f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
covid

Covid-19 dan Keprihatinanan Penyintas

Awal Bulan Desember lalu, tepat tanggal satu, saya Positif Covid. Pagi hari saya mendapat hasilnya, sore harinya saya sudah di RSL Indrapura. Syukur saya hanya bergejala ringan sehingga tidak perlu menjalani perawatan di fasilitas yang lebih lengkap. Oh ya, umur saya masih 24 tahun, cukup muda, bukan?

Sebelum berstatus positif, saya berangkat dari Trenggalek ke Surabaya beberapa hari sebelumnya. Tujuannya, untuk persiapan swab PCR di RSUD Dr. Sutomo. Sebelum kami menjalani pembelajaran offline sebagai Dokter Muda di Rumah Sakit, kami harus dipastikan negatif dari Covid.

Saya mengaku, saya juga luput tentang 3M, berbulan-bulan di rumah menjalani pembelajaran daring, membuat saya kangen dengan suasana Surabaya. Ketika di sana sesekali saya keluar kos untuk menyapa teman yang kebetulan satu kloter pembelajaran offline, sesekali saya juga ke warung, dan supermarket. 

Hasilnya? Saya positif Covid. Dengan hasil tersebut, jadwal pembelajaran offline saya harus ditunda ke kloter selanjutnya. Sebenarnya saya sudah menduga, karena dua hari sebelum swab, saya memang merasa pusing, pegal-pegal, dan meriang. Saya menyesal tidak patuh untuk berdiam diri saja di kos, walaupun sudah memakai masker ke mana-mana, nyatanya masih positif juga.

Saat itu, kondisi Surabaya benar-benar sudah seperti tidak ada apa-apa. Jalanan ramai, warung-warung, kedai kopi, dan pusat perbelajaan juga berjalan seperti biasa, pemuda-pemudi juga ramai di dalamnya. Mayoritas pengunjung memang membawa masker, tapi lihat lebih teliti apakah mereka memakainya dengan benar? Banyak yang tidak menutup mulut dan hidungnya dengan benar.

Selain itu, masyarakat terlihat sudah mulai abai dengan himbauan untuk jaga jarak. Masih saja mereka bergerombol, dan duduk-duduk berdekatan sembari ngobrol di warung dengan santai. Sekali lagi, seperti sudah tidak ada apa-apa.

Baca Juga  Mengenang Bapakku
***

Setelah saya resmi positif covid, sebenarnya saya berkeinginan untuk isolasi mandiri di kos saja. Sama sekali tidak ada kepikiran isolasi di tempat lain. Dengan gagah berani, saya memberanikan diri memberi tahu Bu Kos, berharap beliau memaklumi dan mengijinkan.

Pengharapan saya berbalik 180 derajat. Hari itu juga beliau meminta saya untuk meninggalkan kos, tanpa tapi. Sebetulnya saya memaklumi, karena beliau ingin menjaga keluarganya dari paparan covid. Tapi, mbok ya jangan terlalu tergesa-gesa begitu, masa saya harus meninggalkan kos detik itu juga.

Saya langsung mencari bantuan ke dosen dan teman saya koordinator angkatan. Esok harinya saya akan kembali ke Indrapura, saya pun dengan bahagia memberi tahu Bu Kos. Tetapi, Bu Kos masih tidak terima, dia bahkan meminta saya untuk menginap di hotel saja dari sekarang. Tekanan semakin bertambah, beliau menyemprot kamar mandi, lorong kos, dan motor saya dengan cairan desinfektan, berharap saya segera pergi.

Untung saja, dengan usaha dari dosen dan senior, saya bisa menjalani perawatan di Indrapura sore itu juga. Namun begitulah, stigma yang ada pada para penyintas Covid. Mayoritas masyarakat di lingkungan masih enggan untuk menerima kehadirannya. Wajar bila masyarakat takut untuk melakukan tes mandiri, dan lebih memilih diam-diam saja walaupun sudah ada gejala dan riwayat kontak. Harga kejujuran memang semahal itu. 

Setelah saya sembuh dari Indrapura, saya kembali ke Trenggalek. Bersyukur gejala saya hanya ringan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana pasien lainnya yang bergejala sedang sampai berat. Begini saja saya sudah ketakutan.

***

Awal Januari, saya ke Surabaya lagi untuk swab, syukur masih ada kesempatan terjadwal di kloter pembelajaran offline Bulan Januari. Saya memutuskan naik kereta api. Dua minggu lalu keluar aturan baru, bahwa Rapid Antigen wajib untuk perjalanan kereta api jarak jauh ke beberapa wilayah. Untung saja yang saya tumpangi ke Surabaya merupakan kereta api lokal.

Baca Juga  Tips Beradaptasi di Masa Pandemi Covid-19

Saya mengucap syukur, karena tidak mengeluarkan biaya lebih untuk Rapid Antigen. Dampaknya kereta api penuh, walaupun pihak KAI sudah membatasi kapasitas penumpang agar bisa menjaga jarak, tapi jarak kami juga tetap tidak lebih dari satu meter. Belum lagi, ada beberapa penumpang yang batuk. Walaupun saya sudah memiliki antibodi, saya masih ketakutan dengan potensi penularan ini.

Sampai di Surabaya, keadaan tidak berubah. Masih sama seperti ketika saya pertama datang untuk swab beberapa minggu lalu. Di sisi lain, keramaian itu memang ada untuk memutar roda perekonomian, tetapi apakah harga yang dipertaruhkan setara dengan nyawa? Sebagai mantan penyintas yang pernah berjuang untuk sembuh bersama ratusan penyintas lain, saya tahu persis bagaimana mereka berdoa dan berusaha supaya segera sembuh.

Sekali lagi, pemandangan ini membuat saya bertanya, apakah benar mereka percaya dengan virus ini? Atau mereka percaya, tetapi abai saja dengan protokol kesehatan?

Secara mendadak Koordinator Program Studi mengumumkan penundaan kegiatan offline kloter kami. Surabaya Raya sedang tidak baik-baik saja. Kasus bertambah tidak karuan, ruang rawat rumah sakit penuh, pasien yang seharusnya menjalani perawatan di rumah sakit harus mengantri. Benar-benar kacau, jika kasus tetap membludak, mau dirawat di mana para pasien itu?

Tanggal 7 Januari, kasus Covid bertambah 9321 kasus, sebuah rekor baru tanah air. Kenaikan terus terjadi baik tingkat nasional maupun regional. Kampus saya, Universitas Airlangga memberlakukan WFH bagi semua pegawai mulai tanggal 4 Januari sampai 17 Januari. Pemerintah juga menetapkan PSBB Jawa Bali mulai 11 Januari sampai 25 Januari 2021.

Dengan semua kekacauan ini, satu-satunya cara yang bisa dilakukan memang hanya berdoa. Sepuluh bulan sangat cukup memastikan peringatan-peringatan itu sampai di telinga semua orang, namun apa guna kalau tidak dilaksanakan? Semoga kita semua segera tersadar, dan semoga 2021 memberikan keberuntungan bagi kita semua.

Baca Juga  Cinta dan Corona

Editor: Lailatul Qoderia

Bagikan
Post a Comment