya temukan lagi di sore harinya. Saat beli panganan buat berbuka. Di sebelah penjual roti bakar ada tiga bapak-bapak dengan santai memainkan asap rokoknya. Mereka ber haha hihi seakan tidak peduli kalau beduk maghrib belum berbunyi.

Ingatan saya melayang ke puluhan tahun silam ketika saya masih kecil. Mungkin karena ada anjuran dari pemerintah agar menutup warung sementara ketika Ramadan tiba. Maka, hampir tidak ada satupun warung makan atau warung kopi yang buka. Sehingga, tidak terlalu banyak ‘godaan’ bagi anak-anak yang masih belajar berpuasa.

Suasana Ramadan menjadi terasa khusyuk dan syahdu. Bahkan, jika ada orang yang tidak berpuasa, pasti dia akan sangat malu. Kalaupun tidak berpuasa pasti karena memang dalam kondisi yang sangat terpaksa. Jika mau makan, minum atau merokok maka akan dilakukan dengan sembunyi-sembunyi.

Perempuan-perempuan yang tidak puasa karena berhalanganpun cukup tahu diri. Tidak perlu menunjukkan kalau sedang dapat dispensasi. Ketika lapar, mereka tidak perlu beli makanan plus makan di tempat. Cukup makanannya dibawa pulang ke rumah. Kasihan yang lihat nanti bisa jadi tergoda dan membatalkan puasa. Kan, ikutan kecipratan dapat dosanya.

Baca Juga  Kepentingan Anak Bukan Undian Batu Gunting Kertas

Seingat saya pula ketika di sekolah dasar dulu, guru PMP (Pendidikan Moral Pancasila) pernah menjelaskan tentang toleransi beragama. Salah satu yang dicontohkannya adalah seperti itu juga. Tidak makan dan minum di depan orang yang sedang berpuasa. Begitu berkharisma guru saya itu, sehingga penjelasan tentang tolerasi beragama masih teringat hingga puluhan tahun lamanya di kepala muridnya.

Waktu jelas sudah berubah. Bahkan Majelis Ulama pun kini membolehkan warung makan untuk tetap buka di bulan puasa dengan berbagai pertimbangan tentunya. Ramadan tahun ini memang sama dengan Ramadan masa kecil saya dan Ramadan-Ramadan selanjutnya. Yang berbeda adalah suasana dan kekhidmatannya dan bagaimana kita menghormati kehadirannya.

Tugas menjadi orangtua semakin berat rasanya. Anak-anak tidak hanya diajak berpuasa. Orang tua harus semakin menguatkan doa-doa untuk anaknya. Pun, harus memberi penguatan, pengertian dan mengajarkan toleransi kepada mereka. Contoh toleransi yang tidak sama lagi dengan yang guru PMP sampaikan kepada saya.

Bagikan
Post a Comment