f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
suami

Tak Seperti yang Dikatakan Atta, Kita adalah Suami yang Sewajarnya

Klaim “suara suami, suara Tuhan” sempat menjadi polemik di antara berbagai kalangan. Mulai dari Komnas HAM, aktivis gender, hingga Ibu Rumah Tangga.

Sebagai figur dengan jutaan follower pernyataan ini sangat mengkhawatirkan.

Bagaimana tidak? Meskipun bukan ilmuwan, bukan aktivis keluarga, bukan juga ulama. Kebiasaan, gaya hidup, hingga perkataan Youtuber ini mau tidak mau menjadi mazhab tersendiri bagi fans beratnya.

Bila kini follower Atta mencapai 26,6 juta, 2% saja yang mengiyakan pernyataan tersebut, maka 532.000 orang akan memiliki konsep berkeluarga semacam itu. Bahaya! Begitulah yang terbesit di benak Komnas HAM, aktivis gender, dan beberapa kalangan yang setuju dengan konsep keseimbangan atau kesalingan dalam rumah tangga.

Mari abaikan sejenak segala konsep rumah tangga ideal dan teoritis yang ada dalam berbagai textbook. Mari kita mulai bernalar sejenak, merenungi fakta-fakta yang terjadi di rumah tangga masing-masing, atau fakta yang terjadi di sekitar kita.

Sebagai suami saya mendeklarasikan diri bahwa perkataan dan perintah saya tidak sebanding dengan perintah Tuhan dan saya bukan wakil Tuhan.

Adakalanya secara nalar, apa yang saya perintahkan kepada istri, sejalan dengan perintah Tuhan, seperti perintah yang saya berikan ketika istri saya hamil. Selama hamil saya memerintahkan kepada istri untuk membaca Al-Qur’an memohon untuk diberikan keturunan yang sholih dan/atau sholihah. Tentunya, saya ebagai suami juga juga wajib membaca Al-Qur’an.

Namun saya juga menyadari bahwa terkadang ada sikap, perbuatan atau perkataan yang cenderung ingin menguntungkan sendiri. Sebagai contoh, saat saya berpura-pura sibuk ketika istri minta tolong saya memandikan anak.

*

Contoh lain, suatu hari, istri pernah minta tolong untuk membenarkan bagian atap rumah yang bocor saat hujan. Sebagai lelaki yang notabene tidak pernah bekerja kasar, saya merasa tuntutan istri saya itu sangatlah berat. Pasalnya, sejak kecil hingga umur 25 tahun, saya tidak pernah bekerja kasar, paling banter saya membantu Ayah mencari rumput dan mengairi sawah, itupun bagi saya rasanya seperti Romusha.

Baca Juga  Asap Dapur Mengebul Urusan Siapa?

Sebagai hasilnya, saat istri minta memperbaiki atap, lantaran saya terbiasa berpikir konseptual, puluhan konsep muncul dalam benak saya. Tujuannya satu, menghindari rasa malu dan menghindari kata “wah saya tidak bisa”.

Dengan bijak saya menjawab dengan menjelaskan akar masalah mengapa atap itu bocor, jawabannya saya akhiri dengan rumusan masalah berupa “mari kita panggil tukang saja”.

Untungnya, pasca menikah saya tergolong manusia yang beruntung, lantaran mendapatkan pekerjaan yang kiranya cukup untuk menafkahi istri dan membayar biaya perbaikan atap tadi.

*

Ada fakta lain yang muncul di sekitar tempat tinggal saya. Ini saya temukan saat ngobrol dengan tukang grab. Saat itu saya mendengar keluhan dari sopir grab mengenai saudaranya yang bekerja sebagai tukang ojek.

Menurut informasinya, sehari-hari saudaranya berangkat ke pangkalan ojek, 1-2 jam berada di pangkalan, belum mendapatkan penumpang, si tukang ojek ini sudah pulang. Konon katanya, istrinyalah yang menjadi tulang punggung keluarga.

Padahal, seorang suami, menurut konsep agama seharusnya menafkahi istri. Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Melihat fakta ini, banyak emak-emak yang akan menjawab konon, kurang menganggap suami.

Fakta berikutnya, adalah contoh keluarga mapan. Keluarga yang masing-masing suami istri berpenghasilan, memiliki pengetahuan, dan notabene tokoh dalam komunitasnya. Hubungan mereka tampak saling melengkapi. Menurut versi istrinya, segala perkataan suaminya adalah mutlak harus dipenuhi.

Melihat kehendak si istri yang demikian murni, akhirnya saya penasaran dengan sosok suami. Setelah diusut ternyata suaminya adalah tokoh masyarakat, imam masjid, berpenghasilan layak dan juga sering menuruti kemauan istrinya.

Apakah kemudian suami semacam ini yang dapat dianggap mutlak perintahnya? Tentu saja, ada banyak suami-suami lain yang juga memiliki kepribadian dan penghasilan yang sama, sederhananya tidak ada yang spesial sang suami. 

Baca Juga  Urgensi Me Time bagi Para Istri

Lalu, apa yang menyebabkan si istri beranggapan bahwa perintah suami wajib ditaati, tentu saja itu berasal dari kemauan sang istri. Ia secara sukarela menyerahkan kemerdekaan untuk bertindak semaunya, pada titah sang suami. Bukan lantaran sang suami yang menobatkan dirinya.

*

Selanjutnya, ada jenis suami lain yang menurut saya paling miris, “Suami Takut Istri” begitulah teks yang saya baca di berbagai postingan media sosial. Menurut kesepakatan umum, suami jenis ini adalah mereka yang terlalu takut pada istri, sehingga segala tindakan yang dilakukan berada di bawah kontrol istri, atau dalam pembahasan kali ini bisa dikatakan bahwa “Perintah Istri Mutlak bagi Suami”.

Dalam kategori ini, si Istri tentu saja bukan istri tulang punggung keluarga layaknya istri tukang ojek tadi. Suami tetap menjalani perannya sebagai pemberi nafkah, si istri juga turut menyumbang sebisanya, sebab harus mengurus anak-anak dan dapur terlebih dahulu.

Hanya saja, melihat klaim “suami takut istri” versi media sosial, semengerikan itukah kehidupan real laki-laki ini? Tentu saja, banyak versi. Dalam versi yang saya temui, ternyata tidak begitu faktanya.

Di sekitar tempat tinggal saya, memang ada istri yang lebih dominan ketimbang suami, setelah di dalami ternyata faktornya adalah karena memang dari sisi pendidikan, keterampilan dalam bermasyarakat dan berkomunikasi, si istri lebih terampil. Sang suami ternyata lebih terampil dari sisi otot atau tenaga, sedangkan negosiasi, komunikasi dan diplomasi dilakukan oleh istri.

Suami semacam ini sulit untuk mendapatkan posisi sebagai “kuli” misalnya, tanpa ada bantuan si istri yang rela berkomunikasi, menjadi manajer suami. Logikanya, bila manajer memerintah tenaga terampilnya agar perusahaan berjalan sebagaimana mestinya, ini tidak ada yang salah. Agar kehidupan rumah tangga berjalan, maka mau tidak mau si istri kemudian berperan sebagai manajer, bukan memerintah suami.

Baca Juga  Pendidikan Karakter ala Upin & Ipin

Sampai di sini, masih banyak berbagai fakta sosial tentang kehidupan suami istri yang masih bisa digali. Idealnya, memang kesalingan dalam rumah tangga menjadi tujuan akhir pernikahan, namun faktanya ada banyak faktor dalam kenyataan yang perlu dipertimbangkan.

Bagikan
Post a Comment