Depresi dan Ekspresi Budaya
Beberapa waktu lalu, aku iseng ngomong ke Mbak Rohma Mauhibah kalo aku selalu suka tokoh utama yang pendiam dan muram dalam drama korea. Nyaris semua drama yang kusuka karakter utamanya berperangai seperti itu.
Kalian tau aku sangat suka “My Mister”. Karena drama itu pula aku jatuh cinta pada Park Dong-hoon. Tak usah mengikuti ceritanya, memandang wajah Park Dong-hoon saja kita bisa ikut-ikutan depresif karena saking muramnya.
Dalam drama yang lebih ceria seperti “Hospital Playlist”, aku lebih menyukai Kim Jung-hwan yang dingin dan muram dibanding Lee Ik-jun yang ceria dan manis.
Sekarang, aku menonton “Battle for Happiness”. Dan, suka begitu saja pada karakter Jang Mi Ho yang pendiam tapi polos. Padahal, aku nggak suka pada pemeran yang sama dalam My Liberation Notes karena perannya ngamukan dan cerewet.
Mbak Rohma menanggapi ceritaku dengan setengah bercanda. Katanya, mungkin seperti itulah inner soul-ku yang sebenarnya. Tapi, packaging-ku sama sekali nggak pendiam, katanya sambil memberi emote ketawa.
Aku jelas bukan orang yang pendiam dan muram di sosial media. Aku juga bertingkah sama di dunia nyata, meski ada teman dari lingkaran pertemanan yang berbeda akan memberi penilaian tidak sama. Tapi, secara umum aku tetap dinilai cheerful, supel, dan mudah berinteraksi dengan orang lain.
Bahkan saat episode depresi perlahan-lahan merambat, aku masih bisa mempertahankan sikap seperti itu. Aku tidak menarik diri dari lingkungan sosial, aku tetap berada di tengah orang-orang. Aku masih bisa tertawa dan mengikuti ritme sosialisasinya. Meskipun di dalam diri aku merasa sangat lelah. Tetap saja, fungsi sosial itu berjalan dengan baik.
Hari ini, aku merenungkan mengapa fungsi sosialisasi itu sama sekali tak terdampak sekalipun aku sedang dilanda episode depresi berat. Teorinya, aku mestinya sudah menarik diri dan menjauh dari orang-orang.
Aku menduga faktor budaya lah yang menjadi penyebabnya. Aku tumbuh dalam budaya yang judgemental pada orang-orang pendiam. Di kampungku, orang-orang supel dan cepat berinteraksi lebih disukai. Menjadi pendiam adalah nilai minus. Jadi, menjadi sosok yang ceria membuat kita lebih mudah diterima. Dalam budaya yang seperti itu, aku tentu lebih memilih menjadi orang yang mudah diterima. Itu yang pertama.
Yang kedua, hampir seluruh orang dari budaya kami love languange-nya adalah quality time. Menghabiskan waktu untuk “maota-ota” adalah segalanya. Hampir semua aktivitas keluarga dan masyarakat melibatkan urusan ngobrol-ngobrol.
Berkunjung lebaran, ngobrol. Menjenguk orang sakit, ngobrol. Takziah karena ada kematian, ngobrol. Kondangan, ngobrol. Semua diisi dengan ngobrol.
(Ini sangat berbeda dengan di Jawa di mana orang bisa hanya datang lebaran untuk salaman lalu pulang. Banyak aktivitas dilakukan sebentar-sebentar, yang penting jenguk, layat, dst. Ngobrol sepertinya hanya berlaku dengan sedikit orang yang dianggap benar-benar dekat).
Orang di kampung kami tidak menunggu waktu janjian ngopi untuk ngobrol. Kami ngobrol di mana saja kapanpun bertemu, termasuk saat tak sengaja bertemu di pasar.
Suamiku pernah heran mengapa aktivitas pulang kampung kami di Riau selalu diisi dengan ngobrol di sana sini, bukan berwisata ke mana gitu. Dan, aku tiada bosannya ngobrol berjam-jam dengan orang-orang yang berbeda.
Maka, dalam keadaan sesulit apapun, menjadi ceria dan tahan mengobrol sampai kapan saja menjadi sikap default yang tidak mudah berubah pada diriku. Aku boleh sakit parah, tapi kemauan untuk tetap ngobrol menjadi ukuran terakhir apakah kondisiku baik-baik saja atau tidak.
Saat aku mengalami depresi, fungsi sosialisasi ini bertahan dan tidak mudah goyah. Fungsi sosialisasi yang tetap baik ini membuatku lama tak menyadari depresi yang kualami, setidaknya aku ragu.
Aku merasa lelah sekali, tidak bertenaga, enggan berangkat kerja, ajur secara emosi, TAPI KENAPA AKU TETEP KUAT BUAT NGOBROL DAN KETAWA-KETAWA???
Kesimpulanku sementara, budaya yang berbeda menimbulkan ekspresi depresi yang berbeda. Aku tak mungkin mendadak jadi diam di saat kulturku menginginkan aku tetap “berbunyi.” Di saat kehilangan energi, tampak normal seperti orang lain adalah hal yang akan sangat aku usahakan.
Dengan gejala yang subtil seperti itu, kapan aku menyadari mentalku tidak sedang berada dalam keadaan yang prima? Kapan akhirnya aku yakin mengalami depresi? Saat penerbit EA Books mengirim pesan.
Mereka menyampaikan #bukuharimau “Sebelum Harimu Bersamanya” naik cetak yang ketiga. Bukuku dicetak untuk ketiga kalinya dalam waktu 2 bulan saja.
Normalnya, kabar ini menimbulkan perasaan bahagia. Tapi, aku menerimanya dengan perasaan yang biasa saja, cenderung low mood. Ini jelas bukan perasaan yang wajar untuk menerima sebuah kabar gembira.
Orang-orang akan dengan mudah mengatakan aku kurang bersyukur. But, NO. Tidak mampu bahagia saat ada kabar bahagia adalah gejala dari penyakitnya. Bukan aku yang tak merasa senang bukunya sampai cetakan ketiga, tapi depresinya yang menghalangiku untuk merasa begitu. Seperti bukan kamu yang ingin berjalan dengan pincang, tapi kakimu yang patah yang menyebabkannya begitu.
Refleksi

Penulis, psikolog di Sleman.
