Warteg dan Merencanakan Kematian
Saat saya menulis ini dalam hati ada sebuah perdebatan. Bukannya yang ada adalah merencanakan kehidupan. Bukan merencanakan kematian. Jangankan merencanakan. Berbicara sedikit saja tentang kematian, dalam masyarakat kita dianggap tabu. Misalnya, “Nanti kalau ibu sudah meninggal, kalian jangan lupa selalu mendoakan Ibu.” Berbicara seperti ini sebenarnya tidak ada salahnya. Bahkan benar adanya. Karena sudah jelas bahwa semua yang hidup itu akan mati.
Kalau sudah mati, apalagi yang dibutuhkan oleh seseorang, kalau bukan doa. Karena seperti ajaran Islam, bahwa akan terputus semuanya ketika seseorang sudah mati. Kecuali tiga hal, di antaranya ada doa anak yang saleh. Nah, ketika seseorang mengatakan itu pada anaknya, sontak anaknya akan menjawab, “Sudah, Bu. Jangan berkata begitu. Hati-hati, itu doa lho.”
Mengingat mati, atau bahkan merencanakannya, seharusnya tidak ditanggapi sebagai hal yang ngeri atau tabu. Sebenarnya itu adalah sebuah power atau energi yang sangat besar. Sebuah kekuatan yang akan membawa pengaruh saat kita menjalani kehidupan. Bagaimana bisa dengan mengingat kematian akan menentukan seseorang menjalani kehidupannya? Start with ending (memulai dengan akhir yang kita mau).
***
Coba kita perhatikan sekilas cerita ini. Dulu saat saya kuliah di Bogor, teman satu kos saya dari Tegal. Ia dengan bahasa ngapaknya berpadu dengan saya yang Jawa Timuran tulen, ternyata menghasilkan persahabatan yang seru. Sesekali saya ikut dia main ke mana. Kali lain ia ikut saya main ke mana. Bahkan sampai keluarga kami saling kenal dan akrab.
Suatu saat saya pernah ikut dia menyambangi kerabatnya yang bekerja di Jakarta. “Jangan khawatir, kita nanti pasti makan di warteg,” janji dia. Semangat saya membuncah. Karena bagaimana pun makan di warteg termasuk salah satu favorit saya. Apalagi gratis. Selain saya juga tak akan menolak kalau dia traktir masakan Padang. Heuheuheu.
Singkat cerita, sampailah kami di rumah kerabatnya. Mohon maaf, bukan bermaksud apa-apa. Ternyata kerabatnya ini tinggalnya ya di wartegnya itu. Dengan bangunan yang sangat sederhana. Tentunya dengan MCK yang sederhana pula, kalau tak boleh dibilang seadanya. Untungnya pada saat itu dorongan kebutuhan saya hanya ingin makan. Tidak ingin ke ‘belakang’. Karena kalau harus melakukan hajat itu, saya tidak sampai hati. Benar-benar kondisi yang sangat seadanya.
Menikmati makanan warteg yang gratis kapan lagi, batin saya. Meski dengan berbagai pertanyaan di dalam hati, saya tetap asyik saja menikmatinya.
***
Kali lain, sahabat saya ini pulang ke Tegal. Ia menawari saya ikut serta. Libur yang hanya tiga hari tentunya tak masuk akal kalau saya gunakan pulang ke kampung halaman di Jawa Timur sana. Maka ikut ke Tegal adalah pilihan yang indah. Daripada menjadi penunggu kos di Bogor. Ini karena rata-rata teman kami satu kos rata-rata punya kerabat di Jakarta. Sehingga libur sekejap membuat mereka bisa pulang ke rumah kerabatnya.
Saat kami di Tegal, temanku ini ada keperluan berkunjung ke rumah kerabatnya. Ternyata, yang dikunjungi tidak lain ya yang punya warteg di Jakarta itu. Yang tempo hari kami kunjungi. Tak kusangka, rumahnya bak istana. Mentereng di desa dengan MCK yang tentunya bisa disebut mewah. Saya benar-benar ternganga. Ketika kerabatnya itu menyapa saya, “Wah rumahnya bagus sekali,” kelakar saya.
