Pandemi dan Realita Kehidupan Anak SMK
Tulisan ini terinspirasi dari nasib adik saya yang malang. Adik saya ini bersekolah di salah satu SMK jurusan Kimia Analis. Akibat dari adanya pandemi yang tak kunjung usai, semua sekolah di Surabaya diliburkan termasuk sekolah adik saya. Padahal, baru beberapa bulan saja dia masuk sekolah dan menikmati praktik di laboratorium. Saya pun baru saja mengambil rapornya sekali di sekolahnya mewakili orang tua.
Dulu, dia senang sekali ketika libur sekolah tiba. Tapi, sekarang dia selalu bilang, “mbak, aku pingin sekolah, aku kangen nge-lab”. Di tengah kesibukan hariannya, dia selalu mengecek notifikasi di grup Whatsapp. Setiap kali ada pengumuman siswa datang ke sekolah, dia selalu kegirangan. Namun, kegirangannya hanya sesaat, beberapa hari kemudian pengumuman itu mesti dibatalkan oleh sekolah.
Sebenarnya kasihan, tapi mau gimana lagi. Saya dulu anak SMA jurusan IPS, kalau toh dulu daring mungkin enggak masalah karena masih banyak e-book gratis yang bisa jadi bahan untuk belajar. Beda dengan adik saya yang SMK dan jurusannya juga Kimia. Praktik di laboratorium seharusnya menjadi kebutuhan wajib untuknya. Dia akan kesulitan memahami kalau hanya sekadar membaca catatan guru yang notabenenya dia juga kurang paham.
***
Pernah suatu ketika, saya memergokinya lihat You Tube padahal jam-jamnya dia mengikuti kelas daring. Eh ternyata, itu tugas dari gurunya untuk menonton praktik mahasiswa kimia di You Tube. Katanya, nanti sebagai tanda kehadiran di kelas, semua murid harus menonton sampai selesai videonya, kemudian di screenshot dan dikirimkan ke grup kelas.
Saya sampai berpikir memangnya siswa bisa “nyambung” dengan hanya menonton video. Seingat saya dulu waktu masih SMP, saya juga ada pelajaran Sains, dan saya sering remedi waktu benerin preparat mikroskop yang saya enggak tahu kenapa hasilnya mesti buram. Bayangkan, itu saya praktik langsung aja enggak bisa, apalagi adik saya yang hanya menonton video di You Tube.
Lebih lucu lagi waktu ujian. Saya selalu heran kenapa adik saya ini enggak tegang dan enggak pernah belajar ketika menjelang waktu ujian. Jawabannya begini, “mbak, guruku itu paling sudah tahu kalau muridnya nggak ada ya paham, jadi guruku buat soal copas dari internet, nih udah ada jawabannya, urut pula”. Saya hanya bisa bilang sambil manggut-manggut, “Oh, begitu”. Dalam situasi pandemi semacam ini, saya memahami satu hal, guru bingung cara mengajar, siswa bingung cara belajar.
***
Jikalau saya menjadi seorang pejabat pemerintahan, mungkin saya juga akan bingung untuk mengambil kebijakan di tengah pandemi. Tetap menjaga kelas belajar secara offline agar siswa paham atau memberlakukan kelas daring agar siswa dan guru sehat. Dua hal ini seperti yang disebut teori ekonomi sebagai trade off, pilihan dua hal yang saling mengorbankan. Jalan tengah dari masalah ini hanya digitalisasi.
Memang benar jaman sudah berubah. Dulu istilah industri 4.0 itu sudah terdengar wow di telinga orang Indonesia dan masih banyak juga sebenarnya yang enggak paham. Ternyata, istilah itu sudah klise dan sudah upgrade menjadi industri 5.0 atau society 5.0. Orang-orang se-genre dengan bapak dan ibu saya, yang hanya jualan bakso, mungkin hanya akan mengernyit dahi dan bilang, “opo maneh toh iku, ra mudeng!” (apa lagi itu, nggak paham!).
Berangkat dari realita adik saya, saya pun mem-browsing apa memang benar tidak ada solusi dari masalah ini. Hasilnya adalah muncul terobosan baru, namanya platform “Lab Maya”. Namun, setelah saya pelajari lebih lanjut, platform ini tidak gratis alias berbayar karena ini adalah salah satu produk perusahaan jasa pendidikan digital. Dan sepertinya, sekolah adik saya masih belum membeli lisensi produk ini atau bisa juga pihak sekolah melihat produk ini kurang relevanuntuk anak SMK.
Kalaupun adik saya mendapatkan akses ke platform tersebut, ada hal yang masih mengganjal dalam pikiran saya. Adik saya itu siswa SMK, di mana SMK diharapkan memiliki kemampuan teknis yang bisa langsung diaplikasikan setelah dia lulus. It’s okay, mungkin dia akan pandai otak-atik aplikasinya, klik kiri-klik kanan, geser atas-geser bawah. Tapi, apakah kemampuan klik dan geser itu berguna untuk dia waktu di tempat bekerja?
***
Untuk usia anak SMK sederajat, sudah jelas pola pikirnya akan berbeda dengan anak SMP. Pada masa ini bukan hanya nilai yang mereka pikirkan, tapi mau kemana dan mau apa untuk langkah selanjutnya. Sebagai seorang yang pernah menduduki bangku kuliah dan lulus waktu pandemi Covid-19 menyerang, saya pun sedikit memberikan gambaran dunia kerja itu seperti apa. Apalah daya, saya hanya bisa bercerita, untuk gerbang selanjutnya adik saya lah yang harus memutuskan.
Saya dulu anak SMA, lingkungan tempat saya bersekolah pasti akan mengarahkan lulusan SMA itu wajib kuliah. Bahkan, kalau ada anak yang langsung kerja setelah lulus, rasanya sedikit aneh. Hal ini sangat berbeda dengan adik saya yang studi di SMK. Lingkungannya pasti mengarahkan setelah lulus harus dapat kerjaan. Yang saya takutkan adalah semua siswa SMK yang kondisinya sama seperti adik saya menambah barisan job seeker tanpa kompetensi. Bersama-sama mereka bergabung dengan lulusan sekolah lain atau bahkan lulusan perguruan tinggi.
Kata ibu, dunia kerja itu keras jika dibandingkan dunia sekolah. Memang hal itu benar adanya, dunia kerja tidak pernah melihat nilai ujian sekolahmu, tapi dunia kerja melihat apa kompetensi yang bisa kamu tawarkan. Hingga suatu ketika saya bertanya kepada adik saya, “gimana, rencanamu setelah lulus?” Dan dia menjawab, “nggak tahu aku mbak.” Ketakutan dalam pikiran saya sudah terbukti dengan jawaban kegelisahannya.
Sebuah harapan besar semoga pandemi ini segera berakhir, semoga semuanya selalu dalam keadaan sehat dan tidak pernah menyerah.
Rizqatus Sholehah, SE. adalah alumni sarjana ekonomi pembangunan Universitas Airlangga. Saat ini penulis sedang merintis usaha penerbitan CV. Nariz Bakti Mulia. Penulis dapat dihubungi melalui email rizqatuss@gmail.com atau bisa juga melalui instagram: @rizqatus
