Diagnosa Limfoma saat Masih Maba
Januari 2023, sekitar pukul 10.00 WIB di ruangan serba putih itu aku mematung. Surat diagnosa limfoma atau kanker kelenjar getah bening akhirnya keluar. Ya aku penderita kanker kelenjar getah bening. Dokter menyarankan dilakukan tindakan operasi, 17 Januari rencana kontrol harus bersama orang tua karena usiaku baru 18 tahun. Kejutan yang luar biasa di awal tahun 2023. Berjalan gontai menuju parkiran bersama seorang kakak perempuanku. Kami tak berbicara, kebisingan di tempat itupun terasa hening.
Dalam perjalanan pulang, angin membuatku menangis. Pikirku bagaimana remaja perempuan 18 tahun mengidap penyakit ini. Aku baru masuk kuliah, perjalananku masih panjang. Bagaimana biaya pengobatanya, pikiran buruk seolah terus bermunculan. Tiba di rumah kupeluk erat ibuku seraya menyerahkan surat dokter tersebut, tangisku yang pecah kusembunyikan dalam pelukan itu. Kenangan yang terasa berat diingat.
Mungkin ini memang dari gen, kakakku dulu pernah terkena tumor hidung. Sementara 2 saudara dari ibuku menderita kanker usus dan kanker lambung, keduanya telah meninggal. Meskipun kakakku kini telah sembuh tapi tetap ada ketakutan bagaimana jika aku lebih cepat menemui ajal. Apalagi ketika sakitnya kambuh, badan kadang bisa terasa panas kemudian berkeringat di malam hari atau sebaliknya kedinginan sampai seluruh tubuh bergetar. Rasa sakit itu terus muncul tetapi aku tak juga terbiasa, rasanya setiap saat sama. Setiap malam ibuku menjaga dan memelukku. Di malam malam tertentu aku mendengar tangisannya yang membuatku ikut menangis.
Kami bukanlah keluarga dengan gelimang harta. Bahkan rumah kami sebagian masih dari kayu, makan dari hasil kerja serabutan seorang ayah. Ibuku tidak bekerja karena kami masih punya seorang adik kecil berumur 1 tahun. Adikku lainnya kini menduduki bangku SMA. Sementara diriku sendiri kuliah dengan beasiswa. Keseharian kami saja sudah sulit, untuk belanja, bensin, susu cukupkah dengan upah ayah 50an ribu sehari. Lalu bagaimana biaya operasi, obat, dan lain- lainnya.
Ayahku bahkan tidak berkomentar apapun tentang masalah ini, ya kami memang tidak sedekat aku dan ibu. Sampai beberapa hari beliau menanyaiku apa aku takut? Dalam hatiku berteriak bagaimana aku tidak takut. Tapi di depan ayah entah kenapa aku berusaha terlihat dewasa. Ya kalau sudah begini, bagaimanapun yang penting solusinya. Entah itu operasi atau bagaimana. Ayahku mengangguk, beliau kemudian mengatakan bahwa ia tidak setuju terkait rencana operasi. Dari pengalaman 2 saudara ibuku beberapa bulan setelah dioperasi keduanya meninggal. Sementara kakakku berobat dengan jamu herbal dan sehat sampai sekarang.
Kupikir aku akan dibawa ketempat yang sama, ternyata tidak. Biaya adalah masalah utamanya. Hingga 17 Januari seharusnya jadwal kontrolku di rumah sakit, aku dibawa ke dokter terapis. Di sana seperti dokter pada umumnya, cek tensi dan detak jantung. Detak jantungku sangat tinggi, saat itu aku memang merasakan sering lelah, sesak napas, dan jantung berdebar debar.
Setelah mendapat beberapa obat, satu minggu itu aku merasa lebih baik meski masih sering batuk dan sesak napas. Tapi setelas satu minggu itu berakhir sakit itu muncul lagi. Akhirnya pengobatan lain yang aku tempuh di sana adalah bekam, mengeluarkan darah kotor katanya. Bersyukurnya aku membaik, setiap 2 minggu aku melakukan bekam. Sampai akhirnya masa liburku habis, orang tua tentu saja berat melepas. Tapi mau bagaimana lagi, aku kuliah dengan beasiswa jika memutuskan berhenti biaya semester lalu harus dikembalikan. Dengan apa mengembalikannya?
Awalnya baik-baik saja. Semua berjalan lancar, kehidupan dalam dan luar kampus. Tapi 2 minggu sakit itu muncul kembali, di kamar kos itu berbaring menatap langit langit teringat bagaimana baiknya seorang ibu merawatku. Sekarang di sini sendiri merasakan sakit itu sendiri. Setelah sekali kambuh seringkali tubuh ini terkena demam, masuk angin, batuk, pilek, mungkin karena kanker ini menyerang sistem kekebalan tubuh makanya mudah sekali tumbang.
Puncaknya ketika praktikum di lapangan sesak napas, pusing, lemas, bahkan aku merasa hampir pingsan akhirnya aku memutuskan mencoba tawaran dari kakakku untuk berobat di kotanya. Mencari tiket kereta tercepat kekota tersebut sekaligus tiket termurah aku menemukan dengan harga 105 ribu. Tak lupa izin orang tua tentunya, pagi itu setelah sholat subuh pukul 04.30 ayahku menangis menyesal tidak bisa menjemput dan mengantarkanku. Membiarkanku berobat sendirian di tempat yang jauh dalam keadaan sakit. Bagaimana aku tidak ikut menangis, kubilang tak apa. Aku tau keadaan rumah jangankan beberapa ratus ribu, sepuluh ribu ada saja sudah bersyukur. Jadi tak mungkin untuk menjemput dan mengantarku yang mungkin akan menghabiskan satu jutaan lebih.
Di dalam kereta, menatap keluar. Masih ingin menangis, pusing masih terasa, banyak pikiran memenuhi kepalaku. Kadang aku berpikir apa ini hukuman karena dosaku yang terlalu banyak. Kemudian berpikir lagi, aku terlalu fokus pada dunia mungkinkah Tuhan masih menyayangiku Ia ingin aku mendekatkan diriku padanya memohon ampun dan menguntai rasa syukur.
Setelah pengobatan yang ku lakukan hingga saat ini sakit itu tak pernah kembali dan jangan sampai kembali, sampai saat ini juga aku minum jamu dari buah mengkudu, tidak makan ayam, dan semua makanan dengan penyedap rasa. Meskipun kadang masih sesak napas jika kelelahan kupikir mungkin di paru- paruku sudah ada luka yang tidak bisa hilang. Aku hanya berharap bisa hidup normal seperti dulu, beraktivitas seperti biasa, dan hidup lebih lama untuk membahagiakan orang tuaku, ibu dan ayahku. Dari ini aku sadar tidak semua yang direncanakan akan berjalan dengan baik, ada kalanya beberapa hal tidak terduga muncul di jalan hidup kita. Tapi dari semua itu, pasti ada hikmahnya. Kita bisa lebih mendekatkan diri pada Yang Kuasa, lebih banyak bersyukur, dan bukan hanya sabar mengahadapinya tapi juga ikhlas menerima, percayalah jalan yang Tuhanmu berikan adalah yang terbaik.