Dia tersenyum. “Itulah, Dek. Kami bersyukur. Dengan membuka warteg di Jakarta, uang yang kami hasilkan kami kirim ke rumah. Untuk membangun rumah ini. Karena kami tak selamanya tinggal di Jakarta. Suatu saat kami akan pulang,” urainya. “Sedangkan untuk hidup di Jakarta ya, seadanya saja. Wong memang bukan tujuan untuk menetap di sana,” lanjutnya.
Deg. Jawaban yang sangat mengejutkan. Seketika saya berpikir tentang begitu bijaksananya kerabat sahabat saya ini. Dia telah tahu tujuannya. Bahwa dia di Jakarta tidak untuk tinggal. Tetapi hanya merantau. Tujuan akhirnya adalah pulang. Kembali ke Tegal. Maka segala cara dia tempuh. Termasuk mau hidup prihatin di Jakarta. Semua hasil dikirim ke Tegal untuk dibangunkan rumah atau juga menyiapkan masa depan. Misal dengan membeli sawah atau binatang ternak.
***
Tujuan itulah yang membuat dia bisa membuat rencana. Dia tahu tidak akan seterusnya tinggal di Jakarta. Maka di Jakarta hidupnya sekedarnya. Lebih fokus mencari bekal. Untuk dikirim pulang ke Tegal.
Demikianlah kehidupan ini. Andai kita tahu tujuan kita, nanti kita akan ke mana dan akan pergi ke sana dengan cara apa. Kita tidak akan main-main menyiapkannya. Merencanakan semuanya. Saat kerabat sahabat saya itu bilang tidak akan tinggal di Jakarta selamanya dan akan pulang, saya berpikir ini sama dengan kehidupan kita di dunia. Bahwa dunia bukan tempat akhir kita. Tempat akhir kita, tempat pulang kita adalah akhirat.
Maka ketika kita ada di dunia, jangan terlalu. Dunia adalah tempat kita prihatin. Agar kita bisa mempersiapkan rumah kita yang indah di akhirat. Dunia bukanlah tempat istirahat. Tetapi tempat untuk merantau. Mencari bekal dan mempersiapkan pulanglah yang sangat penting untuk kehidupan berikutnya.
***
Begitulah merencanakan kematian. Kita ingat bagaimana Rasulullah sangat santai ketika para sahabat merasa gundah. Para sahabat menyaksikan ada gurat bekas pelepah kurma di pipi beliau. Karena Rasulullah tidur beralas pelepah kurma saja. Sahabat ingin membuatkan beliau tempat yang nyaman untuk beristirahat. Namun apa jawaban Rasulullah. Beliau menyatakan bahwa tak perlu ada yang dirisaukan dengan kehidupan dunia. Dunia ini sebagaimana hanya sebagai tempat beristirahat sejenak saat akan melanjutkan perjalanan lagi mencapai tujuan.
Jadi jika kita tahu tujuan kita nanti akan ke mana dan dengan cara apa kita akan kembali, maka kita tidak akan main-main merencanakannya. Bukankah perencanaan baru bisa dibuat saat kita sudah tahu tujuan kita? Bukankah rencana bisa kita buat jika kita sudah tahu dan ingin kita nanti akan kembali dengan cara apa.
Begitulah merencanakan kematian. Jika kita sudah merencanakan kematian kita, maka sudah pasti kita akan sungguh-sungguh merencanakan kehidupan kita. Kita akan menentukan menjalani hidup ‘prihatin’ di dunia ini dengan cara apa untuk merencanakan kematian kita.
Jika kita ingin membangun rumah yang indah di ‘sana’, berarti ‘prihatin’ kita harus diperkuat. Dengan mengikuti hal-hal yang memang ditentukan oleh Sang Pemilik kehidupan dan kematian. Diatur oleh Sang Maha Pengatur. Masihkah kita ragu untuk merencanakannya? Tentu tidak. Meski untuk tiba waktunya kita masih menawar. Kalau boleh jangan dulu.
Tinggal di Malang Jawa Timur. Senang dengan dunia anak-anak. Aktif menulis cerita anak. Selama ini masih terus belajar menulis dengan mengikuti berbagai kelas dan belajar mempraktikkannya.

Dwi k
Sangat menginspirasi sekali bahwa hidup ini harus sederhana