Memaknai Syukur dari Sudut Pandang yang Lain
Rasa syukur adalah sebuah pengakuan dan keridhaan kepada segala anugrah serta rahmat Allah dengan penuh kerendahan hati. Syukur juga terkadang diartikan sebagai pujian dan pengakuan terhadap nikmat Allah yang dibuktikan dengan kecintaan menerimanya disertai ucapan dan perbuatan yang selaras dengan ucapan tersebut.
Sejak kecil, orang tua atau pun orang-orang di sekitar kita sering kali mengajarkan bagaimana bersyukur dengan melihat orang-orang yang berada di bawah kita. Pola pemikiran ini lah yang melekat hingga saya beranjak dewasa; bahwa kita harus bersyukur atas kehidupan kita yang lebih baik dari orang lain. Kita harus bersyukur karena kita memiliki sesuatu yang orang lain tidak miliki; dalam hal ini mungkin kekayaan, kesehatan, ataupun keluarga yang utuh.
***
Sebenarnya pemikiran sedemikian bukan lah sebuah pemikiran yang salah, karena hal ini memang dianjurkan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadist yang berbunyi:
Bersumber dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallah Alaihi wa Sallam bersabda; “Perhatikanlah orang yang statusnya berada di bawah kalian, dan janganlah kalian memperhatikan orang statusnya berada di atas kalian. Dengan begitu maka kalian tidak akan menganggap kecil nikmat Allah yang kalian terima.”
Ya, dengan cara ini mungkin kita dapat dengan mudah untuk memunculkan rasa syukur dalam diri kita. Karena sejatinya, kita memang sudah di beri berbagai anugrah yang tak ternilai harganya oleh Allah Swt. Dan sudah seharusnya dalam kehidupan kita mengupayakan agar senantiasa bersyukur atas apa yang kita miliki; yang banyak orang tidak memiliki kesempatan untuk memilikinya.
Namun, beberapa hari ini cara saya memaknai rasa syukur mulai tergoyahkan. Ini disebabkan saya membaca dan merenungi sebuah instastory milik seorang penulis buku bernama Aji Nur Afifah dalam media sosial instagramnya @ajinurafifah beberapa hari yang lalu. Mbak Apik begitu beliau akrab disapa, memberikan sebuah inshigt pemikiran baru tentang bagaimana kita dapat memaknai syukur, terlepas dari membanding-bandingkan.
***
Ya, secara tidak langsung, kecenderungan diri kita untuk bersyukur dengan membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan yang dimiliki oleh orang lain membuat kita terkadang kurang berempati terhadap musibah yang menimpa orang lain. Ketika ada orang lain yang terkena musibah sakit misalnya; kita jadi sibuk bersyukur atas kesehatan dalam diri kita, dan jatuhnya lebih denial dan menyakiti perasaan orang lain.
Sehingga, lahirlah cara memaknai rasa syukur dari sudut pandang yang lain, yaitu dengan berfokus pada kecukupan yang diberikan Allah SWT atas diri kita; tanpa perlu membanding-bandingkannnya dengan apa yang tidak orang lain miliki atas diri kita. Rasanya cara memaknainya yang seperti ini levelnya berada di tingkat atas. Ya, ketika kita benar-benar menerima apa yang telah Allah Swt. anugerahkan kepada kita, tanpa pembanding dan membandingkan.
Jadi dalam mensyukuri kehidupan , kita benar-benar sudah dapat dengan legowo menerima apa-apa saja yang sudah Allah takdirkan dan gariskan untuk kita. Seperti yang dianjurkan dalam sebuah hadist:
“Barang siapa yang diberikan suatu pemberian dan merasa cukup atas pemberian tersebut, maka hendaklah dia membalasnya. Dan jika dia tak merasa cukup maka hendaklah dia memuji, sebab sesungguhnya perbuatan memuji itu merupakan tanda syukur dan barang siapa yang hanya diam saja maka sungguh dia telah kufur”. (H.R.Turmudzi)
Ada baiknya lagi, setelah kita dapat mensyukuri kecukupan yang kita miliki; kita lantas mendoakan kebaikan kepada orang-orang statusnya berada di bawah kita. Mendoakan mereka yang terkena musibah, yang nasib kehidupannya tidak seberuntung kita; menyelipkan doa untuk mereka dalam rangkain do’a yang sering kita panjatkan dalam rangkain do’a kita.
***
Pada akhirnya, terlepas dari bagaimana pun cara kita dalam memaknai syukur; kita tetap harus mengingat bahwa rasa syukur adalah bagian penting yang harus senantiasa kita hadirkan dalam menjalani kehidupan di dunia yang fana ini. Dengan senantiasa bersyukur dapat membuat kita dapat menjalani kehidupan dengan lebih lapang; karena kita tahu bahwa apa apa yang kita miliki merupakan anugerah dari Allah Sang Pencipta.
Dengan bersyukur kita bisa mendapatkan pahala yang juga sudah Allah janjikan. Jadi, mau bersyukur dengan membandingkan kehidupan kita dengan orang lain juga boleh-boleh saja, karena itu dapat menjadi pengingat bahwa setiap kita memang memiliki kekurangan maupun kelebihan. Tapi alangkah lebih baik bersyukur dengan menerima apa-apa saja yang ada di hadapan kita. Wallahualambishawab.
Lahir 19 tahun yang lalu dan aat ini sedang menempuh pendidikan S1 di UPN V Yogyakarta. Seorang mahasiswi biasa yang suka menulis dan bercerita. Dapat dihubungi di instagram @cleanqurrota_ ,twitter @QurrotaClean, id line clean2602.

M. Nur
kita kan makhluk sosial. tak mungkin dapat memaknai syukur dengan hanya menerima anugerah Allah, tanpa ada pembanding, tanpa melihat status sosial orang lain.