f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
yang membaca

Perempuan yang Membaca dan Menulis

“Bagaimana caramu merawat minat baca?”

Begitu postingan @klubbukunarasi pada perayaan Hari Buku Nasional kemarin. Pertanyaan yang mengusik saya secara pribadi. Saya suka membaca dan terus terang moodnya hilang timbul seperti mercusuar di kala badai. Samar-samar. Ketika ‘sempat’, satu buku langsung dibabat habis. Tapi kalau ternyata merasa enggap dan kehabisan waktu, ya sudah, tidak ada membaca buku.

Belakangan ini, rutinitas membaca buku mulai terbangun kembali. Secara tidak sengaja saya bergabung dalam positive circle yang hampir semua membernya gemar membaca dan menulis. Minat baca yang semula mati suri, mulai menggeliat kembali. Rasanya muncul ghirah baru untuk terus membaca dan menulis.

Apa sih yang saya didapat setelah membaca?

Kalau sedang membaca buku fiksi, rasanya seperti nonton film. Bedanya setiap adegan direka-reka sendiri. Dan menyelami karakter setiap tokoh pun sendiri. Dulu, saking menghayatinya kalau baca buku bisa sampai menangis. Beda lagi kalau membaca buku ilmiah, langsung “O, ternyata gini ya. O, jadi gitu ya. Ah, masak sih?” Lama-lama jadi seperti orang kuliah. Kita dicekoki aneka madzhab.

Imajinasi kita seolah melayang-layang di belantara pikiran.

Agak puitis memang. Tapi begitulah adanya. Mungkin karena daya imajinasi kita baru saja berwisata usai membaca.  Saya jadi punya cerita, pemahaman baru dan cara pandang yang berbeda dalam menghadapi suatu persoalan. Hal ini menjadi penting bagi saya, ibu-ibu yang sok sibuk dengan urusan domestik. Informasi yang baru saya dapat itu seperti menjadi lejitan neuron. Saya menjadi tidak terlalu mudah spaneng menghadapi beban rumahan.

Seperti beberapa waktu lalu, saat membaca berita tentang pengunjung Pantai Batu Karas. Ingatan saya langsung teringat bahwa Batu Karas itu tempat surfing terkenal di Indonesia ((ini hasil baca Rapi Jali)). Banggalah dikit, kalau diajak ngobrol seolah punya pengetahuan lebih banyak.

Baca Juga  Takdir Memang Begitu Misterius

Belum lagi stok kosa kata yang cukup berlimpah. Ini bermanfaat sekali ketika saya bekerja sebagai tenaga pendidik. Tugas membuat narasi per tiga bulan sekali menjadi tidak terlalu sulit. Secara kebetulan ex.tempat kerja saya punya standar sendiri pada saat pembagian rapot. Angka saja tidak cukup. Narasi menjadi pendukung di tiap penilaian.

Entah ini hanya terjadi kepada saya atau bagaimana? Membaca juga menumbuhkan minat untuk menulis. Kalau saya pikir-pikir, mungkin karena banyak yang terserap, berseliweran, ada hubungan timbal balik dengan informasi baru, saling bersinggungan dan semua ingin dimuntahkan. Yang terbaik memang lewat bahasa tulis. Jejaknya awet.

*

Dulu, bagi saya menulis itu ‘keren-kerenan’. Yang bahasanya njlimet itu idola banget. Semenjak menjadi ibu-ibu beranak dua yang siap siaga di rumah, menulis adalah me time. Terapi menjaga kewarasan dari urusan domestik. Syukur-syukur bercuan. Hihihi.

Merawat literasi dan menumbuhkan minat menulis bukan perkara mudah untuk saya. Membaca sebenarnya datang secara ‘kebetulan’. Kebetulan karena saya tinggal di gunung yang jauh dari kota, melihat buku bagus itu seperti dapat emas. Kebetulan teman SD saya langganan Bobo setiap hari Kamis. Saya termasuk yang suka antri untuk pinjam atau sewa kala itu. Kebetulan juga, perpustakaan keliling sering mampir waktu saya sekolah menengah. Sungguh saat itu rasanya bungah melihat deretan buku berwarna-warni yang tidak akan mungkin saya beli sendiri.

Waktu masih bekerja, saya juga suka membeli buku. Ingat ya, membeli bukan membaca. Sampai ada celetukan begini, “Masih sempet-sempetnya ya baca buku, saya sih udah nggak ada waktu”. Nggak tahu itu sindiran atau bagaimana karena saya tiba-tiba bawa buku ke tempat kerja. ‘Sok pinter aja elu!’ Maksudnya begitu mungkin.

Baca Juga  Mamaku Pergi sebelum Aku Tiba (2)

Tapi, ada benarnya juga sarkasme itu. Karena ketika bekerja, saya terlalu fokus mikir kerjaan. Pulang-pulang ditunggu urusan rumah, bocah dan bapaknya. Membaca buku sekedar menjadi keinginan saja. Apalagi menulis. Dilakukan ketika event lomba Hari Guru dan training kepenulisan saja seingat saya.

*

Sekarang sindiran  seperti itu, tentang perempuan dalam status dan pekerjaan apa pun yang membaca dan menulis fardlu ‘ain harus diluruskan. Kalau perlu diberi pencerahan secerah-cerahnya.

Perempuan dalam status apa pun sah dan berhak membaca. Membaca membuat perempuan ‘di rumah’ dan bekerja bisa melanglang buana. Mengepakkan sayap dalam diamnya. Memberi pencerahan untuk dirinya sendiri, keluarga, tetangga, hewan kesayangan dan bunga dalam pot sekalipun. Dahsyat ya kekuatan membaca itu?

Menulis menjadi penyeimbang kegiatan membaca tentunya. Dalam bukunya, Najeela Shihab menuliskan bahwa “menulis membuat banyak hal yang semula susah diraba, menjadi lebih nyata”. Contoh paling nyata bisa dicek pada anggaran bulanan rumah tangga. Kalau ditulis, kan jadi jelas pengeluaran dan pendapatan. Mana yang perlu diskip, skala prioritas, tabungan dan lain-lain. Kalau di angan-angan saja, sampai lebaran kucing yang akan tetap menjadi angan-angan.

Lalu, kenapa perempuan butuh menulis?

Bagi saya, saat ini menulis merupakan sarana merilis stres. Mengeluarkan uneg-uneg yang tak terbendung dan meneruskan pemikiran receh ala emak-emak. Sebenarnya, saya rasa bukan emak-emak yang punya pikiran receh tak terduga. Tapi, hampir semua perempuan sepertinya. Entah dapat wangsit dari mana, tapi kaum perempuan suka memikirkan printilan-printilan. Belum lagi karunia pada kemampuan berbahasa yang bisa nyerocos tak terbendung. Jadi, rugi kalau tidak ditulis. Bisa jadi receh di masa sekarang berguna untuk anak cucu.

Selamat merawat dan meruwat literasi, Rahmania. 

Bagikan
Comments
  • Jojo

    Oh…. Jadi kangen menulis. Meskipun belum menjadi penulis hebat seperti penulis diatas, Setidaknya saya pernah menulis buku diary 😀

    Mei 24, 2021
Post a Comment