f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
lupus

Harapan Tak Akan Pupus untuk Penyintas Lupus (2)

Impian untuk menikah dan memiliki keturunan merupakan harapan yang umum bagi setiap individu, tak terkecuali bagi Maryam. Tahun 2009 membawa kebahagiaan besar bagi Maryam saat ia menjalani pernikahan yang diikrarkan dengan janji suci. Sejatinya, pertemuan seorang pemuda muslim yang sudah ba’ah (mampu) dengan seorang akhwat di pelaminan adalah sudah menjadi ketetapan Allah Swt. yang sudah tertulis di lauhul mahfuzd.

Maryam dan suami bahagia ketika kabar kehamilan itu datang. Namun, di balik kabar bahagia tersebut, berakhir duka, janin Maryam dinyatakan tidak berkembang dan meninggal dalam kandungan. Dalam hidup, ujian itu akan selalu ada, termasuk dalam pernikahan Maryam. Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah Ali ‘Imran ayat 186:

“Kamu benar-benar akan diuji pada hartamu dan dirimu.”

Walaupun mengalami kesedihan, Maryam dan suaminya tidak berhenti berjuang. Kehamilan kedua, ketiga, dan keempat yang selalu datang, tetapi harus berakhir kuret dan kesedihan yang mendalam. Dalam setiap ujian yang dihadapi, Maryam memilih untuk ikhlas kepada takdir Allah Swt.

Maryam mengalami penyakit autoimun yang bernama lupus. Lupus nama sesungguhnya adalah systemic lupus erythematosus (SLE), merupakan kondisi di mana sistem imun menyerang jaringan sehat pada tubuhnya sendiri. Sifatnya kronik dan bisa menyerang organ tubuh, seperti kulit, sendi dan organ-organ  dalam, seperti ginjal, jantung, otak, dll.[1]

Maryam tidak berputus asa, ia dan suami meyakini setiap penyakit ada obatnya. Pilihan yang tepat yang Maryam dan suami pilih dalam mencari kesembuhan. Seorang dokter dan profesor yang Maryam tunjuk untuk membantu kesembuhannya. Sebagai seorang muslim mereka tahu Allah Swt. memberikan ujian juga sekaligus memberikan solusinya. Seperti dalam hadis riwayat Muslim dijelaskan:

Baca Juga  Hari Kartini: Refleksi Pejuang Ekologis

“Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat tersebut sesuai penyakitnya, maka ia akan sembuh dengan izin Allah Azza wa Jalla.”

Meskipun lupus hingga sekarang belum ada obatnya, tetapi Maryam terus berikhtiar untuk sembuh. Baginya ujian sakit akan menggugurkan dosa-dosa jika ia rida dan sabar Allah Swt. Dalam hadis riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dijelaskan:

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian. Sesungguhnya, apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang rida dengan ujian itu, maka ia akan mendapat keridaan-Nya. Siapa yang membencinya maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya.”[2]

Di tengah semua tantangan, dukungan suami menjadi pilar utama bagi Maryam. Meskipun dengan segala keterbatasan dan jauh dari keluarga, suami tetap sabar, setia mendampingi Maryam dalam menghadapi segala ujian. Suami menghibur dan menenteramkan hatinya. Maryam merasa beban psikologisnya lebih ringan dan menjadi kekuatan untuk sabar menghadapi ujian. Sebagaimana Rasulullah Saw. sebagai sebaik-baik teladan kepada para istri-istrinya.

Ketika Aisyah menangis tidak bisa menjalankan ibadah haji karena berhalangan haid, Rasulullah kemudian menghiburnya, “Itu adalah ketetapan Allah terhadap kaum wanita. Mandilah, lalu berihramlah untuk haji!”

