f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
bahagia

Pandemi dan Usaha-Usaha untuk Tetap Bahagia

Sebagai seorang suami dan ayah, ada kredo yang sejak awal berumah tangga saya pegang. Di dalam rumah, tugas saya adalah mempertahankan index of happiness tetap di level tertinggi. Kredo itu (setidaknya) sampai saat ini, telah berhasil membawa bahtera rumah tangga kami tetap berlayar, dengan seluruh awaknya tetap nyengar-nyengir menjalani hidup.

Tapi memasuki tahun kedua pandemi ini, rasa-rasanya untuk menjalankan kredo itu semakin menguras tenaga dan pikiran.

Untuk membuat seisi rumah tetap cheerful, tentu yang pertama harus bahagia adalah saya. Dulu, menjelang tidur dengan mudah saya me-reset pikiran saya, menanggalkan semua beban kerja, semata untuk menjadi penghibur bagi anak dan istri. Saat ini, digempur berita duka yang (seolah) tidak ada habisnya, membuat saya kesulitan menemukan sumber kebahagiaan untuk saya tularkan ke seisi rumah.

***

Dalam rangka membuat indeks of happiness keluarga tetap di puncak kurva, pandemi yang sudah memasuki tahun ini membuat saya merombak segala rutinitas pemicu kebahagiaan.

Memindahkan sumber kebahagiaan yang tadinya ada pada rutinitas di luar rumah memang bukan hal mudah, tapi tidak ada pilihan lain. Maka, jika sudah melihat istri cemberut karena rasa capai menjadi guru bagi anak-anak kami, saya dengan cepat mengajaknya melakukan aktivitas random, yang dulu sebelum pandemi, tidak pernah kami lakukan bersama.

Saya, yang dulu anti dengan senam aerobik, karena beberapa gerakannya menurut saya lucu, saat ini hampir tiap pagi menemani istri senam di depan televisi. Ternyata, selain bahagia karena tak perlu lagi ada pengeluaran untuk bayar fee instruktur di sanggar senam, saya melihat istri berbinar bahagia, merasa ditemani ketika melakukan aktivitas itu.

Setelah melihat betapa sederhananya sumber kebahagiaan itu, kegiatan random lainnya akhirnya menyusul.

Baca Juga  Ruang Bahagia Seorang Ibu

Diantara kegiatan bebersih rumah, menyetrika adalah pekerjaan yang paling saya hindari. Tapi ketika disergap PPKM yang sudah berlevel-level ini, tak dinyana, menyetrika menjadi momen yang tepat untuk nge-boost kebahagiaan di rumah. Saya memutuskan beli satu setrika lagi. Dan, di antara keringat yang tercucur ketika menyetrika terjadi dialog-dialog ringan dengan istri.

Ahhh…bahagia ternyata memang sederhana.

Hari-hari di mana istri dan anak uring-uringan karena harus menyetorkan tugas sekolah, di tahun kedua kurikulum korona ini, sudah tak lagi kami rasakan. Saya yakinkan ke istri, bahwa di masa depan anak-anak akan menemukan jalannya sendiri dalam belajar. Bahwa kurikulum ini hanya proses adaptasi saja. Jangan terlalu dipusingkan. Maka kami abaikan semua timeline tugas dari wali kelas dan memutuskan untuk merapel semua tugas di awal pekan.

Ternyata, setelah berlimpahnya waktu untuk bermain tanpa memikirkan tugas dari sekolah, kini anak-anak kami terasa lebih bahagia. Mereka, yang tadinya bermain di sekolah, kini bisa bermain bersama saudaranya dan mendapatkan momen bonding. Mengajarkan bagaimana berbagi dengan saudara menjadi lebih mudah ketika waktu kebersamaannya berlimpah.

Momen tidur malam anak-anak, yang dulu dihiasi dengan suara lantang istri mengingatkan PR dari guru, kini tak perlu lagi. Anak-anak yang sudah capek bermain seharian dengan mudah tidur dan terjadwal. Berkat pandemi dan imbauan #StayAtHome. Hehehe.

Dan saya, yang pada awalnya sempat njeglek karena adanya Work From Home (WFH), kini sudah beradaptasi. Penat dan rasa pusing karena terlalu lama duduk menghadap monitor berenang di ruang virtual, kini sudah tidak lagi banyak menyita perasaan.

