f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kehilangan

Kehilangan Membantu Kita Lebih Merasakan Hidup

Kehilangan tak selalu tentang kematian dan pemakaman, juga bukan perpisahan panjang sampai tak bisa bertemu lagi. Kehilangan orang terdekat bisa jadi karena kata sifat ‘jauh’, entah jauh karena jarak, keadaan, bahkan kesibukan.

Bertemu dan berpisah itu hal pasti. Tak bisa dielakkan dengan cara apapun. Kita sudah ratusan kali berpisah dengan orang sekitar; guru, teman sekelas, tetangga, dan kerabat. Beberapa perpisahan terasa biasa saja, sisanya menyakitkan. Terasa sakit karena kita memiliki sisi kedekatan dengan mereka.

Beberapa minggu terakhir ini saya kehilangan banyak orang penting. Efeknya? kehilangan kendali, lupa tujuan hidup, dan merasa sendiri, hampir seperti tidak ada lagi figure hidup yang akan terus saya pandang sebagai acuan.

Pertama, saya kehilangan guru besar di pesantren. Salah satu sosok yang paling berpengaruh membentuk kepribadian saya. Beliau pengasuh pesantren yang (sudah pasti) sangat religi dan kuat memegang prinsip dan syariat agama.

Ketika saya mendengar kabar bahwa beliau sudah tidak lagi bernafas, hati dan pikiran saya kacau. Tergesa-gesa pergi ke rumah duka dengan jubah hitam dan kerudung-yang entah warnanya apa. Saya sudah benar-benar tak peduli.

Melihat tubuh beliau sudah tertutup oleh keranda, kain hijau, dan rangkaian bunga, saya hampir menjerit. Beruntungnya, saya masih bisa menahan. Berkali-kali saya sebut kalimat-kalimat permohonan ampunan pada Tuhan. Setiap tangisan saya mulai tak terkendali, saya mengatakan pada diri sendiri bahwa guru saya tetaplah manusia. Makhluk Tuhan yang sudah pasti meninggalkan dunia.

*

Seminggu setelah kehilangan beliau, saya kehilangan teman terdekat. Kesibukan perkuliahan dan magang membuat kami tidak mempunyai banyak waktu luang. Ia sibuk dengan persiapan bahan skripsi dan kegiatan organisasi, saya fokus pada dunia tulis-menulis, juga menenangkan kondisi diri yang tak stabil.

Baca Juga  Pulang Tanpa Sambutan (2)

Di titik ini, saya baru sadar bahwa sendiri itu menyakitkan. Berjuang sendiri untuk hari esok terasa lebih berat. Gambarannya seperti baterai-baterai di punggung saya sedang dicabut paksa dan raib entah kemana. Menyisakan kesepian dan kelelahan berkepanjangan.

Lalu apa yang saya lakukan? Hal apa saja yang bisa membuat saya bangkit kembali? Pertama, saya tidak berusaha. Saya tidak sedang ingin berbincang tentang pepatah bijak ataupun positivity words. Bahwa kita harus berjuang di situasi apapun, kita tak boleh menyerah, dan berada di titik terendah itu (sedikit) memalukan. Tidak. Sekali lagi tidak.

Dua hari penuh saya gelisah. Otak terbebani suara-suara bising memuakkan. Maka saya hanya tidur, menonton serial film kesayangan, makan, mandi, ngemil snack favorit, dan jalan malam untuk sekedar menyegarkan pikiran.

Setelah dua hari membosankan itu apakah saya bangkit? Jawabannya tetap tidak. Saya menangis hampir setiap 4-6 jam sekali dengan durasi tangisan mencapai setengah jam lebih. Saya biarkan kesedihan ini terlepas dalam bentuk air mata. Kukatakan berkali-kali “tak apa. menangislah dengan kencang. Hari-hari kelabu seperti ini toh tak akan bertahan lama. Tak apa. menangislah.”

*

Tentu saja saat menangis, kata-kata bijak panjang tak selalu berhasil menenangkan. Karenanya, saya hanya mengatakan tak apa belasan kali hingga tenang, hingga saya lelah untuk menangis lagi. 

Esok hari, saya membaca sebuah buku yang membuka pandangan baru saya tentang kehilangan dan kesedihan. “Kehilangan itu bagian dari hidup. Kesedihan adalah salah satu efeknya. Saat Ia datang, jangan coba menghindar bahkan menolak. Penolakanmu malah akan membuat Ia berusaha menyerang lebih keras. Jadi kuncinya, terima saja. silahkan berjabat tangan dengannya, lalu berdamai.”

Dan benar, saat saya mencoba menerima rasa sakit itu, kondisi saya membaik. Tidak sedrastis obat anjuran para dokter spesialis memang. Tapi kondisi saya berangsur pulih perlahan. Semakin membaik hari demi hari.

Baca Juga  Semoga Syahid Untukmu, Ayah

Terakhir, alasan saya menulis peristiwa ini karena -saya rasa- perlu berbagi. Berbagi rasa sakit dan beberapa cara menghadapinya. Kehilangan kadang memang menyakitkan, tapi kita bisa menemukan banyak pelajaran hidup disana. Kehilangan, kesedihan, kesendirian membuat hidup kita lebih hidup.

Bukankah memakan hidangan manis setelah mengecap pahit terasa jauh lebih lezat?

Bagikan
Post a Comment