Aisyah kemudian mengerjakannya, lalu melakukan wukuf. Setelah suci melanjutkan ibadah tawaf dan sai dan kemudian beliau bersabda, “Kamu telah ber-tahalul dari hajimu dan umrahmu bersama-sama.” (HR. Muslim, No.1213)

Perhatian Rasulullah dalam menjaga perasaan dan psikologis istrinya. Beliau berusaha menghibur hati istrinya agar tidak sedih memberikan solusi dengan penuh kesabaran.[3]

Pada akhirnya, setelah bertahun-tahun perjuangan, Maryam dan suaminya menemukan jalan terang. Penerimaan anak adopsi membawa kebahagiaan baru dalam kehidupan mereka. Maryam mengupayakan ASI untuk anaknya agar ada ikatan mahram menjadikannya ibu persusuan.[4] Buah kesabaran Maryam dan suami dapatkan tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat kelak sebagaimana dalam Al-Qur’an surah Az-Zumar ayat 10 dijelaskan:

Baca Juga  Dakwah Satu Ayat

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

Dalam sebuah hadis riwayat Turmudzi dijelaskan:

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: “Rasulullah Saw. Bersabda: “Cobaan senantiasa merundung diri orang-orang mukmin dan mukminah, baik atas dirinya, putranya, maupun hartanya, sampai ia berjumpa dengan Allah Ta’ala dan pada saat itu ia sudah bersih dari dosa.”[5]

Mengambil hikmah dari sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, tentang seorang wanita berkulit hitam yang memiliki penyakit ayan. Ia meminta didoakan oleh Rasulullah Saw. agar sembuh. Dan Rasulullah bersabda jika ia bersabar, akan mendapatkan surga. Dan jika wanita itu mau kesembuhan, Rasulullah Saw. akan mendoakan agar Allah Saw. menyembuhkannya. Wanita tersebut memilih sabar dan memintakan doa kepada Rasulullah Saw. untuk mendoakan agar Auratnya tidak terbuka.[6]

Dengan kesabaran, tekad, dan dukungan dari suami, Maryam berhasil menghadapi semua ujian yang datang. Selama tiga belas tahun, Maryam telah mengalami kesedihan, sakit, dan perjuangan berat, akhirnya ia mendapatkan anugerah yang telah lama dinantikan. Kisah Maryam menjadi inspirasi tentang kuatnya manusia menghadapi ujian hidup. Sabar, ikhtiar, doa dan tawakal hanya kepada Allah Swt.

Jendela Inspirasi:

1. Manusia memiliki takdirnya masing-masing yang sudah tertulis di lauhuf mahfudz.

2. Sakit adalah sebuah ujian dari Allah Swt. untuk menghapuskan dosa-dosa.

3. Sifat sabar adalah kunci dalam menghadapi ujian hidup.

4. Pasangan terbaik adalah ia yang selalu bersabar dalam dalam keadaaan bagaimanapun dalam berumah tangga.


[1] Srikandi Waloyo dan Budhi Marhaendra, Penyakit-Penyakit Autoimun, (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2014), hal. 52-53.

[2] Imam Nawawi, Riyadhus Shalihin, (Semarang: Alina Press, 2001), hal 68-69.

Baca Juga  Wisuda dan Cara Sederhana Orang Tua Bahagia

[3] Ibnu Abdil Bari, Keluarga Bervisi Surga, (Klaten: Zaduna, 2021), hal. 95.

[4] Muhammad Fuad Abdul Baqi, Al-Lu’lu’ Wal Marjan, (Solo: PT Aqwam Media Profetika, 2011), hal.578.

[5] Imam Nawawi, Riyadhus Shalihin, (Semarang: Alina Press, 2001), hal 74.

[6] Faisal bin Abdul Aziz Alu Mubarak, Nailul Authar, (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1993), hal. 3110.

Bagikan
Comments
  • Imah

    Masya Alloh, sangat menginspirasi sekali.

    Desember 16, 2023
  • Imah

    Masya Alloh, sangat menginspirasi sekali. Good job

    Desember 16, 2023
  • Jamilah

    Terima kasih, Kak. Suportnya 🙂

    Desember 19, 2023
Post a Comment