Kini, ketika jenuh mengikuti rapat via zoom saya akan lompat ke atas sepeda statis dan memancalnya sampai terasa endorpin meledak-meledak. Sungguh nikmat dan lucu di saat bersamaan. Berkat pandemi, kini saya bisa menghadiri rapat sambil olahraga. Hehehe.

Baca Juga  Protokol MOS Anak di Era New Normal

Dulu, kami kerap menghabiskan akhir pekan dengan bernyanyi bersama di karaoke keluarga. Kini, jika mulai terasa bosan karena seharian ngupyek, kami bisa berkaraoke di rumah. Sepuasnya dan secapeknya. Dan, itu gratis. Tak perlu memikirkan bill harga kentang goreng dan air mineral yang muahalnya na’udzubilah itu.

***

Keluarga kami, dan banyak keluarga lain di luar sana, telah mengubah rumah menjadi episentrum kehidupan selama pandemi ini.

Dulu, rumah adalah tempat untuk beristirahat dari segala rutinitas kehidupan di luar sana. Bagi orang tua, rumah adalah tempat beristirahat setelah seharian kerja di luar. Bagi anak, rumah adalah tempat beristirahat setelah seharian bersekolah dan bermain bersama teman sebaya. Ketika satu keluarga berkumpul di malam hari, maka kepenatan-kepenatan rutinitas tersebut terasa menguap begitu saja.

Tapi kini, rumah telah berubah fungsinya. Ia kini telah menjadi kantor, medan kerja, restoran, tempat rekreasi, wahana bermain, sekolah, pusat olahraga, dan ruang kesenian bagi semua anggota keluarga, sekaligus. Dan keseluruhan pelakunya berkutat di sana seharian, berminggu dan berbulan kemudian. Entah sampai kapan.

Memang setelah bertahun menjalani pola hidup dengan medan-medan yang terpisah seperti itu, memusatkan seluruh rutinitas hidup dalam satu tempat (rumah) sungguh bukan suatu yang mudah untuk dijalani.

Orang kok ga ada empatinya, di luar sana banyak yang ga bisa makan kalau ga keluar rumah, ini malah pamer kebahagiaan di dalam rumah. Ya ya, saya bisa membayangkan muncung Anda sudah pengen menasihati saya tentang empati.

Ketika hidup “dikepung” oleh kenegatifan, kita tidak bisa untuk abai begitu saja. Sekeras apapun Anda mencoba berpaling dan acuh, kenegatifan itu pasti akan terserap dan dengan mudah menjadi pemicu kenegatifan yang baru di dalam hidup.

Baca Juga  Pergerakan Anak Muda dan Perempuan Jelang Pemilu 2024

Dan saya merasa telah cukup menyerap segala kenegatifan itu. Air mata rasanya  susah mengering. Dada yang sesak akibat amarah menyaksikan berita, masih terasa sampai sekarang.

Tetapi, saya merasa tak perlu (lagi) memberikan tempat bagi segala kesedihan dan kenegatifan itu. Setidaknya tidak di rumah dan tidak di depan keluarga saya.

Maka, di tahun ke dua pandemi ini, selain bertahan untuk tetap hidup dengan mengikuti seluruh anjuran pemerintah, saya juga sedang mempertahankan kredo yang sudah saya ugemi sejak awal. Sembari kembali mencari metode yang pas dalam menemukan kebahagiaan-kebahagiaan kecil dalam rangka mempertahankan index of happiness di dalam rumah.

Bagikan
Comments
  • Fairus firdausy

    Uapik tulisan nya mas…

    Masukan, kata² yg di miring kan, kayak “njeglek” “ngupyek”
    “Indeks of happines ”
    Dikasih keterangan atau penjelasan
    Biar pembaca yg dari luar Jawa juga menangkap pesan nya…

    Over all keren mas..rmh jadi sentral segalanya, dan seterika bersama istri boleh juga ide ny, Sy paling males seterika, makanya laundry di luar terus…hahahaha

    Ijin Sy share ya

    Salam

    Agustus 8, 2021
Post a Comment